reminder, jangan terlalu all in untuk hal hal temporary yg gabisa kamu jamin longevitynya sampe2 kamu malah mengorbankan apa yg lebih longterm in your lifetime.
berlaku untuk semua konteks.
lagi burnout, tapi nemu kalimat ini :
pertolongan Allah sering kali datang dipersimpangan terakhir, dititik yang paling kritis, jadi bertahanlah (Qs. At-Talaq : 3)
musuh terbesar kita tuh emg overthinking n takut ditolak duluan, padahal kuncinya tuh EMBRACE GETTING REJECTED!!! dapet penolakan tu biasa, yg penting udh nyoba drpd penasaran seumur hidup. TURUNIN EGO N JUST APPLY GUYS!!
“saya juga gtau anak saya deket sama penyanyi kpop, hebat banget tuh”
risya muncul risya, jelasin ke bapak u nih. itu deket bukan artinya dia kenal u tapi U BAYAR PULUHAN RATUSAN JT YA ANJIR. naik darah gw denger omongan bapak u, astagfirullahaladzim.
aku lah salah satunya. gak pernah neko-neko, pergaulan bebas? no, 100% anak rumahan. dari kecil sampe kuliah selalu straight As belajar juga sebagai tanggung jawab atas diri sendiri. but i always suffer in silence, karena orang tua ngga ngasih emotional safe space.
disaat aku udah dewasa baru protes kenapa ngga terbuka sama mereka, kenapa suka mengambil keputusan sendiri? well... i've been surviving alone all this time (mentally). dulu bahkan aku pernah mikir, "aku yang paling gak neko-neko gini kok malah jadi yg paling unlovable ya dibanding my siblings?" but it's okay aku udah berdamai dengan hal itu. peluk diri sendiri 🫂
Kebanyakan ini karena mother wounds ya alias ada mother issues. Ibunya yang bermasalah tapi dilimpahin ke anaknya terus emosinya sampe anaknya mikir, "Am I not enough? Am I a good child?"
Akhirnya anaknya harus jadi anak yang baik. Biar disayang ibunya. Beruntung lah kalian kalian disana yang nggak perlu ngemis cinta dari ibu. Karena di luaran sana banyak sekali yang punya mother issues. Obatnya? Nggak ada. Obatnya harus healing selama lamanya. Harus mindful selama lamanya.
Bayangin seumur hidup kalian mikirin "how to be enough?" Karena dari kecil kalian ga pernah disayang dan harus jadi anak baik dulu kalau mau disayang. Dan ini dampaknya luar biasa besar sekali apalagi kalo anaknya nggak sadar sadar bahwa dia punya luka itu selama ini. Endingnya kalau dia punya anak, dia kembali menurunkan trauma generasinya itu tanpa sadar. Tanpa sadar ia jadi ibunya sendiri padahal dulu dia nggak suka diasuh seperti itu. Karena dia nggak sadar, dia nggak tahu apa yang salah dan akhirnya meneruskan itu ke generasi selanjutnya.
Anak kalo sudah diam dan penurut itu siksa batinnya luar biasa besar. Aku adalah anak dengan mother issues itu. Ibuku pun korbannya. Aku kira everythings is gonna be okay pas aku besar nanti. Pas aku bisa cari uang, pas aku bisa kerja sendiri, pas aku pergi dari rumah. But, it's not. I lost my self, i fail my college, just because i still wondering "Am I enough for you?" di pertemananku.
Ada masalah dikit aku bisanya kabur. Aku tutup rapat rapat aksesnya untuk temenku nanya karena aku nggak mau keliatan sakit, gagal. Pas aku balik kuliah temenku udah gamau temenan and it's hurt me so bad. Aku terlalu peka sama orang, every movement akan aku analisis karena aku terbiasa harus membaca situasi dan mood ibuku di rumah. Jadinya aku banyak overthinking dan milih langsung pergi saat lihat temenku badmood, nolak ajakanku, atau tone bicaranya berubah. Karena aku ngerasa it's my fault padahal ya namanya orang ada malesnya, ada badmoodnya dan itu wajar kan.
Aku selalu takut ditolak. Selalu mikirin what if karena terbiasa harus sempurna. Jadi gagal sedikit, ada kesalahan sedikit, i will blame my self for a whole life.
Pertama kali aku ke psikolog itu karena ada masalah ospek. Aku bilang aku takut banget, tremor, sesak napas. Aku juga ada riwayat di bully pas sd. Tau ga apa yang pertama kali psikologku tanya? "Mbak anak ke berapa di rumah? Sering dimarahin ya di rumah?" Padahal aku lagi bahas ospek dan ga bilang sama sekali tentang keluargaku.
Family matters. Polanya selalu ada dari keluarga. Tapi untungnya aku ke psikolog saat itu. Sesuai dugaan ada anxiety atau kecemasan berlebih. Tahun ini nambah besar ada yang diagnosisnya mixed anxiety and depresive disorder dan agoraphobia.
Semua itu asalnya dari satu sumber. Terpaksa jadi "good child" pas kecil. Aku akhir akhir ini mulai mempelajari what's wrong with me dan I really really recommend to read buku "Family Constallation" by Meilisa Sutanto. Karena di buku itu di jelasin tentang trauma keluarga yang menurun. Dari buku itu aku juga belajar bahwa it's not my fault. It's not my only fault.
Kalau lo lagi apply kerja, coba manfaatin trik sederhana ini di LinkedIn.
Masuk ke kolom search, terus ketik keyword yang sesuai sama posisi yang lo incer.
Misalnya:
"hiring" + "Digital Marketing"
"looking for" + "copywriter"
"need a" + "video editor"
Abis itu, pindah ke tab Posts supaya yang tampil cuma postingan.
Terus ubah filternya ke Latest dan Past 24 hours.
Kenapa?
Karena lo jadi bisa nemuin postingan fresh dari orang-orang yang memang lagi buka lowongan. Peluang buat dilihat juga biasanya lebih besar dibanding postingan yang udah berhari-hari.
Kalau nemu yang relevan, jangan cuma dibaca. Follow orang atau brand-nya, connect, terus kirim DM.
Gw sebenarnya udah pernah share tips ini beberapa waktu lalu. Tapi gw share lagi karena siapa tau ada yang belum sempat lihat.
Semoga ngebantu, dan semoga cepet dapet kerja yaa
as someone who lives in pandeglang ini adalah betul, gue spill kelakuan bejat keluarga ini
1. pas pemilu kmrn, semua pns + kepala daerah hrs coblos keluarga mereka, kl di daerah itu mereka ga menang, kepala daerahnya bakal dimutasi ke daerah jauh kyk sumur/ujung kulon
lanjut -
AFFIRMATION 🛎️
semua uang yang keluar dari dompet atau rekening ku akan kembali kepadaku membawa teman temannya, rezeki ku mengalir deras dari segala arah tanpa batas 🌷💸💰💗