pernah dibilangin gini sm ortu "emang temenmu mau nolongin kamu apa pas kamu susah?" gw jawab "ya mau", langsung dijawab "masa kamu lebih mentingin temen pdhl kalo ada apa2 yg bantu cuma keluarga"
Mereka gatau aja kalo gada temen" gw pas itu gatau lagi dah gmn keadaan gw skrg
@remyssi "Kamu percaya aja sama temen! Udah ngasih apa temen ke kamu? Udah lebih banyak dari yang dikasih orangtua?! Salah pilih teman kamu!"
Kalo diinget2 nyesel banget speak up
Emang goalnya anaknya gila baru berhenti ngasih ngepush
💯
btw, cuma orang yg udah "penuh" dgn dirinya yg bisa kayak gini. memberi tanpa berharap dibalikin (dengan boundaries tentunya)
kalian, kalo udah luber2 duitnya pasti pengen bagi2 ke orang lain kan? sm kyk kasih sayang. kalo diri sendiri udah penuh, rasa mau berbagi tuh guede
imo the concept of "jangan keliatan kecintaan" just to be loved back is so exhausting. i don't get it aslii cs im always gonna be all in with my feelings and if they decide to be toxic or act up yaudah it's their loss 🤷🏻♀️
Aku nggak heran sih dengan sifat aktivis seperti Budiman ini. Sebenernya dia nggak berubah, tapi justru itulah sifat aslinya. Kalau kamu pernah gabung di organisasi kemahasiswaan/pergerakan, kamu akan tahu kalau di sana ada banyak mahasiswa yang mengaku aktivis, bacaannya buku kiri, pemikirannya kritis, tapi sifat aslinya kayak pemerintah: fafifu omong kosong, otoriter, haus kekuasaan, dan senang membungkam kritik internal. Dan ini yang nggak kalah penting, suka mainin anggaran proyek!
Banyak dari mereka yang lantang meneriakkan keadilan di podium demonstrasi, tapi di dalam rapat organisasi justru bertindak layaknya diktator kecil yang anti-kritik. Retorika perjuangan rakyat sering kali hanya dijadikan topeng intelektual untuk memuaskan ego pribadi dan membangun kultus individu di kalangan anggota baru.
Hal ini bukan kejadian yang aneh karena karakter oportunis mereka bangun sejak di bangku kuliah. Mereka nggak pernah benar-benar membenci kesewenang-wenangan atau ketidakadilan sistem yang ada. Mereka kayaknya hanya benci karena bukan mereka yang sedang memegang kendali dan duduk di kursi kekuasaan itu.
Trust me, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku nggak menggeneralisir semua yang gabung di organasisasi kemahasiswaan/pergerakan begitu semua ya, tapi … ytta.
how it feels nulis cerita kisah kasih penuh cinta tapi elu aslinya selalu mikir kalo ga pantes untuk dicintai sebegitunya dan selalu bertanya tanya apakah suatu hari nanti akan ada orang yg beneran mencintai lu sepenuh hati
macet tuh harga paling murah yang bisa lu bayar buat manfaat jangka panjang, sehari macet itu coba lu bandingin dengan hampir 2 tahun pemerintah lu mengacak-acak negara ini duhhh
aku sedihh liat ini… karena aku tau kalo from the very beginning WE NEVER HATED INDONESIA. not even a bit. yang kita benci tuh korupsinya, nepotisme, keserakahan oligarki, dan orang yg dzalim. we love this country so much, and that’s why it hurts to see it getting ruined by them
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
krn pas hamil, penyakit" yg sebelumnya ga diderita (misal HT, DM) bisa muncul pas hamil. on top of that, kondisi kesehatan ibu jg sangat menentukan kondisi kesehatan bayi dlm jangka panjang
fresh from the oven ilmu yg barusan gw dpt dr mendengarkan konseling catin di pkm, alasannya udah pasti terkait kondisi medis terutama di indo rata" menikah kan mau punya anak, dan yg paling berisiko ya yg hamil alias perempuan
Yang konyol dari drama ngurus berkas nikahan ini tuh
Hal hal yang ditanyain ke calon pengantin perempuan:
- Berat Badan
- Tinggi Badan
- Lingkar Lengan
- Kadar Hemoglobin
- Status Terpapar Asap Rokok
- Dapet Suplemen Penambah Darah atau Nggak
- Dapet Bansos Atau Nggak
Sedangkan yang ditanyain ke lakinya cuma:
- Perilaku Merokok
HAH? Jadi cewenya dituntut sehat walafiat tapi cowonya yang penting ngerokok atau ngga? Capek.
Esa chica virgen, sin haber estado nunca con nadie, que te ama incondicionalmente, no es codiciosa, se preocupa por ti y siempre te apoya.
Es triste que la mayoría de los hombres nunca encuentren una chica así
Gue pernah bersimpuh, bersujud, memohon dan meminta untuk dihilangkan rasa cinta di hati gue, karena rasa sakitnya tak tertahankan.
Gak sampai lama, banyak hal baik datang di hidup gue, ngebuat gue bisa bernafas lebih lega.