Ku tak tahu sampai kapan hari hidupku
Akhir hayatku ini tidak menentu
Namun yang pasti perjalanan hidup ini
Berakhir di suatu saat nanti
- Stephanie Erastus -
ada yang mencoba untuk tidak berteriak di kamar yang hening, menangis tanpa suara dan memukul dadanya yg sesak sambil memaki diri sendiri atas apa yang terjadi.
padahal ketika di luar dia terlihat baik-baik saja dan terwata paling keras.
Suka banget sama konsep Red String Theory.
Bahwa ada dua orang yang sejak lama terhubung oleh takdir, namun tidak dipertemukan begitu saja.
Tuhan membiarkan mereka berjalan di jalannya masing-masing terlebih dahulu. Menyembuhkan luka, belajar dari kehilangan, tumbuh dari berbagai pengalaman, dan menjadi versi diri yang lebih siap.
ngemis untuk ditelpon, minta dikabarin, minta diperhatiin, hingga akhirnya memilih untuk sadar diri.
bahwa berharap berlebihan dan rela melakukan apa saja demi dia, bahkan rela menjatuhkan harga diri itu
menyakitkan.
ternyata bener kata orang; siapa yang paling mencintai paling dalam maka dia lah yang berantakan.
kita cuma punya dua tangan, dan itupun ga akan pernah cukup untuk menutup semua mulut orang. no matter how hard you try, you can't control what people think, what they say, or how they choose to see you. akan ada selalu suara, akan ada selalu opini, bahkan ketika kamu ga melakukan apa-apa. yang bisa kamu lakukan cuma satu, belajar menutup telinga dari hal-hal yang memang ga perlu kamu simpan.
Percayalah nak...
Suatu hari nanti kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang tidak membuatmu merasa harus berubah demi dicintai.
Seseorang yang hadir bukan untuk menguras tenangmu, tapi justru menjadi rumah bagi lelahmu, dia akan mengerti caramu mencintai, memahami diam yang tak sempat kamu jelaskan, dan menerima sisi-sisi kecil dari dirimu tanpa banyak syarat.
Karena hubungan yang tepat bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan dua jiwa yang sama-sama tulus untuk saling menjaga.
Gue punya temen cewek namanya Amel.
Pintar, mandiri, dan waktu nikah semua orang bilang dia beruntung banget.
Suaminya kerja bagus
penghasilan oke,
sayang banget sama dia.
Dan karena semua itu Amel berhenti kerja.
Ngapain capek-capek, suami gue udah cukupin semua.
Gue nggak bilang apa-apa waktu itu.
Karena secara logika masuk akal.
Tahun pertama sampai ketiga
semua baik-baik aja.
Amel ngurusin rumah.
Suami cari duit.
Hidup terasa lengkap.
Tapi pelan-pelan gue mulai notice sesuatu.
Amel yang dulu berani berpendapat mulai jarang ngomong kalau beda pendapat sama suaminya.
Amel yang dulu spontan mau nongkrong sekarang selalu nanti tanya suami dulu.
Dan waktu gue tanya "Mel, lo nggak kangen kerja?"
Dia jawab "Kangen sih.
Tapi nanti suami gue ngerasa nggak dibutuhkan."
Tahun kelima semuanya berubah.
Kantor suaminya kena efisiensi besar-besaran.
Di-PHK tanpa pesangon yang cukup.
Dan tiba-tiba satu penghasilan yang selama ini jadi satu-satunya sumber kehidupan mereka, hilang.
Amel mau balik kerja.
Tapi gap-nya udah 5 tahun. Industri udah berubah. Koneksinya udah banyak yang putus.
CV-nya terasa ketinggalan zaman.
Dan yang paling berat bukan soal keuangannya tapi soal dynamic yang berubah di dalam rumah tangga mereka.
Suaminya yang tadinya provider tiba-tiba merasa kehilangan identitas.
Dan Amel yang tadinya dependent tiba-tiba harus jadi tulang punggung tanpa persiapan apapun.
Dua orang yang saling sayang tapi nggak siap untuk skenario yang seharusnya mereka antisipasi dari awal.
Dan ini yang gue pelajarin dari cerita Amel.
Punya penghasilan sendiri bukan soal nggak percaya sama suami.
Bukan soal "gue harus mandiri karena suami gue pasti selingkuh."
Bukan soal emansipasi yang dipaksain.
Tapi soal satu hal sederhana yang sering kita lupa
Dunia ini nggak berjalan sesuai rencana.
Dan lo nggak bisa mendelegasikan seluruh ketahanan hidup lo ke satu orang.
Suami yang baik bisa kena PHK.
Suami yang sehat bisa tiba-tiba sakit.
Suami yang setia bisa burnout dan berubah.
Dan kalau di titik itu lo nggak punya apa-apa atas nama lo sendiri bukan rekening, bukan skill, bukan network lo nggak punya pilihan.
Dan ketiadaan pilihan itu yang paling berbahaya bukan karena lo miskin, tapi karena lo jadi terpaksa bertahan di situasi yang harusnya bisa lo tinggalkan.
Amel sekarang udah balik kerja.
Prosesnya nggak mudah dan nggak cepat.
Tapi dia bilang satu hal ke gue yang gue inget sampai sekarang
Gue bukan nggak percaya sama suami gue.
Gue cuma nggak mau jadi orang yang nggak punya pilihan kalau hal yang nggak gue inginkan terjadi.
Punya penghasilan sendiri bukan ancaman buat rumah tangga.
Itu justru salah satu fondasi yang bikin rumah tangga bisa bertahan karena dua orang yang saling backup jauh lebih kuat dari satu orang yang nanggung semuanya.
R.A. Kartini udah bilang ini lebih dari 100 tahun yang lalu.
Dan kita masih debatin hal yang sama.
percaya atau tidak, hukum tabur tuai itu nyata, seseorang yang menyakiti kita, lalu melanjutkan hidupnya tanpa rasa bersalah, pasti akan hancur, entah itu dari jalur pekerjaan, rejeki, keluarga, kesehatan bahkan percintaan.
intinya ikhlas saja biar Tuhan yang membalas.
entah kenapa, orang yang hatinya baik biasanya selalu dikecewakan dalam relationship.
padahal mereka terbukti tulus, mereka teguh dalam berkomitmen.
bahkan saat mereka gagal, mereka lebih fokus menyembuhkan lukanya terlebih dulu, sebelum membuka hati pada sosok baru.
tolong banget, jangan toxic ke diri sendiri.
kalau memang sakit, lepaskan.
jangan denial, jangan dipendam and even if you need to cry, menangislah selama yang kamu mau.
stop pretend to be okay, when you’re not. you're gonna get through this okay?!
you’re strong!
Cantik sekali kalimat ini;
“hiduplah dengan tenang dan sebaik mungkin. bahagiakan dirimu tanpa perlu menunggu siapa pun. carilah hal-hal yang membuat hatimu hidup, lalu hargai setiap detik kebahagiaan itu. jadilah manusia yang memanusiakan manusia. tapi ingat, sebelum mencintai orang lain, belajarlah mencintai dirimu sendiri. karena orang yang paling bertanggung jawab atas kebahagiaanmu adalah dirimu sendiri.”
@qrivasi kukira aku doang yg pernah gini,
jalan2 ke jogja bingung cari toilet umum yg nyaman versiku... nekat masuk ke lobby hotel buat numpang kamar mandi 🙏🏻😭
ternyata kalau bukan kita tujuannya yang kita dapat hanya banyak alasannya…
“alasan sibuk, gak ada waktu, banyak masalah, slow respon, maaf dan bingungnya.”
Ages between 28-32:
- If you are not married
- Haven't gotten a big salary yet
- Still renting a house
- Still struggling with career
Don't worry, all this is God's plan and don't let people rush us, Keep praying
Mari hidup lebih lama lagi, meskipun itu cuma demi semangkok bakso, es krim, mie ayam, sate, batagor, cilor atau tempat² indah yang belum kita kunjungi. Ayo kita ciptakan bahagia versi kita sendiri dulu, you deserve to get beautiful things in this world.