[CURHAT KECEWA]
Gw jd flashback kejadian Feb 2016 (bukan ke gw), pas film DEADPOOL kluar.
Kejadian di salahsatu XXI mall gede jaksel.
Ada bocah ngerengek di ticket counter ama ortu & mbaknya. Kebetulan utk show & studio yg sama. Gegara ortunya ribut ama ticket officer yg melarang anaknya utk nonton karena rating 18+.
Si bapak ini bentak2 karena si anak makin ngerengek.
"INI FILM JAGOAN LOH. MARVEL LOH!! MASA ANAK KECIL GA BOLEH NONTON WAH GOBLOK LO MBAK".
Ya... gw inget word-by-word.
Anjing emang.
Tapi si mbak ticket officer tetep kalem pegang prinsip; kalau film harus dipilih ratingnya sesuai umur penonton..
I respect her ๐ซก.
Seperti ga ada solusi,
akhirnya managernya (kayaknya) ikut nyamperin, dan entah gimana akhirnya si ortu dan anak ini dikasih tiket nonton soalnya si bokapnya teriak "NAH GITU DONG KERJA YANG BENER ELAH". Si mbak ticket officer keliatan kek nahan nangis & ditenangin si manager ini sambil bilang "ngga apa2, good job, bukan salah lu".
Fast forward,
pas ada 1 adegan dewasa lewat, si 3 orang ini (kebetulan beberapa row depan gw) panik & nyeret anaknya keluar ngerengek.
"Ga layak tonton ni kok ditayangin sih.. yuk kak" kata mama-nya.
It was an uncomfortable first 15 minutes to see soalnya anak ini kekeuh gamau keluar bioskop.
CONCLUSION:
Ortu ikut peran filter tontonan โ
Ortu nyalahin konten yg dikonsumsi โ
---
Fast-forward setahun kemudian,
gw bukber anak2 kantor lama yg dimana salah satunya adalah (sekarang mantan) anak Kemdikbudristek divisi LSF (lembaga sensor film), dan dia curhat banyak hal but gw kasih inti pointernya aja.
- Case ortu kasih nonton tontonan ga layak umur ke anaknya makin nambah karena 2 faktor
- Satu (OFFLINE), mayoritas petugas ticket bioskop yang sebenarnya paham sistem rating umur, namun takut ama customer.
- Dua (ONLINE), eTicketing yg sistemnya masih bebas beli tanpa ada batasan umur apapun filmnya (ampe skarang jg masih). Petugas ticket offline jadi gabisa monitoring.
- Tiga (DOMINO EFFECT), case ini merambat ke produk digital juga. Paling umum di website dan game.
- Empat (PEMERINTAH). Ini yg bikin jengkel. Nol upaya dari badan pemerintah yg bertanggungjawab (LSF, Kemdikbudristek) untuk mengedukasikan secara intens & deep tentang sistem rating produk hiburan (video, musik, game).
Sistem yang udah ada sejak akhir 60an.
Alhasil semakin banyak orang tua yang belom paham soal itu & menyalahkan pembuat konten dibandingkan ikut serta membimbing anak.
- Lima (NYAMBUNG AMA EMPAT). Itulah kenapa makin kesini (even ampe detik ini) makin banyak film2 luar yg disensor2x secara signifikan meskipun ratingnya untuk dewasa. Dan juga ada case beberapa film yg ratingnya "dimuda-in" 1 langkah.
Misal, dari PG-13 (Remaja ke atas) jadi SU (Semua Umur), dan ini SANGAT SERING terjadi di film2 super hero, scifi, animasi.
- Enam (MASIH NYAMBUNG AMA EMPAT), karena kekolotan & ke-boomer-an mayoritas decision maker di sana, mereka pake solusi gampang yaitu blokir. Mereka gamau ambil pusing, gamau dikomplen ortu, gamau dikomplen badan agama, it's all about gamau citranya jelek. But mereka mengatasnamakan "melindungi masyarakat indonesia", "tidak sesuai dengan adat ketimuran", "mengganggu umat islam" as an excuse of their laziness, instead of mempercayakan masyarakat utk saling melindungi.
---
Coba bayangin.. di pertengahan 2010an, ada game Mortal Kombat yang diblokir di Indonesia KARENA konten eksklusif yg cuma bisa dibeli pemain yg tinggal di Russia (karena ada gambar palu arit).
Tumblr diblokir karena "ada konten porno". Yg diblok platformnya, bukan akun pornonya. Kan goblok.
Reddit diblokir karena "potensi konten porno".
Masih banyak lagi contoh sebenernya,
tapi masa bakal kejadian lagi??
Anak2 gampang emosian masa gara2 gamenya??
Ya nggak lah, gegara ga diajain buat regulate emosi. Ga dikontrol dan dibimbing ama ortunya.
Gw aja pernah banting controller marah2 gegara main Sonic. SONIC CUY! GAME NON VIOLENT!
---
INTINYA.
STOP NYALAHIN APA YANG ADA DI DEPAN MATA LO ATAS APA YANG TERJADI AMA LO.
PEGANG PISAU GAK BIKIN LO PEMBUNUH.
MASUK RUMAH IBADAH AGAMA LAIN GA BIKIN LO AUTO-CONVERT.
GUNS DON'T KILL PEOPLE, PEOPLE KILL PEOPLE WHICHEVER TOOLS THEY USE.
STOP GOBLOKNYA, DAN JADIKAN "BUDAYA SENSOR MANDIRI" LEBIH DARI SEKEDAR LAGU CRINGE YANG DI PUTAR TIAP SEBELUM FILM MULAI ๐. DO IT!