“The ideal subject of totalitarianism... is people for whom the distinction between fact and fiction, true and false, no longer exists.”
— Hannah Arendt
Bagus banget!
Video ini menjelaskan bahwa kehidupan itu sebenarnya permainan strategis. Bukan sesederhana rajin, kerja keras, atau punya bakat. Pemenang itu yang paham aturan permainan dan bisa beradaptasi.
Tonton deh.
Thank me later!
Tahun 60-an, D.N. Aidit pernah nulis soal koperasi desa di Jawa Barat yang katanya milik rakyat, tapi nyatanya dibentuk dari atas...
Dibentuk oleh-> kapitalis birokrat.
Semua warga otomatis jadi anggota tanpa pernah rapat beneran, dan yang paling untung cuma:
Tengkulak dan Juragan.
Petani dipaksa jual hasil panen di bawah harga pasar...
Bahkan ada "regu pengawas" yang siap menghajar siapa saja yang ketahuan jual ke pihak lain.
Sekarang, ratusan KOPDES merah putih sudah terbangun. Hanya hitungan bulan atas target dari PUSAT.
Isi Kopdes tsb pun, mayoritas berasal dari produksi perusahaan besar. Alih-alih, hasil tani/barang dari masyarakat desa
Pendekatan pembentukannya:
Bertentangan dengan prinsip koperasi yang mestinya sukarela.
Sukarela apanya?
Wong yg dilibatkan langsung arahan dari Kementerian Pertahanan untuk pengamanan..
Kejaksaan Agung untuk pengawalan intelijen penegakan hukum.
Menurut kalian, kritik D.N. Aidit, masih relevan kah?
Dear temen-temen cewekku, mulai hari ini stop pacaran sama cowo (mohon maaf) bodoh deh.
Ada jurnal yang nunjukin, cowok dengan tingkat kecerdasan tinggi, punya peluang lebih besar untuk menikah, dan TIDAK CERAI.
Ini penting banget kalau kalian mau hubungan pernikahan jangka panjang/langgeng.
Kalau tidurmu dibawah jam 12 malam, kemungkinan kamu BUKAN orang PINTAR
Aku gak ngasal guys, ada risetnya.
Menurut jurnal ini:
> Orang dengan IQ rendah (dibawah 75) rata-rata tidur jam 23:41
> IQ normal (90-110) tidur jam 00:10
> IQ jenius (diatas 125) tidur jam 00:29
Bedanya emang cuma sekitar 48 menit, tapi polanya konsisten di berbagai kelompok, mulai dari etnis, pendidikan, sampe agama.
Mengapa banyak orang bisa sukses di karir, tapi gagal di kehidupan pribadi?
Video dari Clay Christensen ini bagus banget membahas mengenai hal itu. Tamparan keras untuk kita yang cenderung mengalokasikan waktu dan energi pada hal-hal yang memberikan bukti pencapaian instan, seperti promosi, bonus, atau proyek yang selesai di tempat kerja.
Sayangnya kita kurang melakukan investasi pada keluarga dan hubungan pribadi, demi mengejar target jangka pendek, berupa jabatan dan materi. Padahal pada akhirnya, nilai hidup kita ditentukan dari seberapa banyak orang yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Udah deh, tonton!
Bagus banget!
Thank me later!
Di Muhammadiyah tak ada istilah habib dan sejak dari tahun 1995 dalam struktural kepengurusan Muhammadiyah juga tak lagi memakai gelar kyai apalagi gus.
Muhammadiyah lebih mengedepankan gelar yg diperoleh dari instusi pendidikan formal bukan berdasarkan keturunan siapa.
Nabi Nuh punya anak seorang kafir.
Nabi Ibrahim punya ayah seorang kafir.
Garis keturunan tak bisa menjadi jaminan.
Pernyataan ini tak ada hubungannya dengan video.
Kecuali anda faham yg saya maksud.
Salah satu oligarki bercerita bahwa dia setor 5 TRILIUN!
5 T cuma dari SATU oligarki!
Ketemunya di mana? Di Malaysia dan Singapura.
Dipakai buat apa? Dibelikan saham2 luar negeri
Siapa itu yg mendapat setoran?
PUTERA MAHKOTA YANG NAMANYA 'K'
Tahu kan "K" itu siapa? 😉
Saya coba lacak jejak leluhur Presiden kita lima generasi ke atas berdasar kliping berita, iklan, arsip dan buku-buku lawas. Banyak data-data detail dan informasi baru yg mungkin keluarganya pun enggak tahu.
Jadi alih-alih marah, presiden harusnya berterima kasih pada kami para "londo Ireng" ini yg menyusun historiografi keluarganya selengkap mungkin. 🫰
Bisa dibaca di sini:
https://t.co/ad7V9gb6wa
*Maaf kalau gak sempurna, saya developed microsite-nya sendirian 😵💫
pendapat manfud md soal londo ireng dalam pidato prabowo :
- londo ireng itu istilah nyakitin
- sejarahnya soal pengkhianat yang bantu belanda
- contoh dulu benyamin sigar bantu tumpas diponegoro
- mahfud sendiri pernah dituduh londo ireng waktu dia berantas koruptor
- jurnalis/lsm/pengamat yang kritik itu bukan londo ireng, tapi pengkritik sehat
- pernyataan prabowo itu bukan cuma salah diksi
- tapi nunjukin emang enggak suka kritik
- presiden sering bilang silakan kritik tapi giliran dikritik malah dibilang antek asing
- ngritik itu justru karena cinta bangsa bukan pengkhianat seperti benyamin sigar
Masih ingat Yuli, staff DPRD Bone yg dilempar kue oleh Ketua DPRD??
Yuli ogah berdamai dgn Ketua DPRD Bone, dgn konsekwensi dipecat sbg PPK di Pemkab Bone...
Apakah Yuli akan menang??
Yuli akan menang apabila kasusnya viral, kalo senyap2 seperti sekarang hampir pasti Yuli akan dipecat, sang pelempar akan semakin kuat posisinya.
Senjata orang kecil utk mengharapkan keadilan saat ini hanyalah media sosial, no viral no justice!
Ingin Yuli mendapat keadilan???
Yook viralkan kasusnya...
The World Bank's latest report delivers a message that is far more important than "Indonesia should collect more taxes." The real message is that Indonesia does not have a debt problem, it has a revenue problem. For decades, Indonesia has operated with one of the smallest public sectors among emerging economies, not because it has chosen to spend lavishly, but because it simply collects too little tax relative to the size of its economy.
The numbers are striking. Indonesia's tax revenue amounted to only 10.1% of GDP in 2024, one of the lowest among regional peers. More importantly, the World Bank estimates that the government currently collects only 52% of its potential Corporate Income Tax (CIT) and 53% of its potential Value Added Tax (VAT). In other words, nearly half of Indonesia's corporate and consumption tax base is never translated into actual government revenue.
The report estimates that reforms could ultimately unlock around 2.5% of GDP in additional revenue over time through better enforcement, broader tax bases and digital administration. The theoretical upside from fully closing the CIT and VAT gap is even larger, roughly 6% of GDP, although the report recognizes that achieving full potential is unrealistic in practice.
What is particularly interesting is where the World Bank believes the money should come from. Contrary to what many fear, the report is not advocating higher statutory tax rates. Instead, it argues that Indonesia should collect more efficiently by broadening the tax base and reducing leakages. Among its recommendations are phasing out preferential corporate tax treatments, reducing VAT exemptions, lowering the VAT registration threshold, expanding e-invoicing, integrating tax data with banks and government agencies, deploying advanced analytics for risk-based audits, and simplifying taxpayer services such as pre-filled returns and digital filing. Together, these measures are expected to generate meaningful revenue without increasing headline tax rates.
The report also highlights Indonesia's structural challenge: around two-thirds of firms operate informally. That means a large share of economic activity remains outside the tax net altogether. Formalization therefore becomes more than a labor market issue; it is a fiscal issue. Every business that joins the formal economy broadens the tax base, improves competition and creates a more sustainable source of government revenue.
Perhaps the sharpest takeaway is what this means for Indonesia's long-term growth ambitions. The World Bank argues that Indonesia needs to sustain growth above 6% per year to achieve high-income status by 2045. Yet public investment remains constrained because tax collection has failed to keep pace with economic growth. The country has maintained prudent fiscal rules, including the 3% deficit ceiling and 60% debt ceiling, but those same rules make stronger domestic revenue mobilization even more critical. With limited room to borrow, higher investment in infrastructure, education and healthcare must ultimately be financed through a larger and more efficient tax system.
The investment implication is straightforward. Indonesia's fiscal challenge is less about excessive spending than about insufficient revenue collection. If the government can materially improve compliance through digitalization, better data integration and broader tax coverage, it would strengthen fiscal sustainability without relying on repeated tax rate hikes. That would create more room for productive public investment while preserving macroeconomic stability. The challenge, however, lies in execution. Closing even part of a tax gap worth several percentage points of GDP requires institutional capacity, consistent enforcement and sustained political commitment. As with many structural reforms, the opportunity is enormous, but realizing it will be considerably harder than identifying it.
Link to report: https://t.co/HfjxxTEthO
BEDA MASA BEDA ISTILAH
(untuk para boomer agar nyambung ke Gen Z)
Dulu termos sekarang tumbler.
Dulu parsel sekarang hampers.
Dulu loakan sekarang preloved.
Dulu ngamuk sekarang tantrum.
Dulu pagar-ayu sekarang bridesmaid.
Dulu bercerita sekarang spill.
Dulu ingin tahu sekarang kepo.
Dulu galau sekarang overthinking.
Dulu makanan dibungkus sekarang take away.
Dulu caper, sekarang pick-me.
Dulu piknik sekarang healing.
Dulu ngeluyur sekarang travelling.
Dulu muhibah sekarang studi banding.
Dulu prihatin sekarang low budget lifestyle.
Dulu sensitif sekarang baperan.
Dulu her sekarang remedial.
Dulu ngirit sekarang frugal living.
Dulu banci, homo, lesbian sekarang LGBTQ.
Dulu warkop (warung kopi) sekarang cafe.
Dulu cukong sekarang sugar daddy.
Dulu testing sekarang UAS.
Dulu NEM sekarang TKA.
Dulu buruan sekarang gercep.
Dulu tustel sekarang kamera.
Dulu blitz sekarang flash.
Dulu es teh sekarang ice tea.
Dulu pecel sekarang salad.
Dulu sepiring 2 ribu sekarang 20 ribu.
Dulu gemuk tembem sekarang gemoy.
Dulu tanggal tua sekarang intermittent fasting.
Dulu programming sekarang coding.
Dulu sahabat sekarang bestie.
Dulu karyawisata sekarang class outing.
Dulu camping sekarang glamping.
Dulu bantingan sekarang split bill cc.
Dulu siomay sekarang dimsum.
Dulu oblong sekarang t-shirt.
Dulu mencongak sekarang imla.
Dulu pelonco sekarang bully.
Dulu mas, kang, uda sekarang bro.
Dulu mbak, teteh, uni sekarang sis.
Dulu numpang tenar sekarang clout chasing.
Dulu pamer sekarang flexing.
Dulu beli loakan sekarang thrifting.
Dulu ikut-ikutan sekarang FOMO.
Dulu diam-diam menghilang sekarang ghosting.
Dulu pacaran sekarang dating.
Dulu kenalan sekarang networking.
Dulu jualan sekarang live shopping.
Dulu kelontong sekarang minimarket.
Dulu telepon rumah sekarang video call.
Dulu surat sekarang DM.
Dulu pos kilat sekarang gmail.
Dulu wesel sekarang transfer atau qris.
Dulu suasana sekarang vibe.
Dulu kesebelasan sekarang squad.
Dulu tanya ke "orang pintar" sekarang tanya ke AI.
Dan jangan lupa ...
Dulu 7 ribu sekarang 18 ribu.
Kalo ada konten demo lewat diberanda kalian langsung like dan posting ulang!
Jika itupun kalo Kalian peduli dengan kecemasan negara saat ini, dengan melakukan itu secara tidak langsung kita membantu perjuangan temen" yg disana melalui sosial media, karena media terbungkam!