Rodri pemain B aja katanya
ungkapan yang begitu tolol, kita pasti sepakat. sebuah kondisi yang menggambarkan deep playmaker itu jarang mendapat apresiasi.
mainnya nggak mewah atau banyak gol, tapi sebetulnya dia yang pegang pertandingan.
sebelum Rodri, ada Sergio Busquets. dua pemain yang diremehkan sampai mentok. katanya gelandang bertahan, kok nggak bisa takel. sungguh picik pikiran orang tersebut. menyedihkan.
apa ya tidak pernah melihat kalau Rodri pernah memenangkan gelar pemain terbaik di dunia? apa tidak pernah menonton Rodri di Piala Dunia?
tapi ya begitulah ketika kebencian menutup akal sehat. kehilangan separuh fungsi otak kiri.
gelandang-gelandang bagus yang kerjanya nggak kelihatan, tidak mendapat apresiasi yang selayaknya.
fans mana sih ini tolong ckckckc
Sebuah langkah balik yg tepat, juga contoh nyata sikap tidak membiarkan setiap usaha penyimpangan demokrasi berlalu begitu saja tanpa ditangkal. Semoga bisa jadi kesadaran bagi semua. Hormat utk bu dosen!
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
katanya “gamau pilih anies, cuma pinter ngomong”
lah ini udah ngomong aja ga becus, kerja juga ga bener. minimal yang kalo kita kritik ga ngatain kita bodoh.
Gausa jauh2 bahas soal Habibie yang pinter,
Lha kemarin dapet calon presiden lulusan Ekonomi & Kebijakan Publik, sama lulusan Hukum & Politik, pada gamau 😭
Let alone ada cawapres yang lulusan doktor Hukum Tata Negara, pernah ngerasain semua posisi Trias Politika. Langka banget loh itu.
Belom 2 tahun yang lalu pula loh WKWKWK
"Kenapa kamu mau resign?"
"Jujur Pak, saya merasa kurang dihargai di sini. Saya dapat offer yang jauh lebih bagus."
Selamat. Lo baru aja bakar jembatan dan pastiin bos lo bakal lupa nama lo dalam 3 bulan.
Gue resign 3 kali selama berkarir. Semua ex-bos masih jadi network terkuat gue. Malah ada yang jadi investor di project gue juga.
Gini cara resign yang bener dan gak "bakar jembatan":
Akhir tahun ini, saya mendapatkan sebuah jawaban yang dulu selalu mengganjal di kepala saya.
Jawaban dari pertanyaan yang padahal sudah saya ikhlaskan. Yang kalaupun saya tidak tau, hidup saya akan tetap seperti ini. Tidak ada yang berubah. Pun kalaupun saya tahu, saya juga tidak akan berbesar kepala.
Sebab seperti yang sudah saya bilang, pertanyaan itu sudah saya ikhlaskan.
Pertanyaan tentang,
“Kenapa jalan kita terus bersebrangan kalau sebenarnya kita tidak bisa bersama? Kenapa kita tidak bisa bersama padahal saya tau bahwa perasaan kita sama?"
Di pertemuan terakhir sebelum pada akhirnya saya dan dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi, kami sempat bertemu sekali lagi. Kali itu, semua terasa berbeda. Kali itu, untuk pertama kalinya, kami berdua sama-sama merasa bisa memperjuangkan hubungan itu.
Tapi lagi-lagi hidup begitu lucu.
Hidup saya saat itu tiba-tiba tertahan oleh sesuatu hingga saya tidak bisa menghubunginya. Dan selepas pertemuan itu, kami tak pernah bertemu lagi, saling hilang kabar, dan berpisah jalan.
Banyak yang terjadi di hidup kami berdua setelah bertahun-tahun tak bertemu. Dia sudah bahagia dengan buah hati dari seseorang lelaki yang sebenarnya dulu saya pernah berdoa untuk bisa ada di tempatnya. Sedangkan saya masih tetap ada di sini. Dan baik-baik saja.
Tapi akhir tahun ini saya mendengar sebuah cerita, bahwa sebenarnya tanpa saya ketahui, di pertemuan terakhir itu dia mencari saya. Tapi sayangnya, saya tidak bisa ditemukannya.
Dan kalian tau apa yang lebih lucu? Alasan dia mencari saya saat itu adalah, karena saat itu dia akan bertemu dengan lelaki asing. Namun, dia merasa ragu dan ingin membatalkan pertemuan itu karena dia merasa lebih baik menghabiskan waktu dengan saya.
Sayangnya, saat itu dia tidak bisa menemukan saya.
Dan kalian tau siapa orang yang akan dia temui saat itu?
Orang itu adalah suaminya yang sekarang.
Bayangkan apa jadinya kalau saat itu dia menemukan saya? Mungkin semuanya berbeda.
Tuhan memang Maha bercanda..
" Sulitnya Menerima Kekalahan, Menyulut Emosi Meledak-ledak pada Anak "
1. Cara mengatasi emosi meledak akibat kekalahan.
2. Stimulus apa saja yang memicu kemarahan anak.
3. Cara efektif menenangkan anak ketika marah
A Thread
–Perjalanan kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang–
Drama kasus yang diperankan Yosep Hidayat ini sangat menjijikkan. Dia mungkin merasa keren, padahal dari pertama sudah banyak orang menduga, siapa yang kemungkinan terlibat. Berikut kronologi kasus tersebut.
OOT: Teknologi Intelijen dan Human Intelligence, case study konflik Gaza-Israel Oktober 2023
Israel terkenal sebagai tempat lahirnya perangkat lunak pengawasan paling canggih di dunia. Mereka mengawasi dan memblokade Gaza, yang panjangnya hanya 42 km. Di Gaza, dua hal yang konstan adalah kamera surveillance dan drone observasi Israel di langit. Tapi tidak ada yang melihat ini akan terjadi.
Ironisnya, Mesir sudah memberi tahu Israel berkali-kali bahwa Hamas sedang merencanakan "sesuatu yang besar", namun Israel tidak mengindahkan peringatan Mesir, karena Israel lebih fokus kepada Tepi Barat dan bukan Gaza karena pendukung pemerintahan Benjamin Netanyahu terdiri banyak dari pemukim Tepi Barat yang menuntut tindakan keras keamanan di sana dalam menghadapi gelombang kekerasan yang meningkat selama 18 bulan terakhir. Ini mengakibatkan Israel kehilangan situational awareness mengenai Gaza.
Ketergantungan Israel pada teknologi intelijen mengakibatkan kurangnya fokus pada human intelligence. Padahal, reputasi kemampian human intelligence Israel menjadi acuan dunia intelijen. Badan-badan intelijen Israel telah memperoleh aura yang tak terkalahkan selama beberapa dekade karena serangkaian pencapaiannya. Bahkan, reputasi lembaga-lembaga seperti Mossad, Shin Bet dan intelijen militer tetap bertahan meskipun dalam kegagalan misi.
Namun serangan akhir pekan lalu adalah pertama kalinya reputasi intelijen Israel diragukan dan menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan negara dalam menghadapi musuh yang lebih lemah namun memiliki tekad yang kuat. Lebih dari 48 jam setelah dimulainya serangan, Hamas terus memerangi pasukan Israel di wilayah Israel, dan lebih dari 100 warga Israel ditahan Hamas di Gaza.
Mata Israel seperti tertutup menjelang serangan mendadak yang dilakukan oleh kelompok Hamas, yang menerobos penghalang perbatasan Israel dan mengirim ratusan pasukan ke Israel untuk melakukan serangan kurang ajar yang menewaskan lebih dari 700 orang dan melukai lebih dari 2000 orang.
Sejak Israel menarik pasukan dan pemukimnya dari Jalur Gaza pada tahun 2005, Israel tidak bisa mengendalikan langsung apa yang terjadi di wilayah tersebut. Namun bahkan setelah Hamas menguasai Gaza pada tahun 2007, Israel tampaknya tetap mempertahankan keunggulannya dengan fokus kepada menggunakan teknologi untuk kebutuhan intelijen dibanding human intelligence. Kemampuan teknologi intelijen Israel memang bukan main-main dimana mereka bisa mengetahui secara presisi lokasi target dan bisa mengeliminir target dengan surgical strike, atau mengentahui terowongan mana di perbatasan Gaza yang digunakan oleh Hamas untuk mengangkut para pejuang dan senjata, namun ketergantungan pada teknologi punya batasnya dan disitulah human intelligence tidak bisa digantikan.
Meskipun teknologi intelijen yang digunakan Israel sudah yang tercanggih, Hamas mampu menyembunyikan rencananya, dan bisa menyembunyikannya selama berbulan-bulan, sampai tidak terdeteksi sama sekali. Mengetahui ketergantungan Israel kepada teknologi intelijen, Hamas sepertinya menemukan cara untuk menghindari pengumpulan intelijen teknologi.
Mereka kembali ke Zaman Batu, mereka tidak menggunakan telepon atau komputer dan melakukan urusan sensitif mereka di ruangan yang dilindungi khusus dari spionase teknologi atau melakukan gerakan bawah tanah.
Namun kegagalan tersebut lebih dari sekadar pengumpulan intelijen dan badan keamanan Israel gagal memberikan gambaran akurat dari informasi intelijen yang mereka terima, berdasarkan apa yang disebutnya sebagai kesalahpahaman seputar niat Hamas. Badan keamanan Israel dalam beberapa tahun terakhir semakin melihat Hamas sebagai aktor yang tertarik untuk memerintah, berupaya mengembangkan perekonomian Gaza dan meningkatkan standar hidup penduduk Gaza. Sepertinya Israel lupa, bahwa Hamas sebenarnya tetap memandang penghancuran Israel sebagai prioritasnya.
Terlena dalam asumsi Hamas ingin memerintah Gaza, beberapa tahun terkakhir Israel mengizinkan sekitar 18000 pekerja Palestina dari Gaza untuk bekerja di Israel di mana mereka bisa mendapatkan gaji sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan di Gaza. Lembaga-lembaga keamanan Israel berasumsi bahwa membereskan urusan kantong dan perut cukup untuk menjaga ketenangan. Nyatanya, ratusan bahkan ribuan anggota Hamas sedang mempersiapkan serangan mendadak selama berbulan-bulan, tanpa ada kebocoran informasi, dan kita bisa lihat hasilnya.
Meskipun masih terlalu dini untuk menyalahkan kegagalan intelijen semata karena Israel sedang mengalami masalah internal, dari peningkatan kekerasan tingkat rendah di Tepi Barat yang mengharuskan pengalihan sejumlah sumber daya militer di sana dan kekacauan politik yang mengguncang Israel terkait langkah-langkah pemerintah sayap kanan Netanyahu untuk merombak sistem peradilan dimana rencana kontroversial tersebut telah mengancam kohesi IDF yang dipandang sebagai tentara rakyat Israel. Dengan Israel disibukkan dan terkoyak oleh rencana perombakan peradilan Netanyahu, pimpinan pertahanan Israel telah memberikan peringatan kepada Netanyahu serta beberapa mantan pemimpin badan intelijen negara tersebut, bahwa rencana yang memecah belah tersebut akan merusak kohesi badan keamanan negara tersebut dan membawa resiko yang besar dimana perpecahan internal mengenai perubahan hukum merupakan faktor yang memberatkan yang membuat Israel lengah.
Terlepas dari permusuhan di antara pihak-pihak yang berkonflik, pada akhirnya, pertanyaan akan timbul mengenai siapa yang bertanggung jawab di pihak Israel karena gagal mempersiapkan serangan Hamas tersebut, yang merupakan serangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun akan ada upaya untuk menyalahkan intelijen Israel karena tidak melihat serangan itu terjadi, tanggung jawab utama terletak pada pemerintah Israel dan perdana menteri.
Ini adalah kegagalan intelijen Israel dalam skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sayangnya, warga Israel dan ujung-ujungnya warga Palestina sama-sama harus menanggung akibatnya.