ada tulisan cantik bgt, kira-kira isinya begini:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..”
Tetangga yang Kerja di Dapur MBG, Gajinya Jauh Lebih Gede dari Guru.
Jujur, waktu baca tweet soal ini, aku sempet diam agak lama.
Pekerja dapur MBG di Tasik, gajinya 5 juta per bulan. Aku nggak nyalahin dia. Mungkin rezekinya memang bagus.
Tapi aku jadi kepikiran guru honorer yang ngajarin adik aku. Yang tiap pagi masuk kelas, nulis di papan tulis, ngoreksi PR, bikin rancangan pembelajaran, bikin soal, dengerin curhatan murid, cuma pulang dengan gaji 300 ribu sebulan.
Tiga. Ratus. Ribu.
Wakil Ketua Komisi X DPR aja sampai bilang angka itu "tidak manusiawi di era sekarang." Dan data lebih keras lagi: survei IDEAS dan Dompet Dhuafa menemukan 74,3% guru honorer masih digaji di bawah 2 juta per bulan, bahkan 20,5% dari mereka cuma dapat di bawah 500 ribu.
Sementara program MBG terus dijalankan dengan anggaran raksasa. Program ini menyerap hingga Rp 335 triliun dari APBN 2026, diambil dari jatah anggaran pendidikan yang sebelumnya Rp 757,8 triliun.
Mari kita duduk sebentar, pikirin sama-sama.
Kalau kamu masih sekolah atau punya adik yang sekolah, siapa yang lebih penting buat masa depan kamu: makanan siang di kantin, atau guru yang tiap hari masuk kelas dan beneran ngajar?
Dua-duanya penting, iya. Tapi kalau kamu harus milih mana yang duluan diselamatin, kamu pilih mana?
Pemerintah udah milih, sayangnya pilihannya bukan guru.
Ada guru honorer yang harus jualan gorengan sepulang sekolah demi nutupin kebutuhan hidup.
Orang yang tiap hari berdiri di depan kelas, nyiapin materi, ngorbanin waktu, tapi pulang ke rumah harus cari tambahan karena gajinya nggak cukup buat makan.
Kalau kondisinya kayak gini terus, siapa yang mau jadi guru? Orang-orang pintar bakal kabur ke profesi lain. Dan kita yang rugi. Pendidikan yang rugi. Bangsa yang rugi.
Tapi masalahnya belum selesai sampai di situ.
Karena ternyata, MBG yang katanya untuk anak-anak ini pun belum beres dengan urusan dasarnya: makanannya.
Ya, memenuhi bare minimum saja mereka tidak mampu.
Sejak awal 2025 hingga April 2026, setidaknya 33.626 pelajar tercatat mengalami keracunan dari program MBG, tersebar di 31 provinsi, berdasarkan catatan medis puskesmas dan RSUD. Dan ini bukan kejadian sekali dua kali. Guru Besar Teknologi Pangan UGM mencatat kejadian keracunan dalam program MBG hampir terjadi setiap bulan sepanjang 2025.
Kenapa bisa keracunan terus? Banyak laporan menyebutkan makanan yang dikirim ke sekolah sering sudah tidak segar karena disiapkan jauh sebelum jam makan, sehingga bakteri punya cukup waktu untuk berkembang.
Anak-anak dikasih makan, tapi makannya bikin mereka masuk puskesmas. Ini program bergizi atau program beracun?
Dan sekarang, coba kita lihat ke mana uang pajak orang tua kita pergi.
Dari total anggaran BGN 2025, belanja kendaraan menjadi pos terbesar, mencapai Rp 1,39 triliun, dengan sekitar Rp 1,2 triliun di antaranya khusus untuk pengadaan sepeda motor listrik. Motornya buat apa? Kata pemerintah untuk operasional. Tapi seluruh unit dilaporkan masih numpuk di gudang dan belum terdistribusi ke satu pun dapur MBG.
Belum cukup. Di anggaran yang sama, BGN juga mengalokasikan Rp 6,9 miliar untuk pengadaan kaos kaki. Ironisnya, pos anggaran untuk makanan itu sendiri justru paling kecil, hanya Rp 242,8 miliar. Kaos kaki yang dibeli pun tidak bermerek, belum ber-SNI, tapi dihargai Rp 100.000 per pasang.
Dan yang ini bikin aku nyaris nggak percaya: BGN menghabiskan Rp 113,9 miliar untuk menyewa jasa event organizer sepanjang 2025, dalam 31 paket pengadaan. Salah satunya untuk acara Fun Run Hari Antikorupsi Sedunia, dengan biaya EO Rp 1,339 miliar.
Acara lari antikorupsi, dibayar pakai uang rakyat, lebih dari satu miliar rupiah.
Aku nggak tau harus ketawa atau nangis.
Kita sedang menyaksikan kehancuran negeri tepat di depan mata kita.
Karena, saat fondasi pendidikan kita rapuh akibat guru yang nggak sejahtera, mau sekenyangnya anak makan siang pun, mereka tetap nggak akan bisa tumbuh jadi generasi yang kita harapkan.
Indonesia itu butuh kesadaran kolektif di masyarakatnya.
Jangan asal milih pemimpin, dr tingkat bawah sampai pusat.
Sayangnya, dikasih sembako aja udah pada seneng, padahal sengsaranya 5 tahun. 😞
Menurut keyakinan saya. sebentar lagi kita akan menjadi saksi 98 jilid 2. Tapi, mungkin akan lebih panjang dan penuh drama.
Kita akan dibenturkan dulu dengan ormas dan pekerja/pelaku di ekosistem MBG karena pemerintah sudah “menjinakkan” mereka semua. Andai menang, kita baru akan berhadapan dengan polisi dan militer.
Jika kita masih menang, kita baru bisa menghadapi RI1.
Tapi beliau sudah di Yordania.
Kenapa sih traits negatif kita di keadaan survival dan sulit selalu dibilang 'sifat asli'? How could our stress response supposed to define us as a whole person?
Dr gia said:
"Emosi amarah yang menggebu-gebu (burst of emotion) itu cuma bertahan 90 detik, so take ur 90 seconds to take a deep breath and istighfar biar bisa merespond dengan emosi yg midful".
“walaupun mulutnya jahat tapi hatinya baik”
But in Islam : “apa yang keluar dari mulut itu cerminan hatinya”
Simple words can have a big impact. Mind your words.
fun fact: aku gak ingat kehidupanku di 2025, yang aku ingat cuma beberapa hal sedih aja. alasan aku bisa loss memory: karena aku kebanyakan suppress emosi
jadi guys, kalau mau sehat, kalau lagi mau nangis nangisin aja, mau teriak teriakin aja. loss memory rasanya engga enak
W pernah ngetik di WA sayangnya gada arsip dah intinya tuh menurut w
"Orang-orang militer akan selalu membenci kelompok akademik karena pendidikan mengarahkan mu pada kebebasan dan perlawanan. Sedangkan mereka menyukai kepatuhan dan tunduk pada kekuasan"
Apalagi yang lebih gelap dari ekonomi Indonesia?
Jawabannya adalah pendidikan Indonesia.
Secercah fajar pun belum kelihatan, masih gelap gulita.
Dari dulu emang gak bagus2 amat juga sih. Tapi sejak pandemi dengan belajar online, terus kena kurikulum merdeka, kok bukannya membaik malah tambah gelap.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Dan jangan lupa, guru dan dosen itu buruh loh.
(ini bener2 double blow buat Ki Hajar Dewantara. Sudah Internationale yang terjemahkan dibuat joget, keesokan harinya ide pendidikan beliau juga dikhianati)