🚨 LIVERMORE CALLED THIS CYCLE 100 YEARS AGO
Livermore made $100M shorting the 1929 crash.
The market looks strongest right before it turns.
Stage 1-3:
- Expansion
- Breakout momentum
- Retail rushes in late
Stage 4-5:
- Price keeps climbing
- Strength fades
- Big players distribute into euphoria ()
Now we are around stage 6.
Tops form in confidence.
The trap works because it feels safe.
Turn notifications on. Most people will follow me too late.
Memilih pasangan yang rajin belajar bakalan mempengaruhi cara berpikir dan kemampuan otak kita loh.
Makanya kalo kerjaannya males belajar, lebih suka rebahan dan scroll tiktok, baru belajar dikit udah ngeluh, ya terima aja kamu ada resiko penurunan fungsi kognitif 😆
Sangkuter emas tahun 2011 perlu 9 tahun buat balik modal, setelah terkoreksi dulu 45%.
Sangkuter emas tahun 1980 perlu 28 tahun buat balik modal, setelah terkoreksi dulu 70%.
Semoga $5.608/oz atau Rp3.168.000/gram kemarin bukan titik ATHnya 😬
GOLD 1979 vs 2026
Same pattern repeating
1979: Iran war -> oil price 2x -> crysis and dump
2026: Iran war -> oil price 2x -> (we are here)
Notifs on before I call when dump starts
Setiap pengen nyoba hal baru, kalimat yg selalu aku inget adalah:
"Pada percobaan pertama, ga usah takut gagal, karena lu pasti gagal."
Kenapa percobaan pertama disebut pasti gagal?
Karena kita baru memulai, belum ada ilmu, belum ada pengalaman, dan itu memang fase yg harus dilalui.
Kita harus menyadari bahwa kegagalan dalam mencoba itu bukan aib, tapi salah satu tangga pertama yg harus dilewati agar kita berhasil.
Kalau kita selalu menghindari tangga pertama, bagaimana bisa mencapai tangga kedua hingga tangga puncak?
Either you win or you learn, ga ada yg namanya kegagalan sebenarnya.
Egomu, pikiranmu, nggak mau kamu tau soal fakta ini.
Kamu penasaran gak sih, pikiran itu asalnya dari mana? Apakah pikiran itu asalnya dari ego? Gimana sih hubungan pikiran dengan ego?
Atau saya aja yang terlalu overthinking soal ini 😂
Sebenarnya pikiran itu asalnya bukan dari ego.
Kalo ego itu asalnya justru dari pikiran yang kita percaya, terus kita jadiin sebagai identitas kita.
Contoh pikiran: “Aku selalu gagal.”
Pikiran itu ya cuma pikiran, muncul lenyap, selesai. Tapi kalo kamu genggam, kamu percaya, kamu jadiin identitas: “Aku adalah orang yang gagal.” Maka itu jadi ego.
Kalo pikiran positif, apakah itu juga bisa jadi ego? Bisa.
Karena intinya bukan negatif atau positifnya, tapi identifikasimu sama pikiranmu. Kamu genggam percaya pikiran itu, negatif atau positif, terus kamu jadiin sebagai identitasmu.
Contoh pikiran positif:
“Aku selalu sukses,
aku selalu terbuka menerima keberlimpahan,
tingkat kesadaranku lebih tinggi daripada orang pada umumnya,
aku udah berdamai sama diriku sendiri,
aku udah spiritual awakening,
dan sebagainya…
bahkan aku udah melepas egoku…”
Pikiran itu ya cuma pikiran, muncul lenyap, selesai. Tapi kalo kamu genggam, kamu percaya, kamu jadiin identitas, maka diam-diam kamu merasa lebih tinggi. Itu juga jadi ego.
That’s the ego’s last trick.
Dan banyak yang jatuh di sini.
Jadi pikiran itu ya sebenarnya cuma kalimat yang lewat. Ego lahir kalo kalimat itu kamu genggam erat, terus kamu jadiin sebagai identitasmu.
Lalu pikiran itu asalnya dari mana?
Sebagian besar dari masa lalu, dari lingkungan, dari budaya, dari omongan orang tuamu yang kamu dengar waktu kecil.
Contoh: Orang tuamu ngomong ke kamu, “Kamu kok nggak bisa kayak kakakmu?” “Kamu itu memang ceroboh.”
Sekarang, apalagi saat kamu dikit aja bikin salah, langsung muncul pikiran: “Aku memang ceroboh, aku memang bodoh.”
Padahal ya itu pikiran, bukan dirimu.
Tapi kenapa pikiran sering terasa beneran nyata?
Karena kamu nggak sadar, kamu mengidentifikasi dirimu dengan pikiran: “Aku adalah pikiran.”
Perlu sadar bahwa tahap awal penyelidikan diri (self inquiry) adalah proses “neti neti”, dalam filsafat Hindu, maksudnya: “Aku bukan ini, aku juga bukan itu, aku bukan pikiran, aku bukan perasaan, apapun yang aku kira aku bukanlah aku.”
Perlu sadar hakikat diri kita, our true nature, infinite being adalah kesadaran yang menyadari semua pikiran yang muncul.
Ketika pikiran muncul, negatif maupun positif, kamu sadar: “Oh ini pikiran, ini bukan diriku.”
Dan kesadaran ini memulihkan. Ruang hening di mana pikiran muncul dan pergi.
Sang penyaksi, langit kesadaran yang sekadar menyaksikan, menyadari awan-awan pikiran.
Langit enggak terganggu oleh awan gelap. Langit enggak menjadi lebih hebat karena awan putih.
Dengan kesadaran itu, kita enggak lagi menggenggam pikiran, enggak lagi jadiin pikiran sebagai identitas, enggak lagi terjebak dalam ego.
1 Habit yang bisa bantu ngubah hidupmu:
Luangin waktu walau sejenak, pause … tarik napas, sadari napas, dalam hati bilang, “Di sini” … embuskan napas, sadari napas, dalam hati bilang, “Kini” …
Meski sederhana, “di sini kini” tapi ampuh ngingetin menjangkarkan diri di present moment, nggak hanyut ingatan masa lalu, nggak terseret bayangan masa depan.
Di tengah hidup adu cepet, lebih ngegas lagi, justru habit yang perlu dilatih itu habit pause. Izinkan dirimu untuk istirahat, untuk pulih.
@AdjieSanPutro Setuju banget. Kebaikan dan ketulusan yang murni itu biasanya sunyi, bukan yang selalu dipamerkan untuk meninggikan diri. Tetap membumi memang tantangan di tengah era oversharing ini. Makasih Mas sudah narik kita kembali ke tanah. 😊🌿
Tanpa kesadaran, sehingga jadi oversharing menceritakan dirinya, serba “aku, aku dan aku”, sering menempatkan “aku” sebagai tokoh utama, sebagai pusat… sepertinya percaya diri ya, self love vibes, tapi jadinya malah meninggikan diri sendiri, self aggrandizing. Tetaplah membumi, jangan melangit.