Saat itu saya lupa, entah kelas 2 apa 3 ya pas film Armageddon rilis. Film yang dibintangi Bruce Willis, Liv Tyler, Ben Affleck sama Billy Bob Thornton. Film yang bercerita tentang sekumpulan orang yang jago drill, bermaksud menghancurkan meteor besar supaya enggak nubruk bumi.
Di film ini juga lagu lama milik John Denver yang hits di akhir 60's dinyanyikan ulang oleh penyanyi cewek bernama Chantal Kreviazuk, dan menjadi global hits sejalan dengan kesuksesan filmnya.
Saya inget nonton film ini di BIP, deh, di 21. Tapi saya lupa kegiatan ini setelah apa sebelum jidat saya dipukul baton wkwkwkwkw.
Chantal Kreviazuk - Leaving on a Jet Plane
Psikologku bilang, otak yang terus-menerus dalam mode waspada akan kehilangan kemampuannya untuk merasakan kebahagiaan kecil.
Mungkin itulah kenapa hal-hal yang dulu menyenangkan, sekarang terasa hambar dan tidak ada rasanya.
Kadang, langkah pertamanya bukan memaksa diri untuk bahagia. Melainkan memberi izin pada diri sendiri untuk tidak selalu waspada. Memberi ruang bagi keheningan tanpa curiga. Memberi kesempatan pada hal-hal kecil untuk kembali terasa meski pelan, meski samar, meski belum sempurna.
Karena kebahagiaan kecil itu tidak benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu sampai otakmu cukup aman untuk merasakannya lagi.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa kosong meski hidupnya terlihat baik-baik saja. Mereka tidak sedih secara mendalam, tapi juga tidak bahagia. Hanya datar. Hambar. Seperti rasa yang hilang dari lidah setelah terlalu lama memakan makanan yang sama.
Tapi yang perlu diingat: ini bukan hukuman, dan bukan pula tanda bahwa kau rusak. Ini hanya sinyal bahwa sistem kewaspadaanmu sudah bekerja terlalu keras dalam waktu yang terlalu lama. Dan seperti otot yang kaku, ia butuh waktu, butuh keamanan, butuh kelembutan yang konsisten agar perlahan bisa rileks kembali.
Otak yang terlalu lama hidup dalam kewaspadaan tinggi seolah lupa cara untuk beristirahat. Ia terus memindai bahaya, mengantisipasi luka, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Bahkan ketika keadaan sudah aman, tubuh dan pikiran tetap dalam posisi siaga. Seperti alarm yang tidak pernah dimatikan, terus berdering pelan di latar belakang.
Dan akibatnya, kemampuan untuk merasakan yang kecil perlahan mengikis.
Kopi pagi yang dulu terasa hangat, kini hanya cairan pahit yang dilalui tanpa rasa. Lagu favorit yang dulu bisa membuat senyum sendiri, sekarang hanya suara yang lewat tanpa meninggalkan jejak. Tawa teman, angin sore, cahaya matahari di jendela, semua itu masih ada, tapi seolah terhalang kaca tebal. Terlihat, tapi tidak lagi terasa.
Bukan karena dunia menjadi lebih buruk. Bukan karena kebahagiaan itu hilang. Melainkan karena sistem di dalam diri sudah terlalu lelah untuk menangkapnya. Otak yang terbiasa mencari ancaman kesulitan mengenali kelembutan. Ia lebih peka terhadap rasa sakit daripada rasa lega. Lebih cepat menangkap tanda bahaya daripada tanda kedamaian.
Boomer itu selalu menuntut anak2nya menomorsatukan orang tua, sodara kandung, sodara orang tua, sepupu, teman2 orang tua. Tapi tidak pernah menomorsatukan anak sendiri.
@tahilalats Dulu temen smp saya pernah di tanya sama guru biologi.
Bu guru : bunga kembang sepatu apanya yg di tanem
Murid: sepatunya bu..
Langsung di lempar kampur
Kenapa ya video KEREN gini ga bisa di komen, repost, atau share to story?
Padahal semua orang harus tau ada simulator berkuda tercanggih se-Indonesia. Huft
https://t.co/gQDvapkY3M