RELATE BGT.
Suamiku super hands on ke anak. (I'm lucky I have him) tp ternyata tidak menjamin ga ada pikiran2 aneh di kepalaku.
Bahkan krn suamiku jg hands on, aku jg check on him. Dia baby blues ga 😅
Namanya bayi ya. Nempel 24 jam non stop ke ibu bapaknya. Itu GILA BGT RASANYA.
Ada di momen2 tertentu aku pingin masukin kepala di dalam bak air. Biar ga denger suara apa2 lagi.
Kaya pingin tenggelemin kepala aja. Tapi gak aku lakuin. Karena setiap saat suamiku selalu nanya, 'You okay? You need what? You want to be alone?' Padahal at the same time dia yg ngurus anak.
Dia yg mandiin. Dia yg nidurin. Bahkan dia kadang ngasi ASI via sendok kecil krn payudaraku kesakitan setiap saat harus mengASIhi anak.
Ada momen kita berdua sama2 mau gila, kita minta ibu aku untuk gendong anak kami sebentar. Kita cuma baring aja di kamar berdua sambil napas dan dengerin musik. Dapet santai 15 menit abis itu pegang anak lagi.
Pokoknya gila deh.
Buat aku, sosok Ibu dan Bapak yg hands on sama anak itu luar biasa. Terutama Ibu ya. Berbaik hatilah sama Ibu. Mungkin itu kenapa ada istilah surga di telapak kaki ibu, karena dia bukan cuma korban nyawa buat ngelahirin anaknya. Tapi dia ngorbanin jati diri dia seutuhnya.
Badan seisi2nya berubah. Isi kepala seisi2nya berubah.
Mau dipermak pake operasi plastik dan olahraga pun, kalo uda jadi IBU, semua BERUBAH. Can't explain
Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
Lagi belajar banyak hal sebagai ibu.
Ternyata ga selalu bisa sabar, kadang capek, kadang emosi juga naik.
Kadang habis marah ke Kinanti, terus kepikiran dan ngerasa bersalah berujung nangis. Maafin ibu ya sayang 😔.
@bondfourger Bener banget kak, setelah kecelakaan aku malah jadi ga mikirin nikah, takut jadi beban buat pasangan aku. Qadarullah malah ketemu suami ga lama dari kecelakaan, double double Allah maha baiknya huhu. Makasih kak doa baiknya, doa yang sama buat kakak 💕🥹.
Selamat dari kecelakaan tabrak lari plus dilindes motor. Patah bahu kanan, patah tulang rusuk 7, limpa dan ginjal kiri diangkat karena hancur. Sekarang sudah menikah memiliki suami yang hebat dan anak yang cantik. Semoga sehat selalu, bisa melewati kebahagian bersama mereka.
apa bukti Maha Baiknya Allah ke dalam hidup kalian?
me first : pernah lagi di jalan naik motor, trus langit gelap dan gerimis.
otomatis doa komat kamit “yaAllah tolong yaAllah, jangan hujan dulu sampai hamba tiba di rumah”
LANGSUNG BERHENTI HUJANNYA😭🤍
@rdhnrst21 Wkwk, Odiii anak aku pagi makan lahap sama menu A, siang nya makan itu lagi udah ga mau 🤣. Mikir terus sehari 3x kudu masak apa nih bayi biar mau makan.
kalo semua ini ada, percayalah, setinggi apapun ego si perempuan, dia bakal nurut tanpa disuru nurut. karna istri udah dikasi rasa aman dan nyaman dari suami. tapi kalo belum, pasti mode survival terus.
semoga kita semua diberi pasangan yg selalu akan dan ingin saling. Aammiinn.
Pengen olahraga sehari se jam aja susah, pengen udahan nyusuin capeeeee 😭😭😭😭. Takut gembrot Ya Allah 😭, takut sakit, pengen balik kayak dulu ga gampang sakit, badan fresh tiap bangun tidur skrg lebih sering sakit badan tiap bangun 😩.
Menstruasi tiap bulan, kehamilan beberapa kali, lalu diakhiri menopause.
Sementara kita laki-laki, secara biologi, ya hidup lurus-lurus aja.
Ayo kita sadari sebentar.
Perempuan itu setiap bulan berhadapan dengan biologinya sendiri.
Dengan nyeri datang rutin sekali.
Dengan emosi naik turun tanpa diingini.
Dengan darah yang keluar, tanpa permisi.
Lalu di satu fase hidup, perempuan mengandung.
Menumbuhkan manusia hidup dalam dirinya.
Membagi nutrisi tubuhnya, energinya, tidurnya, napasnya.
Rahim membesar puluhan kali lipat. Organ-organ perutnya bergeser. Trus hormonnya loncat-loncat menari tanpa henti.
Dan ketika semua itu selesai, di dekade ke 5 tubuh berkata,
Haha belum selesai.
Tiba-tiba Menopause datang.
Badan rasa jadi tungku panas, lelah, gelisah, tubuh terasa asing, tapi tetap harus menjalani semua fungsi dan perannya sebagai Ibu.
Sementara biologi kita laki-laki?
Bangun tidur.
Tarik napas.
Minum air.
Kerja seharian.
Lalu merasa wah hari ini produktif sekali.
Kadang kita demam tinggi sedikit saja,
Nada bicara langsung melemah.
Rasanya ingin nulis pidato perpisahan
Setelah memahami ini, aku sering bertanya dalam hati, bagaimana bisa perempuan setangguh ini.
Bayangkan kita laki-laki yang mengalami menstruasi.
Mungkin sebulan sekali kantor akan tutup.
Grup WhatsApp penuh keluhan.
Rumah sakit penuh drama.
Satu kram kecil, sudah minta dipijat se-RT.
Kehamilan?
Laki-laki lapar satu jam saja sudah gelisah.
Jadi kalau hari ini kita melihat perempuan tetap tersenyum,
tetap bekerja,
tetap mengurus keluarga,
tetap peduli orang lain,
Kita menyadari kekuatan versi berbeda.
Dan kita, para laki-laki,
Sudah selayaknya lebih menghargai dan menyayanginya. 🩷