Grand Slam The Championships, Wimbledon 2026
R64 - Women’s Singles
Janice Tjen 🇮🇩
Lost to
Daria Kasatkina 🇦🇺
7-6(5), 1-6, 4-6
Janice’s impressive Wimbledon singles run comes to an end after falling to the 2018 Wimbledon quarterfinalist.
A memorable tournament for the Indonesian, who earned her first-ever Wimbledon victory and reached the second round.
Come back stronger, Janice! 🇮🇩❤️
Her Wimbledon campaign isn’t over yet, as she will compete in the women’s doubles alongside fellow Indonesian Aldila Sutjiadi.
Good luck in doubles, Janice! 💪🎾🇮🇩
Korea Selatan 🇰🇷 0 - 3 🇮🇩 Indonesia
32 - 34, 16 - 25, 23 - 25
INDONESIA CHAMPIONS!!!
INDONESIA MENJADI JUARA AVC CUP UNTUK PERTAMA KALINYA DALAM SEJARAH!
TERIMA KASIH GARUDA!!!
#AVCCup2026
Korea Selatan 🇰🇷 0 - 3 🇮🇩 Indonesia
32 - 34, 16 - 25, 23 - 25
INDONESIA CHAMPIONS!!!
INDONESIA MENJADI JUARA AVC CUP UNTUK PERTAMA KALINYA DALAM SEJARAH!
TERIMA KASIH GARUDA!!!
#AVCCup2026
Sektor paling dianak tirikan @INABadminton. Putri, Dhinda, Thalita, Mutiara, Kavitha, Salsabila, Chiara dan Dalila pergi hiking bareng pelatih fisik mereka. Jolin dan Mayla ketinggalan momen lagi karena lagi berjibaku di #AsiaJuniorChampionships2026#BadmintonIndonesia
Suatu sore, Joni Sugio dan Susy Tjandra duduk di sofa ruang tamu bersama putra mereka, Nikolaus Joaquin. Susy mengatakan, "Jo, kita kasih batas waktu ya. Sampai kamu kelas 3 SMA. Kalau sampai lulus SMA tidak masuk (klub besar), kita kuliah."
Kesabaran tampaknya sudah mendekati habis. Joaquin sudah SMA, tetapi masa depan bulu tangkisnya masih sangat gelap. Penolakan demi penolakan datang beruntun dan menyakitkan.
PB Djarum total menolaknya tiga kali.
PB Jaya Raya menolaknya sekali.
Mutiara Cardinal Bandung menolaknya sekali walaupun dalam simulasi tiga hari dia tidak pernah kalah.
Lima penolakan. Bagi sebagian besar anak di Indonesia, lima penolakan dari klub-klub besar adalah tanda yang jelas untuk berhenti bermain bulu tangkis dan mulai memikirkan ujian masuk universitas. Apalagi alasan penolakan2 itu sama: tubuh Joaquin terlalu kecil.
Namun Joaquin merasa bahwa belum saatnya menyerah. Dengan keyakinan tinggi, dia memandang ibunya dan berkata, "Maju terus, Ma. Masih mau lanjut.''
Mengingat masa-masa beratnya waktu itu, Joaquin mengatakan bahwa keyakinan itu bukan semata datang karena kekuatan dirinya sendiri.
Tulisan panjang saya tentang perjalanan karier sangat berat yang dilalui Nikolaus Joaquin.
https://t.co/shRQgUXQ0e
Kenapa banyak yang kecewa Jonatan kalah di Indonesia Open padahal katanya berharap pergantian generasi dan gak lagi mengandalkan Jonatan Christie?
Jadi begini...
Jonatan Christie saat ini berstatus independen, tapi belum sampai pada fase seperti Ahsan/Hendra yang sering diiringi komentar: "sekarang yang penting masih bisa menikmati Ahsan/Hendra main, gak terlalu nekan dan berharap mereka juara".
Belum. Belum.
Jonatan belum sampai fase itu. Jonatan baru 29 tahun di 2026.
Dibilang muda, ya sudah tidak muda.
Tapi dibilang tua, ya belum tua.
Usia Jonatan saat ini justru masuk usia matang. Terdiri dari akumulasi banyak pengalaman dan kondisi fisik yang belum melamban.
Belum lagi berbicara soal kondisi tubuh. Jonatan masih bisa dibilang bugar tak terkendala cedera serius yang bisa mengganggu penampilan di lapangan.
Belum lagi bicara lawan-lawan yang ada. Tak ada lagi Viktor Axelsen berdiri di seberang lapangan.
Shi Yuqi, Kunlavut Vitidsarn, hingga Christo Popov masih tergolong lawan yang setara untuk Jonatan. Tidak seperti Axelsen yang benar-benar superior atas Jonatan sejak era pandemi.
Karena itu tidak salah bila masih ada yang berharap tinggi pada Jonatan Christie.
Mungkin bila Olimpiade 2032 masih terlalu lama, banyak yang berharap setidaknya Jonatan bisa punya medali Kejuaraan Dunia.
Soal regenerasi, gua percaya bahwa regenerasi terbaik adalah regenerasi yang diperjuangkan.
Bukan regenerasi yang diwariskan begitu saja atau regenerasi yang terjadi karena tidak ada siapa-siapa lagi.
Karena itu gua pun tetap berharap Jonatan tetap bersaing dalam Race to Olympics, menghadapi Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, dan tunggal lainnya.
Sehingga nantinya, dua pemain yang terpilih masuk Olimpiade adalah pemain yang sudah melalui seleksi ketat,baik dari eksternal maupun internal.
Berkaitan dengan Indonesia Open, Jonatan Christie benar-benar antiklimaks. Dia kalah dan bahkan terlihat tertekan.
Hal ini jelas terasa mengecewakan karena Istora seharusnya jadi taman bermain yang menyenangkan untuk dirinya.
Ini sebenarnya sudah dibahas berkali-kali dengan subjek yang berbeda.
Hendra Setiawan dianggap contoh yang tepat untuk bagaimana pebulutangkis beraksi di lapangan.
Kalem, tenang, ekspresi susah dibaca lawan, tapi mematikan.
Tapi Tapi Tapi...
Gak semua pemain bisa kayak Hendra Setiawan.
Bukan dalam artian membahas skill Hendra ya tapi dalam kaitan soal pendekatan terhadap pertandingan.
Ada pemain yang bisa keluarkan 100 persen kalo dia lepas semua emosinya, teriak, bersorak, bahkan selebrasi kapan pun.
Tapi ada juga pemain yang pendekatannya kalem. Dia akan lebih fokus bila bersikap tenang dan bahkan jadi pendiam sebelum atau saat pertandingan.
Jadi soal itu, ya semua balik lagi ke hasil akhir.
Misal menang, selebrasi salto muter-muter kayak Nani di Manchester United juga gak bakal banyak yang mempermasalahkan.
Sebaliknya, kalo ada pemain yang gayanya kayak Hendra Setiawan, tapi hasilnya gak kayak Hendra yang sering juara dan dapat gelar besar, pasti tetap ada kritikan dan sebutan bahwa si pemain itu kurang semangat dll.