MERAYAKAN PORORO DARI RUMANIA
Kadang memang angka itu bukan suatu yang eksak di sepakbola, dan seringnya perjalanan hidup seorang pelatih tidak butuh barcode untuk dihargai.
Semalam, Giuseppe Meazza menjadi saksi.
Seorang pelatih yang sebelum datang ke timnya sekarang, yang jumlah matchnya (sebagai pelatih) di liga teratas masih jauh lebih sedikit dibanding total jari kaki dan jari tangan, membawa klub bernama Inter Milan meraih scudetto ke-21.
Ragu karena pengalaman minim? Jelas. Trauma? Jelas masih ada. Sudah ada di bayang-bayang para fans dan penikmat liga italia, bahwa jangan-jangan tim ini akan kembali ke masa di mana Freddy Guarin menjadi pelaku utama langkanya burung-burung beterbangan di area Milan.
Dijadiin lalapan oleh tim kota Paris plus ditinggal pelatih hebat yang money oriented tapi gamau ngaku, membuat semua berpikir:
Apa cycle Inter sudah habis? Digantinya juga sama yang belum pengalaman? Pesimis ya udah pasti.
Kompetitor makin serius. Transfer Napoli ngeri-ngeri. Milan mendatangkan the master of the dark arts. Hasil di awal musim pun seakan mencerminkan, ini pelatih sanggup ga ya? Apakah pelatih baru ini just another pelatih Penjas?
Dia tidak datang sebagai revolusioner sok jenius. Dia tidak mengubah semuanya. Dia pun (terbukti) masih naif saat laga big match. Tapi dia doang pelatih tersedia yang โPAHAMโ Inter Milan.
Masuk awal tahun, momentumnya terasa pas:
Inter makin stabil di liga.
Dibikin fokus ke liga sama tim bernama Bodo.
Menang pun jadi kebiasaan.
Rival makin ga jelas.
Yang penting apa? Yak yang penting konsisten.
โInter juara karena rivalnya pada jelek di musim iniโ, ya terserah.
Berarti Inter lebih baik dong? Berarti Inter memang siap juara dengan jadi yang paling konsisten di atas dong?
Sepak bola kadang sesederhana itu, imajinasi dan demand penonton yang bikin jadi njelimet.
Simple saja. Yang paling mengerti klub, yang paling tahan tekanan, yang paling konsisten. Ya dialah yang angkat trofi.
Badai cedera, pilar utama jadi kambing hitam kegagalan Italia ke piala dunia, drama perwasitan, dan kerikil kerikil lain jadi bumbu penyedap di petualangan musim ini.
Ini bukan cuma tentang Inter yang juara.
Ini tentang satu orang yang datang tanpa banyak suara, dipandang sebelah mata, lalu pulang dengan menjawab doa.
Akhir kata
Selamat menikmati gelar ke-21, Inter Milan. Tambahan satu gelar lagi untuk melengkapi 20 (atau 19) gelar yang sudah terpatri di histori.
Dan yang terpenting
Selamat atas gelarnya Mr. Cristian โPororoโ Chivu.
Silahkan sibuk merayakan, karena yang sibuk menjelaskan itu urusan wong kalahan.
.
.
.
Saya Daniel Johns, pamit undur diri.
Efek patah hati musim lalu beneran masih sulit di hilangkan.
Total 4 gelar hilang di tangan, bahkan harus menunggu sampe akhir untuk membuat hati semakin tersayat.
Musim ini juga sempat ragu, di tangan pelatih non Italia, perjalanannya begitu terjal.
Tersingkir UCL juga jadi pil pahit lagi.
Namun, di tangan Chivu, moment magis itu berhasil di dapatkan, ritme dan konsistensi berhasil di jaga.
Dan alhasil gelar bisa didapatkan dalam genggaman.
Sekali lagi selamat scudetto.
Untuk tetangganya? Selamat senin.