Saya coba kasih perspektif linguistik.
Kata normalisasi (dari bahasa Inggris normalization, atau bahasa Latin normalis) secara semantik bermakna ‘proses menjadikan sesuatu yang tidak normal menjadi normal’ .
Artinya, entitas yang ingin “dinormalisasi” itu secara implisit diklaim sebagai sesuatu yang tidak normal, aneh, atau menyimpang sebelumnya.
Ada cerita tentang seorang anak yang telah berjuang melawan status dan batasan, dimana ia sempat berhasil membuktikan semuanya, sebelum akhirnya realita yang kembali memakannya.
Di balik kemeriahan pesta di paddock McLaren tadi malam, ada pengorbanan sunyi yang dilakukan oleh Oscar Piastri.
Sepanjang musim ia sempat memimpin klasemen cukup lama. Dijagokan. Dielu-elukan. Ia bertekad mengacak-acak strategi siapapun yang mengancamnya, baik itu Max Verstappen ataupun Lando Norris sekalipun.
Mungkin, tanpa ambisinya, gelar pertama Lando hanya angan-angan.
Namun kini ialah yang harus berangan-angan saat mengangkat piala P2 di podium Yas Marina.
Maksimal sudah usaha yang ia berikan, tapi mungkin ia bertanya-tanya:
Apakah Dewi Fortuna belum ada di sisinya? Apakah ia cukup banyak melakukan kesalahan? Apakah ia tidak begitu didukung timnya?
Atau, apakah ia memang belum layak jadi juara dunia?
Yang jelas, posisi P3 klasemen tahun ini adalah kasbon yang telah ia lunasi untuk timnya. Paid in cash.
Tahun depan, bisa saja darah dingin yang dielu-elukan media akan muncul di dalam dirinya. Ia sudah tahu cara menjadi juara dunia, even from the smallest hint of it.
Oscar sudah memegang peta menuju puncak, dan singa muda ini tidak akan lagi sudi sekadar jadi bayang-bayang.
Nikmati pestanya, Lando. Karena musim depan, Oscar bisa datang untuk mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya.
Smile and wave now, Oscar. You know how to hunt next time.