Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Yang saya amati, negara ini jarang berpihak pada kepentingan golongan lemah, diantaranya anak-anak.
Kenapa ngotot menyetujui 335T buat MBG?
Perut siapa yang dibikin kenyang?
Kalo target utamanya anak, kenapa ribuan anak keracunan diabaikan, proyek tetap jalan terus?
Pejabat publik ini harus meningkatkan kemampuan komunikasi publik.
Harusnya kalo baru dilantik, ucapannya gini:
"Ya saya mengucapkan terimakasih kepada bapak presiden atas amanah yang diberikan, untuk saat ini saya belum bisa memberikan jawaban apapun, fokus koordinasi dahulu"
Hari ini, Tom divonis 4,5 tahun penjara. Keputusan yang amat mengecewakan bagi siapa pun yang mengikuti jalannya persidangan dengan akal sehat, meski sayangnya tidak mengejutkan.
Selama proses berjalan, berbagai laporan jurnalistik independen dan analisis para ahli telah mengungkap kejanggalan demi kejanggalan dalam dakwaan. Fakta-fakta di ruang sidang justru memperkuat posisi Tom, tapi semua itu diabaikan. Seolah-olah 23 sidang yang telah digelar sebelumnya tak pernah ada. Seolah-olah bukti dan logika tak diberi ruang dalam proses peradilan.
Jika kasus sejelas ini saja bisa berujung pada hukuman penjara, jika seseorang seperti Tom yang dikenal dan terbukti integritasnya di pengadilan, terbuka dan disorot publik perkaranya, masih bisa dihukum semena-mena, maka bayangkan nasib berjuta lainnya yang tak punya akses, sorotan, atau kekuatan serupa.
Vonis hari ini adalah penanda bahwa keadilan di negeri ini masih jauh dari selesai. Demokrasi belum kokoh berdiri. Kita dihadapkan pada keraguan mendasar tentang kredibilitas sistem hukum, dan tentang keberanian negara menegakkan kebenaran. Ketika kepercayaan terhadap proses peradilan runtuh, maka fondasi negara ikut rapuh.
Senin lalu, Tom menyampaikan dalam dupliknya bahwa ia belajar tentang makna kata tawakkal, tentang berusaha sekuat tenaga lalu menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Sayangnya hari ini, hasil itu belum berpihak padanya. Tapi ini bukan ujung. Ini satu babak dari perjuangan panjang untuk menghadirkan keadilan yang belum tuntas dan akan terus kita jalani bersama.
Tom dan tim pengacara masih mempertimbangkan respon terhadap putusan ini. Tapi satu hal yang jelas, kita akan terus mendukung penuh langkahnya untuk mencari keadilan sampai titik akhir. Apapun yang akan ia hadapi ke depan, kita terus pastikan bahwa Tom tidak akan pernah berjuang sendirian.
Di Thread banyak ortu debat: apakah pendidikan dasar apalagi level TK dan SD sudah harus di sekolah bagus yang konsekuensinya biayanya muahaaaal?
Yang pro: pendidikan dasar membentuk karakter, taro anakmu di sekolah bagus. Ada benernya argumen ini.
Yang kontra: anak butuh biaya pendidikan sampe kuliah, ortu jangan ngos-ngosan sejak awal. Argumen ini juga valid.
Saya duluuuu memasukkan kedua anak ke sekolah-sekolah elite juga dengan harapan tertentu. Tapi kemudian sadar, itu bukan strategi yang tepat, at least buat kami.
Saat itu, saya ambil solusi radikal: semua anak homeschooling dan dididik sendiri, karena ibunya ndak cocok dengan sejumlah sistem.
Orangtua terutama saya sebagai ibu, turun tangan langsung dalam membentuk karakter, membangun blue print pendidikan, menyeleksi guru, meng-evaluasi hasil dll.
Apakah homeschooling satu-satunya jalan? TENTU TIDAK. Homeschooling kalo ortunya ga cukup punya wawasan, malah bikin anak ketinggalan secara sosial dan akademis
Apakah sekolah elite pasti buruk, sekolah biasa pasti baik -- atau sebaliknya? JUGA TIDAK.
Point saya adalah: Anda para orangtua, adalah aktor utama pembentuk karakter anak. Peran Anda ga bisa di outsource ke sekolah, semahal apapun biayanya.
Kalau ingin anak fundamental-nya kuat, mandiri, disiplin, percaya diri, siap bersaing di level global, bahkan one day mampu meraih beasiswa kuliah di luar negeri -- maka fondasi itu harus mulai disiapkan SEJAK DINI di rumah. Oleh orangtuanya sendiri.
Lalu apa fungsi sekolah? Sebagai support system yang penting.
***
Jadi jangan ciut kalo liat orang sharing biaya pendidikan mahal ya ...
Kunci utamanya mostly di orangtua kok ...
"saya hanya spending 20-25% (bahkan kurang) dari income saya, sisanya masuk ke dana darurat, investasi, dll. jangan pernah terburu-buru menaikan kualitas/gaya hidup sendiri karena di situ biasanya jebakannya."
nicholas saputra ngomongin keuangan tuh jadi makin terlihat hot🔥🔥🥵