ᅠ
berbeda dari kotengu sebelumnya, kali ini tidak ada teka-teki. ritsu hanya perlu berdiri di hadapannya.
lalu pandangannya berubah. yang ia lihat bukan lagi perjalanan yang sedang dilaluinya, melainkan berbagai kemungkinan yang mungkin menunggunya di masa depan.
ᅠ
ᅠ
ritsu merapikan kembali tas di bahunya, lalu melangkah maju. perjalanan dari kanazawa ternyata jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan. tapi setidaknya, ia sudah sampai.
ᅠ
ᅠ
“gema.” kotengu tertawa kecil dan menyingkir dari jalan. ritsu menghela nafas pelan. setidaknya bagian itu selesai.
para shinnyusei pun menaiki tangga dengan tertib. namun, di depan gerbang mahoutokoro, seorang daitengu sudah menunggu mereka.
ᅠ
ᅠ
benar lagi.
“kau pernah mendengarku sebelumnya, dan kemudian lagi. setelah itu, aku mati, sampai kau memanggilku lagi. apakah aku?” teka-teki terakhir membuatnya diam beberapa saat. ia mengulang pertanyaannya dalam kepala sebelum akhirnya menemukan jawabannya.
ᅠ
ᅠ
jawabannya diterima. untuk teka-teki kedua, ritsu membutuhkan waktu sedikit lebih lama. “aku seringan bulu, tetapi orang terkuat pun tak sanggup menahanku selama lima menit. apakah aku?” begitu pertanyaannya.
“nafas.”
ᅠ
ᅠ
teka-teki pertama cukup mudah. “aku mengikutimu setiap saat, mengikuti setiap gerakanmu, tapi kamu tidak bisa menyentuh atau menangkapku. apakah aku?”
ritsu menatap sejenak ke arah tanah sebelum menjawab, “bayangan.”
ᅠ
ᅠ
belum terlalu jauh mereka berjalan ketika seekor kotengu menghadang rombongan. ia memberikan tiga teka-teki sebelum mengizinkan mereka lewat. ritsu mendengarkan satu per satu.
ᅠ
ᅠ
di sana, mereka disambut oleh dentō sebelum melanjutkan perjalanan menuju mahoutokoro. tangga yang terbentang di hadapan mereka cukup panjang. ritsu sempat menatap ke atas. “...jauh juga.” jelas, tidak ada pilihan selain mulai menaikinya.
ᅠ
ᅠ
lima jam berikutnya mereka habiskan di atas lautan. ketika ryuu no hashira akhirnya membawa mereka menuju minami iwo jima, ritsu kembali berdiri di dekat jendela. gerbang langit sudah terlihat dari kejauhan ketika mereka tiba.
ᅠ
ᅠ
ada taman, air mancur, lorong-lorong yang menyerupai bagian dalam istana, dan berbagai ornamen yang membuat ritsu tanpa sadar melihat ke segala arah. ia akhirnya memilih tempat untuk duduk dan membiarkan perjalanan berlangsung.
ᅠ
ᅠ
ritsu hanya bisa diam beberapa saat, memperhatikan kendaraan tersebut sebelum akhirnya mengikuti shinnyusei lain untuk menaikinya. begitu masuk, ia kembali dibuat heran. bagian dalamnya jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
ᅠ
ᅠ
anak itu mendongak, melihat ryuu no hashira muncul dari balik kabut. ia pernah mendengar penjelasan tentang pilar naga itu, tetapi tidak ada penjelasan yang benar-benar bisa menggambarkan ukurannya ketika dilihat langsung.
ᅠ
ᅠ
setelah pembersihan selesai, rombongan kembali bergerak menuju bagian tateyama yang lebih tinggi. udara semakin dingin ketika mereka mendaki. ritsu beberapa kali harus memperbaiki posisi tasnya dan berhenti sebentar untuk menarik nafas.
ᅠ
ᅠ
ritsu berdiri agak menjauh dari rombongan sambil memandang ke arah langit. ia tidak tahu berapa lama mereka akan berada di sana. yang jelas, tempat itu cukup sunyi sampai suara langkah kaki pun terdengar jelas. lalu terdengar suara kepakan sayap.
ᅠ
ᅠ
pemandangan di sekitar mereka semakin sepi. tidak banyak lagi yang bisa dilihat selain pepohonan, bebatuan, dan kabut yang sesekali lewat di antara jalur pendakian. mereka akhirnya sampai di tengu no ishi. di sana, para shinnyusei diminta menunggu.
ᅠ