Di New York, sebuah kota yang dibangun di atas keserakahan Wall Street dan kapitalisme yang kejam, tindakan Jalen Brunson yang melepaskan begitu saja duit besar USD 113 juta di depan mata adalah sebuah anomali yang suci.
Dengan pengorbanan itu, New York Knicks menyisakan ruang gaji yang lebar untuk menyusun kepingan2 terakhir dari teka-teki mereka.
Knicks mendatangkan Karl-Anthony Towns dari Minnesota Timberwolves untuk mengamankan area bawah ring. Sementara itu Mikal Bridges tetap berada di sana untuk mengunci bintang2 lawan.
Masyarakat New York tidak melihat aksi "tak rasional" Jalen Brunson itu sebagai diskon kontrak. Mereka melihatnya sebagai sumpah setia.
Sejak hari itu, ketika Jalen Brunson berjalan keluar dari terowongan pemain menuju lantai kayu Madison Square Garden, gemuruh suara penonton bukan lagi sekadar sorakan untuk seorang pemain bintang.
Itu adalah nyanyian rasa terima kasih dari sebuah kota yang merasa dihormati oleh seorang pria yang menukar kekayaan pribadinya demi kedamaian pikiran sebuah komunitas.
Ini tulisan panjang saya tentang Jalen Brunson.
Seorang pemain yg masuk NBA pada urutan ke-33, pemain undersized yg dianggap tdk atletis, pemain yg dipandang skeptis dan tdk layak menjadi franchise player, namun pada akhirnya menjadi pemain yg mengakhiri kutukan panjang 53 tahun sebuah kota.
https://t.co/oUfJ4iJRI8