sore itu, seiring matahari yang pelan-pelan terbenam, cahaya keemasan menyelinap masuk dari balik tirai yang tak tertutup rapat bersama hangat yang mulai memenuhi diriku kala rengkuhnya semakin erat dan ciuman yang semakin dalam.
aku melirik pada tangan yang menyelinap ke sisi kepala, menangkup wajahku dengan telapaknya yang hangat, sementara usapan lembut di pipi menarik kembali tatapanku pada tetsuya, dengan hangat napasnya yang menyambutku sebelum sebuah kecupan manis mendarat di bibirku.
“𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘩𝘪𝘯𝘰𝘮𝘪𝘺𝘢.”
aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keluarga seperti itu… "bisa kau deskripsikan 𝘣𝘢𝘶 itu?"
“𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘳𝘰𝘮𝘢 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯.”
𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘬𝘶𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘩𝘪𝘯𝘰𝘮𝘪𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘶, 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯.”
"tunggu, aku tidak bisa melakukan itu, ini pertama kalinya aku mendengar ini…"