Was thinking if I should highlight this tweet or not, but it’s a masterclass in the amount of vitriol people face when working on open source.
Is the app great yet? No. It’s a start.
It was built by the community. Getting the iOS and Android apps working with secure pairing and push notifications - and getting both through App Review -took a surprising amount of work.
OpenClaw wasn’t acquired by OpenAI and isn’t an OpenAI product. It’s an open, independent project under the OpenClaw Foundation. OpenAI sponsors the project’s token usage; I work there.
Cristian, your tweet was just one of ~30 I woke up to today. I’d genuinely love your help making it great.
Attention is still the scarcest resource.
I’d rather spend mine encouraging people who build.
De eso se trata el Mundial 🥹🇲🇽
Japones rompió a llorar tras la eliminación de su país, pero de inmediato, un grupo de brasileños lo fueron a consolar y los mexicanos lo pusieron a volar 🤝🫰🏻
🎥 @myt_guzman
Hi aku Gio, aku lulusan Psikologi tapi switch career sebagi Software Engineer.
Sekarang aku kerja remote sebagai SWE di Singapore company dan aku juga lg build tech consultant company di Indonesia dan udah handle banyak perusahaan besar sampe kementerian di Indonesia (kalo kalian minat bisa DM lebih lanjut).
Dgn hasil ngoding aku udah traveling ke banyak tempat dan juga punya usaha kost di Jogja. Semua tanpa bantuan orang tua, 100% real dari ngoding. Aku baru terjun juga ke saham US 🥲❤️
Aku bingung sebenernya di akun ini aku lebih banyak yapping tentang opini dan keseharian aku aj, kalo soal tech aku rasa banyak yg lebih jago tp kalo kalian minat dan mau berteman aku mungkin gpp share more tentang perjalanan switch career dan cerita bangun bisnisku.
Salam kenal semua ^^
“EMANG GUE PIKIRIN!!”
Sebuah pernyataan paling dongo yg pernah gw dengar dari seorang pemimpin. Gila. Kayak percuma pada demo, kritik, percuma.. kaga dipikirin. 😂
Gue tuh ke Jepang sudah berkali-kali. Kadang ke daerah pedesaan, tapi lebih sering perkotaan. Tokyo udah pasti, karena pulang selalu lewat sana. Meskipun di Tokyo paling cuma 2-3 malam.
Satu hal yang menarik adalah orang Jepang ini kuat banget budaya berbahasa nya.
Padahal, Tokyo ini kota besar dengan turis seabrek, tapi pelayan resto/toko/hotel yang bisa bahasa Inggris benar2 terbatas. Hotel lebih mending sih. Tapi toko/resto buset dah, minim. Gak perlu Inggris lancar, kadang-kadang bahkan cuma sekedar kalimat sederhana aja mereka bingung. Dan lucu nya, ketika mereka bingung, mereka gak keluarin Google Translate. Memilih diam dalam bingung aja.
Kenapa ya banyak orang disana gak mau belajar bahasa Inggris? Padahal, pemasukan mereka banyak dari turis juga.
Ada diaspora Tokyo yang bisa ceritakan?