Alasan orang udah nggak nonton drakor lagi:
1. Makin susah nemu drama yang bikin penasaran sampai tamat
2. Baru 2–3 episode udah mulai bosan
3. Kebanyakan drama bagus malah nggak sempat ditonton
4. Nunggu tamat dulu karena males nunggu episode tiap minggu
5. Terlalu sering ketemu plot yang terasa mirip
6. Sekarang kalau drama nggak langsung menarik, gampang di-drop
7. Pernah kena drama yang ending-nya mengecewakan, jadi kapok 😭
8. Udah nggak seantusias dulu sama aktor/aktris tertentu
9. Mood nonton ada, tapi nggak mood buat ngikutin cerita panjang
10. Ujung-ujungnya cuma lihat editan di TikTok/X terus merasa udah nonton dramanya
Kalau aku mood nonton drakor selalu ada cuma ya itu pilih-pilih drakor yang mau di tonton kecuali aktor/aktris favorit aku yang main, langsung gas ditonton tanpa mikir panjang.
Kalau kalian sendiri, alasan paling relate yang mana? Atau ada alasan lain sampai sekarang udah jarang banget nonton drakor?
lu mengisolasi diri tiap lagi sakit atau ngerasa nggak nyaman, karena dari kecil lu belajar kalau nggak ada yang bakal datang buat nenangin lu kan? jadi sekarang tiap lagi kenapa-kenapa, refleks lu malah ngejauh, ngilang, dan ngurus semuanya sendiri.
NAIKKAN GAJI KAMERAMENNYA SERU BANGET WOI, SUKAAA 😭🤣
“aduh..kaki saya kejepit pak”
“disini banyak minuman alkohol pak”
“woi kamera saya rusak pak”
jujur greget banget liat petugas ombudsman dihalang-halangi mulu. kayakk….itu lagi menjalankan tugas woi, ketahuan banget lagi menutup-nutupi bangkai.
untung ibunya langsung gercep masuk, disinilah memang pentingnya peran perempuan 😌
btw jadi ingat film joko anwar 😃☝🏻
#Ombudsman #LapasCibinong
Jangankan besok, sampe alam semesta ini kiamat dan langit dirobek-robek hingga malaikat turun dan berdiri bersaf-saf di hadapan seluruh makhluk, semuanya sudah tercatat.
Ter-maktub. Artinya? Sudah terjadi, dalam perspektif Allah, semua sudah terjadi.
Dari perspektif manusia? Belum Terjadi. Lalu kenapa kontradiktif? Kalau begitu tidak ada kehendak bebas? Untuk apa beribadah?
Di sini biasanya orientalis memelintir iman kepada qada dan qadar yang tidak utuh.
Ter-maktub (Ter-tertulis), di Lauhul Mahfuz, Al-Qalam mencatat seluruh event sampai final season tanpa sedikitpun luput. Kata kuncinya adalah "mencatat seluruh event". Bukan malah "menetapkan event"
Al-Qalam tidak mengetahuinya, itu adalah pengetahuan Allah. Al-Qalam hanya mencatatnya, sama seperti notulen rapat yang kerjanya cuma mencatat hasil rapat.
Lalu, dalam pengetahuan Allah yang tiada hulu dan muaranya ini,
1. Allah telah mengizinkan segala sesuatu terjadi pada saat kejadian tersebut terjadi, real time, kalau dalam bahasa kerennya, "ini adalah penciptaan dan penghancuran yang terus berulang"
2. setiap kejadian yang terjadi atas pilihan manusia, yang lalu membuat cabang kemungkinan pilihan lain yang terjadi karena manusia memilih, semuanya telah Allah ketahui dan Allah izinkan.
3. Allah telah mengabulkan segala doa yang dipanjatkan, bahkan doa di masa depan yang belum kamu katakan, rintihan yang belum terjadi. semuanya telah Allah kabulkan.
Di sisi Allah, semua telah final. Di sisi manusia, belum. Kenapa?
1. Karena di sisi manusia, ini belum terjadi.
2. Cabang selanjutnya dari pilihan yang kita ambil, kita tidak mengetahuinya
3. Masa depan dan doa yang kita panjatkan, kita juga belum mengetahuinya.
Untuk lebih singkatnya, bayangkan sebuah buku.
1. Chapter pertama berjudul The Creation of Universe.
2. Chapter kedua berjudul The War of Angel and Demon.
3. Chapter ketiga berjudul The Creation of Khalifah.
4. Chapter keempat berjudul The Betrayal of Heaven Above Heaven, The Birth of Heavenly Demon.
5. Chapter kelima berjudul Chaos on Earth, War on Djin.
6. Chapter keenam berjudul Noah's ark.
7. Chapter ketujuh berjudul Post Apocalyptic Era, The Rise of Civilization
8. Chapter kedelapan berjudul The Tower of Babel, Humanity Against the God
9. Chapter kesembilan berjudul, Ibrahim
10. Chapter kesepuluh berjudul, The Era of Apostle
11. Chapter kesebelas berjudul, The Turbulence of Truth, The Birth of Humanity Most Evil Enemies
12. Chapter keduabelas berjudul, The Last Apostle
13. Chapter ketigabelas berjudul, The Interim
14. Chapter keempatbelas berjudul, The Coming of Mahdi
15. Chapter kelimabelas berjudul, Malhamah Qubra, The Armageddon
16. Chapter keenambelas berjudul, The Coming of Dajjal the Anti-Christ
17. Chapter ketujuhbelas berjudul, Dead Man Tell no Tales, The Dead of Anti-Christ
18. Chapter kedelapanbelas berjudul, Ya'juj Ma'juj (Gog and Magog) and the era of destruction
19. Chapter kesembilanbelas, Second Post Apocalyptic Era, The End Times
20. Chapter keduapuluh, The Death of the last believer and the destruction of Ka'bah
21. Chapter keduapuluhsatu, The Apocalypse
22. Chapter keduapuluhdua, The Judgement Day
Kita adalah karakter dari buku tersebut. Bagi sang pemegang buku, cerita sudah final. Tapi bagi karakter di dalamnya? belum, Karena instead of novel-novel yang akhir karakternya ditentukan oleh Penulis, Buku Lauhul Mahfuz ini berisi catatan kejadian yang nasib karakternya dipilih dan ditentukan oleh mereka sendiri.
Pilihan nasib tersebut diizinkan oleh Sang Pencipta, dan permintaan pertolongan tersebut diberikan olehNya. Semuanya tercatat dan akan dipertanggungjawabkan.
Tidak ada ruang dan waktu bagi Sang Pencipta dan Sang Penulis, karena ruang dan waktu tersebut ada di dalam genggamannya.
Btw, kita lagi dichapter ketiga belas.
no one talks about the personality shift in your 30s where you no longer want to be impressive you just want to be rested, regulated, and completely unavailable to anything that drains you
Mirip yg gw pikirin.
Guru yg masih ngajar pake hafalin perkalian jadi diejek2 karena ga memicu higher thinking skills.
Tapi bayangin lu ngerjain kalkulus atau aljabar linear yg perlu higher cognitive tapi working memory lu masih kerja penjumlahan berulang untuk 6×7.