Twitter X please do your magic!!
Tolong saya ditipu @SuzukiIndonesia
Memutuskan membeli mobil baru dari dealer reami ternyata tidak menjamin kamu kena tipu
Yang mau beli mobil @SuzukiIndonesia mending pertimbangkan ulang lagi daripada kena tipu
Saya sampaikan di SINDO TV bahwa serangkaian erupsi yang terus terjadi merupakan proses alami Gunung Anak Krakatau untuk membangun kembali tubuh gunung api yang hancur pasca-longsoran besar (flank collapse) pada peristiwa Desember 2018 lalu. Potensi Tsunami Sangat Kecil, karena volume fisik dan ketinggian kerucut Anak Krakatau saat ini jauh lebih rendah dan belum terjal seperti kondisi 2018, potensi terjadinya longsoran lereng masif yang memicu tsunami destruktif berada pada tingkat yang sangat kecil. Imbauan Sikap Masyarakat (Masyarakat Tidak Perlu Panik): Masyarakat di wilayah pesisir Selat Sunda hingga wilayah terdampak sebaran abu/getaran akustik untuk tetap tenang dan tidak panik, tetapi tetap mematuhi rekomendasi zona bahaya (radius aman yang ditetapkan PVMBG) serta menggunakan alat pelindung diri seperti masker dari dampak abu vulkanik. Insya Allah kondisi akan normal kembali, kita harus bersabar dengan proses alam ini.
Pengadaan tablet hingga semir sepatu untuk Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) yang nilainya diduga berada di atas harga pasar disebut pengamat menjadi alarm serius bagi tata kelola keuangan negara. https://t.co/DumAVg6faa
Donald Trump is dragging the United States into a war the American people do not want. Let me be clear: I am opposed to a regime-change war in Iran, and our troops are being put in harm’s way for the sake of Trump’s war of choice.
Read my full statement:
@gwebot Tetap semangat,.. hanya kepada Allah tempat kita bersandar..
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" adalah jaminan dari Allah bahwa setiap kesempitan memiliki jalan keluar.
Apa kewenangan & kompetensi Bhabinkamtibmas & Babinsa utk menuduh itu?
Setelah terbukti tuduhannya salah bgmn pertggjwbannya?
Mau tekan Pak Sudradjat agar "Diselesaikan Secara Kekeluargaan"?
Enak banget ya?
Salahgunakan kekuasaan.
Bukannya melindungi malah menyakiti rakyat
@prabowo@ListyoSigitP
Pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto merupakan sebuah pengkhianatan terhadap gerakan reformasi yang telah menumbangkan rezim otoritarianisme yang korup. https://t.co/CekZkRXjin
PERNYATAAN BERSAMA
Atas nama keadilan sejarah dan integritas moral bangsa, kami mempertanyakan keputusan negara yang menobatkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.
Kami tak menolak mengakui jasa yang disumbangkan siapapun terhadap Republik ini — termasuk Soeharto. Tetapi kepahlawanan adalah hal yang jauh lebih besar dan penting dari sekedar menghargai jasa seseorang — siapapun dia.
Menjadikan klaim jasa sebagai dalih untuk menutupi, menyamarkan dan mengaburkan kesalahan atau kejahatan sejarah, sama saja dengan menyuntikan bius amnesia sejarah ke tubuh bangsa.
Bagi kami, Kepahlawanan adalah mekanisme moral kolektif: Cara suatu bangsa untuk mendidik anak-anaknya membedakan benar dari salah dalam sejarah. Memilih mana yang patut dihormati dan mana yang harus menjadi pelajaran.
Ia tidak boleh dikosongkan maknanya menjadi sekadar kemegahan personal, karena sesungguhnya ia adalah kompas moral bagi kehidupan bersama dalam menuju masa depan.
Kami setuju, rekonsiliasi bisa saja berguna untuk menyembuhkan luka-luka bangsa. Tapi bila demikian halnya, kami bertanya: Mengapa negara tidak secara konsekuen juga mengakui peran para tokoh-tokoh kiri Indonesia — mereka para pejuang anti-kolonialisme dan anti-imperialisme yang dihapus dari catatan resmi sejarah kemerdekaan hanya karena perbedaan ideologi?
Kami bertanya: Apakah bangsa ini telah kehilangan keberanian untuk mengakui sejarahnya sendiri? Apakah nilai nilai yang hendak diajarkan kepada anak anak dan cucu kita dari sikap inkonsisten dan mau menang sendiri tersebut?
Bahwa kekuasaan boleh berbuat apa saja sepanjang mendatangkan kemakmuran?
Bahwa kepatuhan pada negara lebih penting daripada kemanusiaan dan solidaritas sosial? Bahwa kebebasan adalah ancaman konstan pada pembangunan ekonomi?
Bahwa korban-korban boleh jatuh dan dilupakan demi stabilitas politik?
Jika itu pelajaran moral yang akan diwariskan kepada generasi muda, maka bangsa kita bukan sedang membangun masa depan, melainkan sedang memperpanjang bayang-bayang masa lalu.
Terhadap kemungkinan itu, kami menyatakan tidak setuju.
Jakarta, 10 November 2025
1. Andi Arief
2. Rachland Nashidik
3. Hery Sebayang
4. Jemmy Setiawan
5. Aam Sapulete
6. Robertus Robet
7. Syahrial Nasution
8. Rocky Gerung
9. Yopie Hidayat
10. Bivitri Susanti
11. Abdullah Rasyid
12. Ulin Yusron
13. Iwan D. Laksono
14. Beathor Suryadi
15. Affan Afandi
16. Zeng Wei Zian
17. Umar Hasibuan
18. Hendardi
19. Syahganda Nainggolan
20. Hardi R Hermawan
21. Denny Indrayana. 22 irwansyah
23. Dst.. dst
𝗞𝗘𝗥𝗔𝗡𝗔 𝗜𝗡𝗜 𝗡𝗘𝗚𝗔𝗥𝗔 𝗦𝗔𝗬𝗔
1. Mereka bertanya kenapa saya masih bergelut
2. Kenapa saya masih berjuang untuk bangsa dan negara.
3. Saya sudah tua, berusia seratus tahun satu abad.
4. Bersaralah
5. Biarlah orang muda mengambil alih tugas.
6. Ya. Saya tua.
7. Tetapi rasa sayang kepada negara tidak pernah luntur.
8. Ini negara saya.
9. Saya dilahir di sini.
10. Saya membesar di sini.
11. Pahit maung dan suka duka pun di sini.
12. Saya Melayu. Ini negara Melayu, negara saya.
13. Tak lupa saya akan orang yang tidak ada negara.
14. Alangkah baik nasib saya mempunyai negara sendiri.
15. Tetapi negara perlu dipelihara dengan baik.
16. Jika tidak akan hilanglah negara saya.
17. Sebab itu selagi ada hayat akan saya sumbang tenaga dan akal fikiran kepada negara dan bangsa.
18. Saya sedar saya sudah tua.
19. Saya ingin bersama yang muda memelihara bangsa.
20. Melindungi negara tercinta.
21. Selepas saya pergi, merekalah yang akan take over.
DR MAHATHIR BIN MOHAMAD
19 Julai 2025
“Kami Tetap Bersama Sayidina Husain”
Malam itu, lentera menyala redup di perkemahan kami. Angin Karbala membawa bisikan maut. Sayyidina Husain berdiri, memadamkan lampu, dan berkata, ““Barang siapa yang ingin pergi, malam ini aku bebaskan. Esok, hanya maut yang menanti.”
Tapi tak satu pun dari kami melangkah mundur. Kami tahu ini bukan pertempuran untuk menang. Ini adalah kesaksian: bahwa di hadapan tirani, kehormatan lebih mahal dari nyawa.
Sayyidina Husain tidak memberontak untuk kekuasaan. Ia menolak membaiat Yazid ibn Muawiyah karena penolakannya pada sistem pewarisan kekuasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ia berkata:
“Aku keluar semata-mata untuk menegakkan perbaikan di tengah umat kakekku (Nabi Muhammad).”
Pagi 10 Muḥarram itu, satu demi satu syahid. Ali al-Akbar—putra kesayangannya—pergi ke medan tempur dengan wajah yang mengingatkan kami pada kakeknya, Rasulullah. Lalu satu per satu, keponakannya, para pemuda dari Bani Hasyim, dan sahabat-sahabat setia—semua syahid dalam kehormatan
Satu momen yang tak akan pernah kulupa: al-Husain berdiri mengangkat bayi kecilnya, ʿAbdullah, memohon setetes air. Musuh tak menjawab dengan belas kasih, tapi dengan anak panah. Bayi itu wafat di pelukannya. Dan aku melihat, untuk sesaat, langit seperti berhenti bernafas.
Kami tinggal segelintir. Dikepung ribuan. Tapi tidak satu pun dari kami mengeluh. Karena di hadapan kami ada lelaki agung, cucu Nabi, yang tak sedikit pun mundur.
Dan saat akhirnya beliau jatuh tersungkur di atas padang debu, tubuhnya penuh luka, kepala suci itu dipenggal oleh tangan yang gelap, langit seperti pecah oleh ratap para malaikat.
Kami, para sahabatnya, telah gugur. Tapi kami ingin kalian tahu: kebenaran itu bukan tentang jumlah, tapi keberanian. Dan darah yang tumpah di Karbala akan terus hidup—di hati yang tak rela membiarkan agama dijual demi tahta.
Jangan biarkan sejarah ini hanya dibaca. Hiduplah dengannya. Karena setiap zaman punya Yazid-nya. Dan setiap hati ditanya: kau bersama siapa?
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عَلَى خُطَى الْحُسَيْنِ، نَصْدُقُ إِذَا كَذَبَ النَّاسُ، وَنَثْبُتُ إِذَا رَجَفَ الزَّمَانُ.
“Ya Allah, tetapkan kami di jalan Ḥusain: jujur saat dunia berdusta, teguh saat zaman gemetar.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Salah Paham Terhadap Ayat “Lakum Dīnukum Wa Liyadīn”
Ayat penutup dari Surat al-Kāfirūn ini sering kali terdengar tegas dan final:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Sekilas ia terdengar seperti garis batas yang kaku. Namun siapa sangka, di balik redaksi singkat dan padat itu, tersimpan samudra kebijaksanaan Qur’ani yang dalam: tentang kemerdekaan hati, kemurnian iman, dan penghormatan terhadap perbedaan yang tidak berarti permusuhan.
Imam al-Ṭabarī dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini bukanlah pengumuman permusuhan, melainkan penegasan prinsip dengan penuh adab. Ketika kaum Quraisy menawarkan kompromi—mari sesekali engkau menyembah tuhan kami, agar kami pun mau menyembah Tuhanmu—Allah menjawab dengan kalimat yang lugas namun elegan: tidak ada negosiasi dalam hal tauhid. Namun lihatlah, penolakan itu disampaikan tanpa makian, tanpa hasutan, tanpa kebencian.
Al-Qurṭubī menyebut ini sebagai bentuk iqrār bi al-ḥāl, yakni pengakuan terbuka bahwa realitas keberagaman dalam keyakinan adalah sesuatu yang nyata dan tak bisa dihapus dengan paksaan. Ia tidak menyuruh memerangi yang berbeda, tapi menegaskan batas: kamu punya jalanmu, dan aku punya jalanku. Dalam bahasa modern: kita bisa berbeda, tanpa saling meniadakan.
Ibn Kathīr menekankan bahwa ayat ini turun bukan dalam suasana konflik, tapi dalam negosiasi yang menggoda: kompromi ringan demi persatuan. Tapi wahyu menegaskan: agama bukan panggung pencitraan. Bukan wilayah tukar-menukar demi tenar atau diterima. Keyakinan adalah komitmen jiwa, bukan strategi sosial.
Sayyid Quṭb dalam Fi Ẓilāl al-Qur’ān memandang ayat ini sebagai deklarasi kebebasan spiritual dan kejelasan identitas. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang Muslim harus berdiri dengan mantap di atas imannya, sembari tetap menebar kasih dalam relasi sosial. Ini bukan ajakan menjauh dari dunia, tapi seruan untuk hadir di dunia dengan jati diri yang utuh.
Namun sayangnya, ayat yang penuh hikmah ini sering disalahpahami. Berikut beberapa bentuk salah kaprah yang cukup sering ditemui:
1. Disangka Seruan Permusuhan
Sebagian orang mengira ayat ini adalah bentuk pengusiran atau permusuhan terhadap non-Muslim. Padahal para mufassir sepakat bahwa ini adalah penolakan terhadap kompromi akidah, bukan penolakan terhadap keberadaan yang berbeda. Ayat ini justru menegaskan bahwa hidup berdampingan bukan berarti harus menyatu dalam keyakinan. Perbedaan itu ada, dan tetap dihormati.
2. Disalahgunakan untuk Melegitimasi Relativisme
Di sisi lain, ada pula yang menyalahgunakan ayat ini untuk membenarkan bahwa semua agama setara dan semua jalan sama benarnya. Padahal sebelumnya, ayat-ayat dalam surat ini menegaskan bahwa tauhid dan syirik adalah dua jalur yang tak bisa dipersatukan. Maka ayat ini bukanlah deklarasi bahwa semua benar, melainkan penegasan bahwa perbedaan itu nyata—dan tetap dihormati, bukan dikaburkan.
3. Dianggap Membatalkan Kewajiban Dakwah
Ada pula yang menyimpulkan bahwa ayat ini adalah akhir dari segala dakwah, seolah Islam hanya perlu membiarkan orang lain dengan agamanya tanpa peduli. Padahal Rasulullah ﷺ tetap berdakwah setelah ayat ini diturunkan. Bahkan lebih lembut, lebih sabar, lebih tulus. Ayat ini bukan akhir dari dakwah, tapi akhir dari ilusi kompromi akidah.
4. Ditarik ke Semua Konteks
Ada yang menggunakannya sebagai pembenaran untuk bersikap pasif dalam hubungan sosial lintas agama. Padahal konteks ayat ini adalah akidah dan ibadah, bukan interaksi sosial. Dalam hal muamalah (perdagangan, tolong-menolong, kerja sama, hidup bertetangga) Islam memerintahkan keadilan dan berbuat baik (ihsan) bahkan kepada yang berbeda iman.
Lanjut ke bawah yah…
BIG BREAKING :
Mass protests errupt across America as citizens take to the streets in outrage after the US launches attack on Iran.
Demonstrators chant in unison : TRUMP MUST GO - No War in Our Name .......!
Hari Tasyrik: Saat Kita Bersenang dengan Tenang
Setelah Idul Adha tibalah kita pada tiga hari yang sering luput dari sorotan: Ayyāmut-Tasyrīq. Hari setelah pengorbanan, ada tiga hari yang dikhususkan untuk kita, untuk bersenang-senang dengan tenang.
Nabi bersabda, “Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim). Bukan hari untuk menahan diri, apalagi berpuasa—melainkan hari untuk merayakan, bukan dalam euforia, tapi dalam kesadaran dan syukur.
Itulah mengapa selama tiga hari ini umat Islam dilarang berpuasa. Ini waktunya bersenang-senang—dengan makanan yang halal, pertemuan yang hangat, dan takbir yang mengalir dari hati yang penuh cinta.
Dalam fiqh, tasyrik adalah pelengkap ibadah haji. Jamaah melempar jumrah, sementara umat Muslim di luar Mina dianjurkan memperbanyak takbir setelah salat. Imam Nawawi menyebutnya “hari-hari lapang”—waktu untuk menyimpan, memasak, dan membagi daging, sembari mengendapkan makna kurban dalam hati.
Para sufi melihat lebih dalam. Bagi mereka, hari-hari ini adalah waktu menjemur luka batin di bawah matahari zikir—seperti daging yang diasapi, bukan untuk dibuang, tapi dijaga agar awet: jadi bekal di musim sulit.
Zikir tasyrik bukan sekadar ucapan; ia adalah kehadiran jiwa. Al-Ghazali menulis, “Zikir sejati adalah mengingat Allah bahkan saat bersama makhluk yang dicintai.” Maka, tetaplah terhubung pada-Nya—bahkan saat tertawa, makan bersama, atau berbagi cerita sederhana.
Di dunia modern yang menuntut kecepatan, tasyrik adalah undangan lembut untuk melambat. Karena tak semua ibadah hadir lewat kecepatan dan ketepatan. Ada juga yang datang melalui pelukan, makan-makan, tawa, dan rasa cukup atas nikmatNya.
Jika kau tanya padaku, sayang, apa makna tasyrik?
Aku akan jawab begini:
Ia adalah waktu untuk mencintai—dengan tenang, dengan sadar, dan dengan mentakbirkan cinta kita dalam setiap helaan napas, seolah tiap “Allāhu Akbar” adalah bisikan rindu yang tak ingin cepat usai.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
"Sjafrie Sjamsoeddin, kini adalah Menteri Pertahanan dan Fadli Zon, Menteri Kebudayaan menyangkal adanya pemerkosaan dalam peristiwa 1998." (Galen Hosea)
https://t.co/Q6DGziulcr
🚨 Eropa Gelap Total
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Hari ini, sejumlah negara Eropa mengalami salah satu blackout dan pemadaman listrik terbesar dalam sejarah modern.
Listrik padam total, aktivitas lumpuh.
Detailnya di thread...↓