LAKON FIKSI.แ Maka izinkan sอaอyอaอ menjadi ๐บ๐จ๐ต๐ฎ ๐ท๐ฌ๐ด๐จ๐ต๐ฎ๐บ๐จ jua, agar sอeอpอiอ tak lagi hอaอmอpอaอ bagi ๐จ๐ต๐ซ๐จ.
...Saya hanya...
(Dirinya yang lebih tua harus mampu mengatasi segalanya sendiri. Dari mana pemikiran semacam itu, ia tak ingin tahu. Tertunduk malu, iapun meringis pelan.)
...Tidak ingin... jadi beban.
Iya. Tapi pak Gavin selalu saja..
/Berjuang sendirian; tidak pernah ingin merepotkanku, Alvaro menambahkan dalam hati. Tanpa sadar meremas jemari yang lain, namun 'tak sampai melukainya/
Aku mau kita berbagi, pak. Suka maupun duka.
Alvaro.
(Hanya satu nama yang akan iasebut untuk memperingatkan yang lebih muda. Tak ada jawaban; ia tahu yang manapun hanya akan membuat dirinya semakin digoda.)
Dalam pekerjaan ada beberapa ranah yang tetap harus kamu lakukan sendiri, kan?
..Mau lagi, nggak?
/Kembali menggoda yang lain dengan sebuah pertanyaan menjebak. Diapun tampak santai, ketika jari telunjuknya ditahan oleh Gavin/
Masih lama, pak. Lagipula aku sudah punya bapak yang bisa diandalkan.
@kelabumala Kehabisan kata-kata untuk sesaat. Sebab ia lupa telah membesarkan seorang pangeran yang manja, perangai yang berakar dari didikannya itu telah berbalik pada Gavin sendiri.
"Tidak ada orang yang meleleh karena panas, Alvaro. AC mobil akan saya pasang yang paling kencang..."
@kelabumala "Saya tidak bisa tidak ngambek kalau menghadapi kamu."
Ingin mulut menyebut 'anak kecil', pada pemuda yang dipanggilnya kekasih ini. Yang tahu cara untuk meluluhkannya lewat sebuah dekap nyaman. Kedua kaki lurus ke depan, iapun menghela napas.
"Rasanya percuma saya deg-degan."
@kelabumala Mengernyit manakala tak didapatinya sesuai keinginan, sementara tubuh sudah terlanjur condong ke depan; ia merengut di balik tangan itu. Sebuah bentuk protes,
"...Mana ada yang janji untuk bertemu lagi di neraka... Apa tidak ada yang lebih bagus? Kehidupan selanjutnya atau apa."
@kelabumala "Mellow sekali..."
Ia tak mengetahui secara pasti, namun ia tidak menolak kedekatan ini. Sesuatu yang jauh lebih intim dibandingkan kedua tubuh yang bersentuhan. Lama dipandanginya pemandangan di bawah sana, seolah juga tak ingin mengakhiri.
"Ayo sarapan. Saya lapar."