Ditjen Bea Cukai tersandera Ransomware Everest.
Kalau benar kebocoran platform analitik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terjadi, maka ini bukan sekadar “data bocor”, tapi cara negara berpikir ikut bocor. Group Ransomware Everest akan mempublish semua data tersebut kira kira 21 jam lagi (besok pagi)
Yang keluar bukan file laporan biasa, melainkan semantic model Power BI berisi data transaksi, logika audit, algoritma deteksi pelanggaran, sampai mekanisme penentuan target pemeriksaan. Ibaratnya bukan cuma isi brankas yang hilang, tapi kombinasi kunci dan sistem alarmnya sekalian diberikan ke publik.
Di dalamnya disebut ada ratusan ribu NPWP badan usaha, data individu, rantai pasok perusahaan multinasional, nilai impor per HS Code, hingga hasil rekonsiliasi lintas instansi. Ini menyentuh wilayah yang dilindungi UU PDP dan rahasia perpajakan. Dampaknya bukan cuma reputasi institusi, tapi berpotensi mengganggu pengawasan fiskal nasional.
Masalah terbesar dari kebocoran model analitik bukan pada data masa lalu, melainkan masa depan. Karena ketika pola risk management sudah diketahui pihak luar, maka pelaku yang nakal tinggal menyesuaikan perilaku agar terlihat patuh secara sistem, meskipun sebenarnya tidak.
Ini sebabnya di banyak negara, kebocoran sistem analitik fiskal dikategorikan sebagai strategic intelligence compromise, bukan sekadar insiden IT.
Kalau kejadian ini benar, maka pekerjaan terberat bukan mencari siapa yang mengunduh file, tapi membangun ulang kepercayaan: terhadap sistem, terhadap pengawasan, dan terhadap kemampuan negara menjaga data rakyatnya sendiri.
Kadang kita baru sadar bahwa data bukan lagi aset digital tapi sudah menjadi infrastruktur kedaulatan negara.
cc: Josua M Sinambela
@KapudS640 Jgn terima serangan fajar pas pemilihan, endingnya ya pas jabat nyari kembali lah duit masuk nya.
Golput juga salah, persenan pemilih golput ga tau endingnya dikemanain .
Imo