Bismillahirrahmanirrahim.. semoga kelak kita segera diberi rezeki untuk berangkat ibadah umrah & haji secepatnya, tahun depan, atau 2 tahun yg akan datang. Menabung sudah pasti, semampunya, tp untuk yg lebih bisa secepatnya dilaksanakan, mampukan hamba untuk melaksanakan ibadah--
Lagi berdiri di kereta, sama sekali nggak minta duduk dan anteng aja berdiri melihat pemandangan lewat jendela.
3 ibu-ibu kasak-kusuk di depanku sambil buang muka. Aku nggak ngeh, ya diem aja.
Tiba-tiba salah satu nyeletuk, “Mba hamil?”
Aku jawab, “Enggak, Bu.”
Terus salah satu dari mereka turun dan tempatnya yang kosong ditempatin ibu-ibu lainnya.
Ibu yang baru itu nyolek aku, “Mbanya cacat, apa?”
Aku baru ngeh di tas aku ada tag disabilitas. 😆
Aku jawab, “Saya disabilitas mental, Bu. Tapi saya sudah minum obat, aman.”
Si ibu nyeletuk, “Cacat mental dia.”
Beberapa orang jadi ngelihat ke arah aku.
“Padahal cacat mental nggak usah pakai kartu gitu, kita jadi bingung. Kecuali kakinya atau tangannya nggak ada.”
Aku cuma senyum, nggak menanggapi. Maklum, nggak semua orang paham.
Kemudian ibu satu lagi kepo, “Mba kok bisa dapat kartu itu? Mba-nya kenal orang KAI?”
Aku jawab, “Enggak, Bu. Ini bisa daftar di stasiun mana aja, tapi pengambilannya di stasiun besar.”
Ibu kepo lagi, “Tapi kan mentalnya yang kena, bukan kakinya?”
Aku mulai hela napas. Okey... 😭
“Saya izin menjelaskan ya, Bu. Saya pakai kartu ini bukan untuk biar dikasih duduk. Ini saya pakai kalau saya lagi kambuh di luar, supaya petugas keamanan paham harus bawa saya ke mana, harus ngapain, dan harus berbuat apa.
Tapi kalau ada yang kasih saya duduk, ya Alhamdulillah. Saya nggak perlu menahan rasa sakit kepala saya.”
Ibunya ngangguk-ngangguk, mungkin mulai paham. Yang lainnya juga nyimak.
Aku udah kayak lagi bikin kuliah pagi. 😭
“Mba sakit apa?” kata si bapak yang berdiri.
“Saya bipolar disorder.”
Ibu pertama tadi kaget, “Mba-nya ODGJ gitu?”
Aku ketawa, “ODMK, Bu. Orang dengan gangguan mental. Belum sampai jiwa sih, semoga enggak.”
“Ohhh...” hampir bersamaan dua ibu itu bereaksi.
Terus mereka bisik-bisik, “Tapi sakit begitu ngamuk-ngamuk gitu, nggak?”
Aku nyengir lagi, “Bisa jadi, Bu. Tapi saya kan kontrol psikiater, jadi aman.”
Mereka berdua angguk-angguk lagi.
Berhubung sudah sampai Stasiun Angke, aku izin bye-bye.
Sekian cerita pagi ini. 😭
P.S. Istilah sebenarnya ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan), bukan ODGM. 🤣 Ya ampun, maaf ya, Bu... semoga Ibu nggak googling. 😭😭
Menurut kalian, masih banyak nggak sih orang yang belum paham kalau disabilitas itu nggak selalu kelihatan secara fisik?
Jadi tolong.. kalau gak bisa ngasih/gak mau/kesel cukup diam saja. Jangan nyakitin. Kalau mereka mencuri juga mereka gak punya akal guys.. yaudah ikhlasin, atau kitanya lebih waspada supaya gak dicuri ikan/lauknya
Setuju banget. Ga hanya kucing, tapi kucing ini hewan liar tersering dan mudah digapai sama kita. Maksudnya apa? Kayak burung, mwreka liar tp sulit figapai, kalau kita ga suka kita ga akan nendang/sulit buat ngelukai mereka.
kalau ketemu cuking dijalan, kalau gabisa bantu at least jangan ditendang ya guys cukingnya. mereka kalo laper gabisa ngomong, cuma planga plongo, gabisa bilang kalo lagi sakit juga ☹️
@txtharihariWNI Kak, trust your feeling. Been there tapi gak sampai chattingan ktnya, tapi aku tau rasa curiganya kentel bener. Saran aku, kalau kamu mau bertahan ya obrolin dulu, tapi jangan kasih kesempatan ke 3. Langsung cabut.
@SosmedAnu Yang bilang jangan nanya gaji suami karna itu harga diri laki-laki. Lu lupa apa kalo cewe udah jadi istri, harga diri suami ya istri.
Jangan normalisasikan mindset kolot patriaki lu kalo lu masih waras.
@sarahnatasyah_ Tinggalin kak, dari banyak sisi positif dia trs km nanya gt di sini tuh kamu nyari validasi supaya kamu gapapa nolak dia? Kalau ga suka tinggalin. He showed you his positive sides dan kebalikannya. Trs kamu masih nanya? Kalo gasuka mending tinggalin anjay