Sebenarnya secara normatif yang kayak gini itu melanggar aturan.
PKWT (perjanjian kerja kontrak) itu harusnya hanya boleh dilakukan untuk lima jenis pekerjaan, yakni: (terlampir, lihat PP 35/2021 ttg PKWT).
Masalahnya, implementasinya jauuuh, soalnya job market kita jelek 😮💨
Stance gue soal kerja 996 sama dengan ecommurz. Udah dapat stray bullet dari orang-orang yang ga baca apa yang sering gue tuit soal 996 dan worker abuse.
"Ooh techbro!"
Kaya yang ga techbro bener aja kalo jadi employer.
I work in tech too. Yes, gw tau lu harus kerja keras, harus catch up secepat mungkin, proaktif bertanya dan earn your place. Tapi, somehow beberapa tekbros ini suka ngubah cerita company yang ga punya proper onborading, documentation atau work-life boundaries jadi semacam cerita yang menginspirasi.
Congrats bro, you survived operational incompetence. Tapi, bukan berarti standard itu worth defending. Karena gw menderita terus lu juga harus menurut gw itu sakit, bukan bijak.
Yes, kita semua harus kerja keras buat karir. Tapi, lu ga perlu pake personal willingness lu untuk grinding sebagai alasan untuk normalisasi memperlakukan anak magang kayak disposable labor. Ini bukan modern slavery dude, use your common sense.
Bayangin aja itu adek lu, pasangan lu atau anak lu sendiri yang disuruh tolerate perlakuan kek gitu, terima ga lu? Lu masih berani bilang "Kalau ga suka, ya resign aja"? Atau tiba-tiba semua bullshit hustle cutlure ala-ala TED Talk lu jadi ga menginspirasi lagi?
Lucu aja lihat orang langsung generalize cuma karena mereka dulu survive di kondisi yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik, bukan berarti semua orang setelahnya harus menerima standar yang sama. Surviving a broken system doesn’t make it worth defending.
Kritik pemerintah numero uno, giliran kritik ke sesama manusia yang dinormalisasi diperlakukan seenaknya malah tiba-tiba jadi jubir. Common sense nya habis kena layoff bang?
aku heran deh, kenapa sekarang semua orang dituntut punya personal branding.
emang kenapa kalau ada orang yang cuma pengen hidup biasa, kerja yang bener, terus pulang?
Pernah ngobrol ke temen yang profesinya HR, Alasannya:
Company sekarang jarang ada yang mau hire permanent employee - supaya kalau ada yang di-lay off ga perlu bayar pesangon. Tapi perusahaan juga ga mau nge-kontrak karyawan langsung setahun karena ga mau gambling.
Karena sejatinya PKWT ga boleh ada masa probation, jadilah akal2an perusahaan buat ngadain “probation” untuk PKWT dengan bikin 2 kontrak. Kontrak “percobaan” (biasanya 3 bulan/6 bulan) dan kontrak yang sebenarnya (biasanya per tahun dan dapat diperpanjang sampe 5 tahun).
Jadi, perusahaan dapat untung 2 kali. Tetap bisa ngelakuin “probation” dan ga perlu bayar pesangon kalau mecat karyawan.
Also, lebih gampang juga ngelepas karyawan yang kontrak daripada yang tetap. Tinggal ga diperpanjang aja kontraknya, beres.
I hate when people glorify overworking. Giving up sleep, proper nutrition, exercise, rest, time with friends and family, and never using your days off or PTO isn't admirable. Too many people wear burnout like it's a badge of honor. It isn't. It's nothing to be proud of.
UEFA udah declare perang. Bukan ke negara mana pun tapi ke FIFA.
Ceferin ogah hadir final Piala Dunia 2026. Alasannya? karena FIFA udah keterlaluan.
Kasus Balogun jadi pemicu. Kartu merah, larangan main — udah dikonfirmasi FIFA. Tapi Trump telepon Infantino, dalam hitungan jam hukuman dibatalin. UEFA bilang ini "nggak bisa dipahami, nggak bisa dibenarkan."
FIFA juga gagal jaga independensi wasit dari tekanan politik. Iran dijadiin korban. UEFA langsung tunjuk wasit yang dipulangkan AS buat final Piala Super mereka — sinyal keras.
Dan Euro 2028? 40% tiket harga terjangkau, tanpa dynamic pricing. Langsung tantang model bisnis FIFA.
Dua otoritas, satu klaim: siapa yang beneran pegang kendali atas sepakbola.
Lo pikir ini cuma soal bola?
The richest 1% now have as much wealth as the bottom 90% of America combined.
This is exactly why the Trump administration is fearmongering about communism.
They are trying to make communism the “boogeyman” to deflect from the fact that capitalism is robbing you blind.
O comentarista suíço David Lemos, encerrou a transmissão resumindo com precisão os problemas desta Copa do Mundo, ele foi perfeito.
🗣️"Não há dúvidas de que esta foi a Copa do Mundo mais comercial da história e também uma das mais politizadas."
"Não esqueceremos os preços que pessoas sem grande poder aquisitivo tiveram de pagar para viver sua paixão pelo futebol."
"Em alguns casos, sequer puderam entrar no país por causa de sua nacionalidade, fossem torcedores, jornalistas ou até árbitros, como o somali Omar Artan."
"Também lembramos do tratamento inaceitável dado à seleção do Irã, que não pôde defender suas chances de forma adequada durante o torneio."
"E há ainda o caso de Folarin Balogun. Vimos um presidente se vangloriar de ter ligado para o presidente da FIFA para conseguir retirar a suspensão de um jogador."
"A política se infiltrou no coração do futebol, embora a FIFA afirme querer mantê-la acima de tudo. Fica claro que isso só vale até certo ponto."
"Foi uma Copa do Mundo em que todas as partidas foram disputadas em quatro tempos, e cuja final teve um intervalo de quase 30 minutos."
"A crise tem dois nomes: dinheiro e poder. Hoje existe uma crise de confiança entre muitos dos envolvidos no futebol e a FIFA."
"Nas próximas semanas, muito dinheiro será distribuído a diversas federações e a muitos agentes do futebol, que serão educadamente convidados a permanecer em silêncio."
"Esperamos que tudo isso seja levado em consideração e que não volte a acontecer."
Lu mau tau ga Customer Services paling luar biasa yg pernah gw temui?
Di Melbourne, ada burger terenak ke-14 dunia, Charrd.
2 hari lalu gw kesana, ngantri 30 menit buat beli 3 burger ama satu fries. Temen gw minta no cheese.
Eh ternyata yg burger no cheese nya lupa dimasukin ke bag. Padahal tu temen gw uda ngabisin friesnya.
Gw balik, cuma bilang "eh gw tadi pesen atas nama joel (nama di melb gw karena dzulfikar sering dipanggil zoo atau zulkafir)"
Dia langsung ngeh trus nanya kalo tadi yg kurang burger ya, gw jawab iya.
Ga minta receipt, langsung dibikinin baru. Managernya nyamperin kita minta maaf, nawarin refund. Gw bilang gosah, gw mau burger aja. Trus nanya sapa yg pesen no cheese, temen gw namanya luis ngaku.
Si luis di tawari fries baru (padahal dia abisin sendiri itu fries), awalnya gamau tapi manager maksa. Trus di okein. Managernya terus nawarin lemonade, Luis nolak tapi dipaksa, akhirnya mau.
Pas nunggu burger jadi, managernya liat bag 2 burger gw yg uda jadi kan. Dia minta burger gw trus bilang "gw gamau liat burger gw dimakan dingin2" then diganti baru plus ditambah fries segambreng.
Kita sampe ngucapin terima kasih bolak balik.
Ga sampe situ, tiba2 gw dapet notif kalo duit gw direfund sebesar burger no cheese + fries.
Managernya ganti tanpa ba bi bu, nemenin ngobrol sampai burger jadi, diprioritaskan langsung jadi, ganti burger dingin yg bahkan kita ga minta, ngasih fries dan lemonade gratis. Pas pergi pun dibabai in sambil bilang "besok kesini lagi ya"
Ginilah cara handle customer yg LUAR BIASA dan bikin kita semua balik lagi