Sebuah obituari mendalam dari ZenRS mengulas sisi lain dari Andie Peci, sosok pengorganisir sejati yang menghabiskan seluruh detak hidupnya demi buruh dan Bonek Persebaya.
Andie Peci menyulap tribun menjadi sekolah politik rakyat, ia meyakinkan bahwa keberanian tidak laghir dari individu yang paling keras berteriak, melainkan dari keyakinan bahwa tak seorang pun dibiarkan berdiri sendirian.
Kepergiannya hari ini bukan hanya kehilangan bagi Bonek ataupun Persebaya. Ia adalah satu dari sedikit orang yang mampu membuktikan bahwa rakyat mampu membangun politiknya sendiri melalui ruang-ruang yang sering tak dianggap.
Ia memahami benar ketika sejarah sebuah klub hendak dihapus yang dipertaruhkan bukan sekadar nama ataupun logo, melainkan ingatan kolektif. Ia seolah mengingatkan kepada kita bahwa setiap kekuasaan selalu berusaha mendikte tentang bagaimana cara masyarakat mengingat masa lalu.
Andie Peci tak pernah berusaha tampil bak seorang intelektual, ia justru kerap tampil sebagai seorang penggerak, agar orang berkumpul, agar keberanian tak berhenti sebagai emosi sesaat.
Ia menegaskan kepada kita bahwa politik selalu membutuhkan tubuh-tubuh yang benar-benar hadir: hadir di pabrik, hadir di jalanan, hadir di tribun, dan hadir ketika kawan membutuhkan pertolongan.
Hari ini kita kehilangan seorang guru yang mengajar tanpa pernah menyebut dirinya guru.
Selamat jalan Cak.
Semua olahraga itu murah, dan aksesibel. Tapi tidak ketika kapitalis datang, dibuat menjadi eksklusif produk turunannya, sehingga menciptakan ruang pemisah kelas, mana yang mampu olahraga ini dan mana yg tidak mampu.