Hari Minggu lagi, dan saya masih khawatir tentang Indonesia.
Minggu ini, saya ingin cerita tentang keluarga saya — karena saya rasa ini menjelaskan kenapa saya begitu peduli dengan kebijakan pensiun.
Saya tumbuh di desa kecil di pedesaan Jepang. Penduduknya 6.000 orang. Tiga puluh ribu ekor sapi. Kedua sisi keluarga saya adalah wiraswasta sepanjang hidup mereka — petani di satu sisi, penjual sayur dan ikan di sisi lain. Orang tua saya bertemu di koperasi pertanian, menikah, dan akhirnya pensiun.
Hari ini, orang tua saya masing-masing menerima sekitar 20 juta rupiah per bulan dari dana pensiun publik Jepang. Gabungnya 40 juta rupiah — sekitar 1,5 kali upah minimum. Mereka mandiri secara finansial. Saya tidak mengirim uang ke mereka. Adik saya juga tidak.
Kakek saya hampir berusia 100 tahun. Dia tinggal di fasilitas perawatan publik yang disubsidi oleh asuransi perawatan jangka panjang Jepang. Dia masih membayar sendiri asuransi kesehatan, biaya layanan perawatan, dan iuran jaminan sosialnya — hanya dari pensiunnya. Orang tua saya tidak mendukungnya secara finansial. Saya juga tidak.
Suatu hari saya bertanya kepada adik saya: bagaimana kalau semua ini tidak ada? Apakah kita bisa mengirim setara upah minimum ke orang tua kita setiap bulan? Dia bilang tidak — dan dia seorang apoteker.
Sekarang bayangkan Indonesia. Jika orang tua kamu tidak punya tabungan dan tidak ada pensiun publik, bisakah kamu mengirim 6 juta rupiah setiap bulan — 3 juta per orang tua — hanya agar mereka bisa bertahan hidup? Bagaimana kalau kakek nenekmu masih hidup?
Ini bukan hanya masalah pribadi. Ini masalah nasional. Dan Indonesia semakin kehabisan waktu untuk menyelesaikannya.
Sunday Worry adalah percakapan santai tapi serius tentang masa depan Indonesia. Tidak ada studio, tidak ada naskah — banyak kekhawatiran.
Ini adalah serial di YouTube. Silakan kunjungi Saluran YouTube kami.
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal