Untuk verifikasi, saya unduh videonya, saya transkripsikan dan terjemahkan dengan bantuan AI.
Berikut isi video di bawah ini:
Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, mengakui bahwa penyebaran paham Wahabi yang keras oleh negaranya merupakan permintaan dari pihak sekutu, dalam rangka menghadapi meluasnya pengaruh dan penetrasi Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia menyatakan bahwa pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya telah menempuh jalur penyebaran paham Wahabi yang ketat. Ia menegaskan bahwa kini saatnya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang semestinya.
Dalam pernyataan yang sarat pengakuan, Muhammad bin Salman menyebut bahwa penyebaran paham Wahabi oleh negaranya merupakan sebuah keniscayaan yang didorong oleh kepentingan serta tekanan Barat terhadap Riyadh, guna membendung ekspansi pengaruh Uni Soviet selama Perang Dingin.
Akar dari investasi Saudi dalam pembangunan sekolah dan masjid bermula pada periode Perang Dingin, ketika sekutu meminta Arab Saudi untuk memanfaatkan sumber dayanya demi mencegah Uni Soviet memperluas pengaruhnya di negara-negara Islam. Ia menambahkan, “Saya percaya bahwa Islam itu rasional dan sederhana, tetapi ada pihak-pihak yang mencoba membajaknya.”
Dengan demikian, Perang Dinginlah yang, menurut pernyataan Putra Mahkota, mendorong Riyadh melakukan kebijakan tersebut. Namun, saat ini Riyadh harus menanggung konsekuensi dari pemanfaatan dana-dananya oleh Barat dalam perang melawan ideologi komunis.
Di sisi lain, terdapat pengakuan terbuka dari sang pangeran muda bahwa berbagai tuduhan yang diarahkan kepada rezim Al Saud, terkait pendanaan kelompok ekstremis dan teroris secara ideologis, merupakan akibat dari arah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang benar. Pendanaan terhadap paham Wahabi saat ini, menurutnya, sebagian besar berasal dari lembaga-lembaga swasta yang berbasis di kerajaan, bukan dari pemerintah. Ia juga menyebut bahwa dialog dengan institusi keagamaan telah berlangsung lama.
Yang mencolok dari pernyataan-pernyataan ini adalah adanya kontradiksi yang jelas dengan fondasi Wahabi yang menjadi dasar berdirinya Arab Saudi modern. Penafsiran-penafsiran fikih yang khas dari lingkungan Saudi, yang di masa lalu turut memicu konflik dan bahkan menyeret sejumlah negara ke dalam perang saudara multidimensi, seperti di Aljazair pada tahun 1990-an, kini kembali menjadi sorotan.
Hal ini memunculkan pertanyaan: apa dampak dari pernyataan Mohammed bin Salman terhadap masa depan arus Salafi, khususnya di Aljazair?
Ada temen gw yang kerja di kantor pusat kawasan Gatot Subroto.
Posisinya udah Director level, belasan tahun hidup di dunia corporate.
Tiba-tiba dia announce di townhall kecil tim:
Dia pindah ke Malang.
Resmi relokasi base kerja ke sana.
Alasannya kedengeran dewasa banget.
“Gw mau deket sama orang tua. Kerja tetap serius, tapi hidup nggak cuma soal meeting room dan traffic.”
Gaji dia di Jakarta 55 juta.
Take home sekitar 47 jutaan.
Semua orang mikir: aman lah, mau tinggal di mana juga tetap tajir.
Perusahaan approve.
Tapi ada satu kebijakan yang jarang dibahas detail:
Regional Pay Adjustment Scheme.
Intinya simpel:
Base salary dan allowance mengikuti indeks biaya hidup sesuai lokasi penugasan resmi.
Dia tanda tangan addendum digital sambil jalan ke meeting berikutnya.
Scroll. Klik. Done.
Bulan pertama resmi berkantor dari Malang, gaji masuk.
Take home: 31,2 juta.
Turun lumayan jauh.
Dia nggak ngamuk.
Cuma chat gw satu kalimat:
“Ini final ya? Bukan sementara?”
Gw sempat duduk bareng dia di Zoom hampir sejam, bongkar satu-satu breakdown dari HR.
Yang hilang:
• Big City Incentive 4 juta
• Executive transport allowance 3,5 juta
• Urban living premium 2,2 juta
Yang muncul:
• Regional adjustment buffer 1,5 juta
• Area operational support 900 ribu
Di Jakarta dulu pengeluarannya kira-kira begini:
• Apartemen pusat kota 16 juta
• Supir + operasional mobil 6 juta
• Lifestyle & networking event 8–10 juta
• Total bisa nyentuh 38–40 juta
Di Malang sekarang?
• Rumah dua lantai sewa tahunan kalau dibagi per bulan sekitar 7 juta
• Mobil tetap ada tapi tanpa supir, operasional 2 juta
• Makan enak, ngopi, hangout paling 3–4 juta
• Total sekitar 14–15 juta
Secara angka?
Sisa uangnya justru lebih longgar.
Tapi dia tetap merasa ada yang “lepas”.
Karena 55 juta itu bukan cuma soal cash flow.
Itu simbol.
Simbol bahwa dia main di liga elite ibu kota.
Simbol bahwa dia masuk ruangan dan orang otomatis respek.
Sekarang nominalnya turun.
Egonya ikut goyang.
Dia sempat bilang di telepon:
“Rasanya kayak downgrade ya?”
Gw jawab pelan:
“Downgrade itu kalau tanggung jawab lo dikurangin.
Ini cuma lokasi kerja yang berubah.”
Empat bulan berlalu.
Update terbaru?
Dia tiap pagi bisa sarapan sama orang tuanya.
Sore olahraga tanpa harus mikirin macet.
Weekend nggak lagi habis di mall, tapi ke gunung atau kebun apel.
Dan yang nggak disangka:
Dia mulai investasi waktu buat bikin advisory kecil untuk bisnis manufaktur lokal.
Fee per proyek 20–30 juta.
Sekarang sebulan bisa ambil satu atau dua proyek ringan.
Total penghasilan?
Balik lagi bahkan kadang lewat dari masa Jakarta.
Tapi yang paling beda bukan nominalnya.
Ekspresinya.
Waktu terakhir gw video call sama dia, dia bilang:
“Dulu gw takut kalau nggak di Jakarta, karier gw mengecil.
Ternyata yang mengecil cuma gengsi.
Yang membesar itu hidup.”
Yang berubah bukan cuma kota.
Tapi standar tentang apa itu “naik level”.