@elflowah ⠀⠀⠀⠀”apa ia mengusikmu?” Semakin penasaran pula, sebab akhir-akhir ini ia juga memiliki penggemar berkelakuan aneh. Seperti obses lebih tepatnya.
Netra itu menatap sang lawan tutur dengan serius, berharap diberi jawaban yang membuatnya puas.
@herbittergrace Ia hanya melihat, menelisik sosok yang membantunya tentu saja. Aamon tak mungkin meninggalkan begitu saja, “aku tidak mengerti tentang kucing.”
Karena ia tinggal di kastil dan selalu serba ada, bahkan ia tidak tahu jika Kucing bisa kesakitan seperti itu.
Sambil menyesap kopi yang baru saja ia pesan tadi, netra ia menatap seorang gadis yang kali ini menjadi lawan bicara.
“Aku penasaran, apa kau pernah memiliki semacam penggemar misterius?” Mengingat tentu banyak khalayak yang mengenal si gadis.
@elflowah)
bingung alasan kenapa Gusion memilih pergi meninggalkan Aberleen juga dirinya. Bukankah harusnya dia tahu jika betapa sang Duke sangat menyayanginya?
Apa Gusion tidak tahu betapa ia merindukan adik kecilnya itu?
@H0LYBLADE)
ㅤㅤ Mungkin karena ia adalah salah satu keamanan di Los Pecados, wajar. Itu langsung ia jawab dengan gelengan halus.
“Tidak usah, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Lalu tubuh tegap itu berlalu pergi meninggalkan sosok pria itu sendiri. Bukan ia bermaksud sombong.
acara tersebut diselenggarakan jauh setelah kepergian si pemilik belati. “Aku tidak perduli, bukan mereka yang aku inginkan.” Kata ia sedikit menekankan kalimat yang keluar dari ranum.
⠀⠀⠀⠀”Aku butuh penjelasanmu, Gusion.” Ada hela nafas terdengar, Aamon benar-benar—
jika ia harus bersujud ia sudah tak perduli lagi.
“Kita harus bicara.” Rahang pria itu mengeras, ia yakin jika Gusion juga masih memiliki setidaknya perasaan yang sama. “Jangan begini, kumohon.”
@H0LYBLADE)
@H0LYBLADE ⠀⠀⠀⠀ “Tidak mau.” Memang benar, nyatanya genggaman itu tak terlepas justru semakin ia eratkan. Persetan dengan harga dirinya, Aamon takkan mau kehilangan Gusion lagi.
Raut wajah ia pun terlihat sendu seolah berkata bahwa ia butuh satu kesempatan lagi. Bahkan rasanya—
gelengan dari Aamon.
“Tidak, aku akan langsung pulang.” Tanpa ritual perpisahan seperti pasangan lain; cium tangan, ciuman, pelukan. Sulung Paxley berbalik, dan berlalu pergi.
Bukankah mengecewakan? Tapi Anne begitu sabar, wanita itu melambaikan tangan. “Hati-hati!”
END)
Terlihat Anne juga dengan rona di wajah, jelas sekali bahwa ia sangat bahagia malam ini. Ia masih memakan ice cream cone yang tadi Aamon beli untuknya.
“Terimakasih, Duke Paxley.” Katanya sedikit meledek, “Tidak mau mampir dulu?” Lanjut Anne kemudian langsung dijawab—