โ ๏ธTrigger warning.
Ketika bicara tentang mengakhiri hidup, sebagian orang hanya fokus pada alasan kenapa orang tersebut memilih tindakan itu. Apa yang terjadi dan membebaninya?
Sebagian orang malah sibuk menghakimi, atau mungkin sibuk menasehati.
Tapi, kadang orang lupa atau bahkan belum paham bahwa ada pihak-pihak yang juga perlu diperhatikan setelah kejadian ini. Mereka, yang ditinggalkan.
Pada salah satu episode drama daily dose of sunshine, dikisahkan ada salah satu pasien yang baru saja diperbolehkan pulang namun ternyata malah mengakhiri hidup setelahnya. Di episode yang sama, ada kisah seorang yang mengalami delusi karena mengalami multiple grief. ditinggalkan anaknya, dan istrinya yang berduka juga mengakhiri hidup.
Setiap satu orang yang mengakhiri hidup akan memberi dampak pada 5-10 orang terdekatnya. Bisa saja pasangannya, bisa saja mantannya, bisa saja sahabatnya, orang tua dan keluarganya, dan bisa juga orang-orang lain yang mengenalnya dan terkejut karenanya. Mereka berpotensi mengalami suicide loss.
Apa saja yang dirasakan suicide loss survivor?
Apa yang membedakannya dengan penduka biasa?
Berduka karena berbagai alasan pun sudah menjadi kejadian yang sulit, tapi ada keunikan sendiri bagi pengalaman suicide loss survivor.
Mereka tentu saja terkejut, karena suicide adalah tindakan yang tak terduga. Sehari sebelumnya atau beberapa jam lalu masih berbincang, masih melihat orang tersebut baik-baik saja, namun kemudian dalam kurun waktu singkat ternyata orang tersebut tiada.
Mati rasa, penyangkalan, rasa tidak percaya, dan mempertanyakan kenapa bisa jadi perasaan yang terus dirasakan orang-orang yang ditinggalkan ini.
Pengalaman traumatis bisa lebih terasa jika ia menjadi orang yang pertama menemukan pelaku tindakan tersebut dalam kondisi yang kurang nyaman dilihat.
Belum lagi rasa bersalah yang menghantui. Jika mereka merasa seharusnya bisa mencegah tindakan tersebut. Merasa seharusnya bisa lebih peduli, dan lebih berperan. Merasa ikut bertanggungjawab.
Sebagai keluarga, beban kembali terasa ketika orang di sekitar malah mencemooh tindakan tersebut. Menghakimi dan sibuk menasehati. Entah dengan nada yang lebih halus atau terdengar sangat judgemental. Jika di posisi seperti ini, sulit bagi penduka mencari support system yang aman untuk memahami dukanya.
Terakhir, mereka yang menemukan jasadnya, menjadi orang terdekat atau keluarganya, mungkin akan terus dimintai keterangan dari pihak berwajib dan mau tak mau akan menghadapi fase yang melelahkan ini.
Diperlukan suicide postvention atau penanganan pasca kehilangan bunuh diri untuk para suicide loss survivor ini. dikutip dari artikel @IntoTheLightID, setidaknya ada tiga kelompok populasi yang layak mendapatkan penanganan ini, yaitu:
-Penyintas kehilangan bunuh diri, yang mencakup orang terdekat, sahabat, dan keluarga.
-Saksi mata, orang yang pertama datang ke TKP, terapis dan psikolog yang juga rentan mengalami PTSD pasca kejadian.
-Termasuk juga kelompok rentan yang bisa terpapar berita-berita semacam ini.
Suicide Postvention diharapkan mampu untuk:
-Memfasilitasi pemulihan mereka yang terdampak
-Mengurangi efek negatif dari paparan media
-Mencegah dorongan untuk melakukan copycat suicide (melakukan tindakan peniruan).
Upaya ini bisa dilakukan dengan bantuan dari:
-Peer group counseling untuk memberi tempat aman bagi penduka untuk berbagi.
-Support system dari orang terdekat, terutama yang masih cukup kuat secara mental.
-Pihak media yang perlu memberitakan informasi dengan lebih empati.