Humaniora akan diseleksi ketat oleh partai dan partai menetapkan dialektika materialis dan materialisme sejarah sebagai doktrin resmi dalam praktik pengorganisasian ilmu
Kalo kata saya, kita terjebak dalam anggapan bahwa tulisan merupakan pantulan dari pikiran; tulisan BUKAN merupakan alat berpikir.
Ini mewujud lebih jauh dalam anggapan bahwa kita harus "membaca agar bisa menulis", daripada "menulis agar kita tahu apa yang belum kita tahu".
Anak-anak terus menjadi korban ketidakbecusan negara mengelola program bancakan yang diselenggarakan tanpa standar yang jelas.
PBNU nggak ada komentar apa-apa ya soal ini?
18! Gw udah 30 tapi belum nikah. Tetangga dan sodara2 pada nyuruh nikah cepet, semakin tua semakin susah ngelahirin.
Risih banget serasa ditanya, "kapan dong diewongnya?"
Di indo itu rahim milik bersama, tapi ketika anak kenapa2, cuma yg ngelahirin yg disalahin.
Menggelikan sekali teknokrat2 yg punya afiliasi ke ormas elit agamawan ni sibuk merayakan suksesi dari elit agamawannya bahkan termasuk mereka yg berlatar belakang ilmu sosial. Y pantes aja klu yg mereka lakukan sebenarnya cuma bikin stempel utk melanggengkan relasi dg elit2 mrk.
Catatan: Anak "Sastra Indonesia" yang mengambil fokus "Sastra".
Atau, kalau idealnya seperti itu (menjadi "kritikus sastra"), maka barangkali linguistik berdiri sendiri sejak level S1, lepas dari sastra (karena toh memang berbeda).
Btw, kamu kuliah jurusan apa?
Kalau jurusan sastra, saya mau info saja. Anak Sastra Indonesia memang gak didesain jadi penulis, mereka didesain jadi kritikus (walau gak tahu apa bener bisa ngritik)
Coba cek, berapa banyak penulis TOP/Sastrawan Indonesia yg jurusan sastra?
Kekeliruannya terletak pada pemahaman bahwa "belajar di prodi sastra" = "belajar memproduksi karya sastra". Padahal, jelas, yang satu hermeneutis, yang satu lagi heuristis.
Kalau memang ada hubungan antara keduanya, sifatnya tidak kausal.
Pertama, desain jurusan sastra Indonesia bukan untuk jadi penulis. Dapat dilihat dari mata kuliah selama 4 th.
Teori Sastra, psikolinguistik, sosiolinguistik, Fonologi dkk, Sejarah Sastra, Metpen Sastra, Psikologi Sastra, Pascastrukturalis, Sastra Anak, dsb
Kata elit gerakan ini adalah "bentuk kritik ekonomi rakyat kepada pemerintah." Tapi apakah warung madura itu benar2 ekonomi rakyat/usaha perseorangan utk sekadar bertahan hidup atau sebenarnya punya kelas atas yg punya bnyk warung karena ini kan berjejaring jg? gmn pekerjanya?
"emg apalah kkn kl bukan sbg wadah mahasiswa turun ke masyarakat"
KKN adalah instrumen depolitisasi mahasiswa bagi perluasan kontrol negara yang dikonstruksi dari kepentingan Perang Dingin dengan mentalitas kolonial guna mereproduksi elit yang patuh pada dogma pembangunanisme.
Dosen dan kontroversi di balik kerja sampingannya.
Tidak sedikit mahasiswa yang mengira gaji dosen itu besar. Dosen punya mobil rumah dsb. Oleh sebab itu, ketika kasus bergulir di MK, barulah lebih banyak yang tahu gaji dosen sebenarnya berapa saja.
Bahwa dosen cari penghasilan tambahan itu nyata. Bahwa antardosen kadang dikondisikan saling jegal demi tugas atau jabatan itu memang ada di mana-mana.
Bahwa untuk dapat hibah penelitian harus bersaing dengan puluhan ribu dosen lain itu juga riil.
Bahwa istri/suami dosen juga harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup juga sudah biasa, bukan lagi fenomena.
Ada pula dosen yg mendekat ke rezim hingga mulai kehilangan marwahnya sebagai akademisi itu juga nyata.
Bahkan ada banyak dosen yg meluangkan waktu untuk yapping dan jbjb di X untuk cari tambahan penghasilan itu juga nyata.
Semua motif dosen sejatinya adalah ekonomi, bukan ketenaran.
@icukprayogi@haspelmath Stlh Minimalist Program yg mereduksi seluruh operasi tata bahasa mnjd Merge, pertanyaan2 ttg interface (misal, "apakah klitik merupakan kata atau afiks?" atau "apakah oblique tersubkategorisasi?") mnjd tren di antara para linguis. Distributed Morphology adalah salah satunya.