YA ALLAH, I WISH KETERIMA DI TEMPAT KERJA YANG GREENFLAG DALAM WAKTU DEKAT, JAM KERJA 9-5, CUTI GA DIPERSULIT, SABTU MINGGU LIBUR, GAJI GEDE, KERJAAN SESUAI PASSION, DEKET RUMAH, DAN DAPET ATASAN DAN REKAN YANG BAIK, AAMIIINN....
Wargaaaa plis hibur aku. 😭
Aku punya adik perempuan, 33 tahun, belum menikah. Merantau ke luar pulau, kerjaannya oke. Bisa KPR rumah di sana, bisa bantu cover kebutuhan keluarga juga di kampung, terus renov rumah orang tua dikit-dikit sampai sekarang udah alhamdulillah.
Dia renov nggak alakadarnya yang cuma asal kokoh. Bener-bener semaksimal mungkin dia pengen bagusin. Tiap ada duit dikit, ada aja yang dia benerin.
Walau dari kecil sering berantem, jauh di dalam lubuk hatiku sayang banget sama dia.
Hari ini ada salah satu kerabat yang lama nggak ketemu, tiba-tiba WA ke aku. Setelah basa-basi ngobrol sana-sini, dia telepon nanyain adikku.
Katanya kenapa belum menikah, keburu tua, nanti susah punya anak, masa nggak punya pacar, bilangin jangan pilih-pilih, bla bla bla.
Gong-nya di akhir dia bilang, mau nggak misalnya dikenalin sama temennya yang baru keluar penjara, kasusnya ringan kok, cuma penganiayaan.
CUMA DIA BILANG.
Sakit banget hatiku.
Walau nggak terang-terangan, tapi aku merasa dia merendahkan bukan cuma adikku, tapi juga aku, mamaku, keluargaku.
Kenapa enteng banget dia ngomong kayak gitu?
Akhirnya aku cuma jawab:
“Semoga nanti dia ketemu jodoh yang baik, yang sholeh, yang sayang, yang kaya raya dan dermawan, supaya abis nikah hidupnya nggak susah.
Lagipula kayak maut, jodoh juga rahasia mutlak Allah.
Lagipula, aku emang bilang sama dia jangan asal pilih suami hanya karena tuntutan lingkungan. Kamu berhak memilih...
...suami yang baik, yang bisa bikin kamu bahagia.”
Kenapa orang lain bisa segampang itu mulutnya ngomong?
Aku aja kakaknya, nggak pernah sekalipun nanya-nanya, nggak pernah belagak mengasihani.
Walau tiap habis sholat selalu diem-diem aku tangisin adikku itu sambil, “Ya Allah, Ya Allah... semoga Allah berkenan ngasih dia jodoh yang baik segalanya, yang bisa bahagiain dia.”
Btw, ini orang udah nikah, tapi segala sesuatunya masih ngerepotin emaknya.
Dan aku yakin, adikku pernah nolongin dia.
Udah berjam-jam berlalu, tapi masih sakit hati banget.
Dan aku nggak mau cerita ke siapapun karena takut ada yang aduin ke adikku. Kalaupun dia dengar, dia nggak akan marah, tapi pasti hatinya sedih pol.
Asli aku sedih, beneran sedih yang nyesek banget. 😭
Tapi satu hal yang aku tahu:
Adikku nggak kurang hanya karena dia belum menikah di usia 33 tahun.
Dia sudah berjuang, sudah mandiri, sudah membantu keluarga, dan sudah membahagiakan orang tua dengan caranya sendiri.
Kalau memang jodohnya belum datang, ya bukan berarti dia harus menerima sembarang orang hanya demi membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Semoga suatu hari nanti dia dipertemukan dengan laki-laki yang benar-benar baik, yang melihat nilai dirinya, menghargai perjuangannya, menyayanginya, dan membuatnya merasa bahwa penantian selama ini memang layak.
Menurut kalian, kenapa masih banyak orang yang merasa berhak menentukan standar hidup dan jodoh orang lain?
Aku pribadi kalo sampe unfollow, block dan stop komunikasi sama seseorang itu karena aku kecewa sampe hilang respect. Aku beneran gamau tau tentang orang itu lagi dan orang itu gaboleh tau tentang aku dan aku juga gamau dilihat sama orang itu lagi apapun bentuknya. Bahkan sebisa mungkin aku menghindari tempat yang ada dianya, aku benar-benar gabisa baik-baik sama orang yang udah buat aku sakit hati, aku gabisa bohongin diri sendiri kalo emang aku beneran ga nyaman. Ngecut off orang demi menjaga kesehatan mental itu penting.
Wargaaa, aku dapet offering kerjaa 😭 Gajinya 2x lipat, bahkan 3x lipat dari gaji aku sekarang. Bonusnya juga bejibun.
Terus aku baru masuk Senin, dia bilang, “Kalau kamu butuh buku catatan dan alat tulis, minta ke GA ya.”
“Mobilitas kamu pakai apa? Kalau ojol nanti direimburse aja.”
Kebanyakan ini karena mother wounds ya alias ada mother issues. Ibunya yang bermasalah tapi dilimpahin ke anaknya terus emosinya sampe anaknya mikir, "Am I not enough? Am I a good child?"
Akhirnya anaknya harus jadi anak yang baik. Biar disayang ibunya. Beruntung lah kalian kalian disana yang nggak perlu ngemis cinta dari ibu. Karena di luaran sana banyak sekali yang punya mother issues. Obatnya? Nggak ada. Obatnya harus healing selama lamanya. Harus mindful selama lamanya.
Bayangin seumur hidup kalian mikirin "how to be enough?" Karena dari kecil kalian ga pernah disayang dan harus jadi anak baik dulu kalau mau disayang. Dan ini dampaknya luar biasa besar sekali apalagi kalo anaknya nggak sadar sadar bahwa dia punya luka itu selama ini. Endingnya kalau dia punya anak, dia kembali menurunkan trauma generasinya itu tanpa sadar. Tanpa sadar ia jadi ibunya sendiri padahal dulu dia nggak suka diasuh seperti itu. Karena dia nggak sadar, dia nggak tahu apa yang salah dan akhirnya meneruskan itu ke generasi selanjutnya.
Anak kalo sudah diam dan penurut itu siksa batinnya luar biasa besar. Aku adalah anak dengan mother issues itu. Ibuku pun korbannya. Aku kira everythings is gonna be okay pas aku besar nanti. Pas aku bisa cari uang, pas aku bisa kerja sendiri, pas aku pergi dari rumah. But, it's not. I lost my self, i fail my college, just because i still wondering "Am I enough for you?" di pertemananku.
Ada masalah dikit aku bisanya kabur. Aku tutup rapat rapat aksesnya untuk temenku nanya karena aku nggak mau keliatan sakit, gagal. Pas aku balik kuliah temenku udah gamau temenan and it's hurt me so bad. Aku terlalu peka sama orang, every movement akan aku analisis karena aku terbiasa harus membaca situasi dan mood ibuku di rumah. Jadinya aku banyak overthinking dan milih langsung pergi saat lihat temenku badmood, nolak ajakanku, atau tone bicaranya berubah. Karena aku ngerasa it's my fault padahal ya namanya orang ada malesnya, ada badmoodnya dan itu wajar kan.
Aku selalu takut ditolak. Selalu mikirin what if karena terbiasa harus sempurna. Jadi gagal sedikit, ada kesalahan sedikit, i will blame my self for a whole life.
Pertama kali aku ke psikolog itu karena ada masalah ospek. Aku bilang aku takut banget, tremor, sesak napas. Aku juga ada riwayat di bully pas sd. Tau ga apa yang pertama kali psikologku tanya? "Mbak anak ke berapa di rumah? Sering dimarahin ya di rumah?" Padahal aku lagi bahas ospek dan ga bilang sama sekali tentang keluargaku.
Family matters. Polanya selalu ada dari keluarga. Tapi untungnya aku ke psikolog saat itu. Sesuai dugaan ada anxiety atau kecemasan berlebih. Tahun ini nambah besar ada yang diagnosisnya mixed anxiety and depresive disorder dan agoraphobia.
Semua itu asalnya dari satu sumber. Terpaksa jadi "good child" pas kecil. Aku akhir akhir ini mulai mempelajari what's wrong with me dan I really really recommend to read buku "Family Constallation" by Meilisa Sutanto. Karena di buku itu di jelasin tentang trauma keluarga yang menurun. Dari buku itu aku juga belajar bahwa it's not my fault. It's not my only fault.
@bibabercerita Rasa amannya ga dapet krn dari awal tertanam bahwa cinta orangtua itu conditional, bahwa kita baru layak disayang kalo nurut dan jadi "anak baik". Tapi seringkali standar "anak baik" itu terus berubah sampai mendekati sempurna, yang mana mustahil dicapai. Gue suka bgt komik ini
Trauma says:
“You’re worthless without performance.”
but...
Tawheed says:
“And He created you and fashioned you, and perfected your forms.”
— Surah Ghafir [40:64]
Semalam kumpul di rumah si M. Beberapa temen juga bawa pasangan masing-masing.
Aku lagi pakai lip cream, terus si M nyeletuk, "Merah banget tuh bibir, kayak mau ngelenong."
Aku diem aja, males nanggepin.
Eh, dia lanjut lagi.
"Tapi cocok sama lo, Ti. Cerah di muka. Lah bini gue mah, mau pakai lipstik merah, pink, kuning, ijo, tetep aja bibirnya biru kayak blau."
Dia langsung ngakak, diikutin beberapa temen cowok lainnya.
Aku nengok ke istrinya. Dia ikut senyum, tapi matanya kayak mau nangis.
Dan ini bukan pertama kalinya dia becandain istrinya di depan orang.
Karena udah nggak tahan, akhirnya aku bilang,
"Fix, bini lo itu mukjizat buat lo. Tapi lo musibah buat dia. Untung aja dia nggak lempar asbak ke muka lo denger bacotan suaminya sendiri."
Langsung diem.
Buatku, dia bikin tiga kesalahan sekaligus.
Pertama, ngebandingin istrinya sama perempuan lain.
Kedua, ngejelekin istrinya di depan banyak orang.
Ketiga, ngerendahin harga dirinya sendiri sebagai suami.
Buat para suami, jangan biasain ngeledek atau ngerendahin istri sendiri di depan orang lain, bahkan kalau niatnya bercanda.
Sebelum jadi istri kalian, dia juga putri yang dibesarkan dan disayang orang tuanya. Kalau sekarang kalian ngerasa istri udah nggak menarik, mungkin yang perlu dibenerin bukan istrinya, tapi cara pandang, hati, dan sikap kalian.
Bertahun tahun lalu pernah dpt relationship advice dari org yg masih aku inget sampai sekarang: "kenapa cari cowo baik2, carinya tuh yg baik sama kamu".
It's like a switched flipped in my brain. Bener jg ya. Kalau baik2 doang tp ga baik buat kita buat apa. So many men imagenya baik di masyarakat tapi ke pasangan sendiri kyk setan.
In case you weren't raised correctly, it is a man's job to set the tone in a relationship, Whether people want to admit it or not, woman feeds off his energy.. his consistency, his intentions, his presence. She takes what he gives and reflects it. When a man leads with clarity, love, and respect, it creates a space where a woman can feel safe, soft, and secure. Vice versa, when he leads with confusion, mixed signals, and inconsistency, it forces her to operate in survival mode. She becomes guarded, unsure, and emotionally exhausted.
Baru paham di umur 30+.
Psikologku pernah bilang, selama kita masih terus terpapar stresor yang sama, proses pemulihan memang bisa menjadi lebih sulit.
Lalu aku membaca firman Allah:
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik."
(QS. Al-Muzzammil: 10)
Single to single:
Menikahlah dengan orang yang paham konsep keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
- Sakinah: Bikin kamu tenang saat pulang. Ada damai, saling menghargai, terbuka, dan jujur.
- Mawaddah: Bawaannya pengen bareng terus. Ada rasa sayang tulus yg bikin harmonis.
- Warahmah: Punya empati. Saling menjaga dan menguatkan.
Kalo kata gue sih, warahmah nih yg paling menantang 🙏🏻
Micro cheating yang sering dianggap sepele:
1. Physical touch sama lawan jenis dengan alasan, "emang udah biasa."
2. Sengaja menghilangkan notifikasi chat dari orang tertentu.
3. Mengantar pulang lawan jenis, tapi sengaja gak cerita ke pasangan.
4. Sering nge-stalk lawan jenis karena "cuma penasaran".
5. Bercanda kelewat batas sama lawan jenis dengan alasan, "cuman bercanda".
Apa lagi?
Tahun 2005, ada studi psikologi yang konsepnya simpel tapi agak bajingan
Peneliti ngumpulin banyak orang, terus disuruh milih 1 dari 2 foto orang yang menurut mereka paling menarik
Pokoknya di suruh pilih yang paling sesuai selera: