Harta haram tidak hanya berkaitan dengan asal uangnya. Dalam pembahasan muamalah, harta yang diperoleh melalui cara yang dilarang juga dapat merusak diri—jasmani, rohani, dan pikiran.
1/2
Keuntungan yang diperoleh dengan membuat orang lain tertipu mungkin terlihat berhasil untuk sementara.
Tetapi keberhasilan semacam itu perlu direnungkan kembali: apakah benar membawa kebaikan, atau hanya memindahkan kerugian kepada orang lain?
Pasar bukan hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli.
Ia juga menjadi tempat terlihatnya karakter: apakah seseorang memilih jujur ketika ada kesempatan untuk menyembunyikan sesuatu.
Mencari rezeki halal bukan berarti seseorang berhenti berusaha.
Justru usaha tetap dilakukan, tetapi dengan perhatian pada cara, kejujuran, dan batasan yang tidak boleh dilanggar.
Dalam pembahasan tentang harta haram, manusia digambarkan memiliki sikap yang berbeda.
Ada yang tidak peduli dengan halal dan haram. Ada pula yang sebenarnya ingin berhati-hati, tetapi belum memahami aturan muamalah.
Penipuan dalam jual-beli kadang dimulai dari hal yang terlihat kecil:
menyembunyikan cacat, melebih-lebihkan kualitas, atau membuat pembeli percaya pada sesuatu yang tidak benar.
Kejujuran dalam transaksi bukan hanya membuat orang lain percaya kepada kita.
Ia juga membantu kita menjaga hubungan dengan Allah ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Tidak semua proses mencari rezeki harus terlihat besar.
Bekerja dengan cara yang halal, meski langkahnya pelan, tetap lebih menenangkan daripada memperoleh banyak tetapi menyisakan keraguan.
Mungkin ini alasan mengapa belajar muamalah penting bagi siapa pun yang bertransaksi.
Bukan supaya mudah menilai orang lain, tetapi supaya kita punya kesempatan lebih besar untuk memeriksa diri sendiri.
Kita sering belajar cara mendapatkan keuntungan.
Tapi, apakah kita juga belajar membedakan mana keuntungan yang halal dan mana yang tidak?
Aku membaca ulang Muamalat Kontemporer karya Dr. Erwandi Tarmizi. Ada beberapa hal mendasar yang menurutku penting untuk dibagikan.
Ada satu pelajaran yang terasa relevan:
niat mencari nafkah saja belum cukup. Cara mencari nafkah juga perlu diperiksa.
Sebab, tujuan yang baik tidak otomatis menjadikan semua cara menjadi benar.
Kadang kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi lupa memeriksa dari mana semuanya diperoleh.
Padahal, cara mendapatkannya juga bagian dari pertanggungjawaban.
Rezeki yang banyak belum tentu menunjukkan seseorang lebih mulia.
Sedikit atau banyaknya rezeki dunia tidak otomatis menjadi ukuran kedudukan seseorang di sisi Allah.
Mencari rezeki bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan.
Ada ketenangan lain ketika seseorang berusaha memastikan bahwa yang ia bawa pulang berasal dari jalan yang halal.
Sering kali kita memahami harta haram hanya sebagai hasil mencuri.
Padahal, pembahasannya lebih luas.
Dalam Muamalat Kontemporer, harta haram dijelaskan sebagai setiap harta yang diperoleh melalui jalan yang dilarang syariat.
@Ikhwanhsn Minta sudut pandang bang.
Ada yg bilang gaboleh di memecoin walopun spot. Ga halal karena no utility.
Padahal yg gain tinggi rerata memecoin..