In this short life, may our success be louder than our pains, doubts, and struggles. Stay low, cause the life you've build is everything you once cried for๐keep goin
Pantesan tabungan gak pernah nambah. Ternyata Aku sering melakukan dosa kecil yang dianggap sepele.
Ini 5 dosa kecil yang diam-diam bikin rezeki seret. Nomor 3 sering diabaikan.
Pagi ini gue nonton Podcast Rizky Arief (Founder HMNS) dengan Raditya Dika.
Ekspektasi awal gue mau cari ilmu sekalian nyetir mobil, ternyata insight yang gue dapetin tumpah-tumpah banget.
Ini gue bahas 3 poin utama yang gue pelajari ya!
๐ญ. ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ถ ๐ป๐ผ๐น๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ด๐ฎ๐ท๐ถ ๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ด๐ถ๐, ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ต๐ฎ๐น ๐น๐๐น๐๐๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐๐ง๐. ๐๐ต ๐บ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ต ๐ธ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ด๐ฎ๐ท๐ถ ๐ฏ๐ฑ๐ฌ ๐ฟ๐ถ๐ฏ๐, ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐ฝ๐ฎ๐๐๐ถ๐ผ๐ป.
Ini kaya gue jadi dokter, terus gue gak mau kerja jadi dokter, karena passion gue bukan itu. Keren banget sih!
๐ฎ. ๐๐ฎ๐ฟ๐ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ ๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐๐ข ๐๐ถ๐๐๐ฒ๐ฟ ๐ฐ๐ผ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ป๐ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ฏ๐ฎ๐ด๐๐.
Ini juga jalur karir yang gak konvensional sih. Baru juga setaun langsung CEO tuh gimana ceritanya. Fast-track banget, tapi pasti nunjukin performanya gak main-main.
๐ฏ. ๐๐ฒ๐น๐ถ ๐บ๐ฒ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ ๐ฝ๐ฎ๐ฟ๐ณ๐๐บ ๐ฑ๐ถ ๐๐ป๐ฑ๐ผ๐ป๐ฒ๐๐ถ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ฎ๐ ๐ถ๐๐ ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ถ๐ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ถ๐ป๐ป๐๐ฎ, ๐๐ฒ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ ๐๐ ๐ก๐ฆ.
Nah masalahnya, ini orang cabut dari sister company karena gak dapet share 15%, setelah omset naik sekitar 100 kali lipat. Berani banget sih. Terus dia bikin perusahaan konsultan dulu, terus gak puas karena nasihatnya gak dilakuin dengan benar oleh perusahaan lain.
Akhirnya dia bikin perusahaan sendiri yaitu HMNS, buat ngasih contoh marketing yang baik itu gimana.
Dahlah, gue gak bisa berkata-kata nontonnya. Banyak banget belajar gue nonton podcast ini.
Guys, lu pada tau Gayus Tambunan?
Pegawai pajak.
Golongan 3A.
Gaji sekitar Rp12 juta sebulan.
Yang punya rekening Rp28 miliar.
Dan itu baru yang ketahuan.
Gayus Halomon Tambunan lahir 1979 di Jakarta. Kerja di Direktorat Jenderal Pajak tepatnya di subdirektorat banding pajak.
Posisinya bukan posisi strategis tingkat tinggi.
Dia bukan direktur.
Bukan pejabat eselon satu.
Tapi posisinya adalah posisi kunci.
Karena di situlah ditentukan nasib sengketa pajak antara perusahaan-perusahaan besar dan negara.
Di sinilah pajak miliaran bisa dikurangi.
Sanksi bisa dihapus.
Dan semua itu dengan imbalan tertentu.
Dan sistem pengawasannya?
Nyaris tidak ada.
Ini yang bikin gue diem lama.
Gayus bukan orang yang tiba-tiba jadi jahat.
Dia adalah produk dari sistem yang memberinya kekuasaan besar tanpa kontrol memadai.
Dalam kultur birokrasi yang sudah terlanjur permisif terhadap penyimpangan.
ICW bilang posisi Gayus adalah posisi kunci dalam ekosistem mafia pajak.
Dan hampir mustahil dia mengelola aliran dana miliaran sendirian tanpa bantuan atau perlindungan dari internal DJP, institusi perbankan, atau aparat penegak hukum.
Gayus bukan pelaku tunggal.
Dia simpul kecil dari jaringan yang jauh lebih besar.
Lalu kasusnya meledak.
Dan negara mulai bergerak.
Tapi geraknya aneh.
Dari rekening Rp28 miliar yang ditemukan penyidikan awal hanya menjerat Gayus dalam satu kasus penggelapan pajak senilai Rp395 juta.
Rp395 juta.
Dari rekening Rp28 miliar.
Ini bukan ketidakmampuan investigasi.
Ini pilihan.
Pilihan untuk melihat sesempit mungkin supaya yang di balik Gayus tidak perlu disentuh.
Dan hasilnya?
Maret 2010 Pengadilan Negeri Tangerang membebaskan Gayus.
Bebas.
Dengan rekening Rp28 miliar yang sumber uangnya tidak pernah dijelaskan secara memadai.
Publik marah.
Dan kemarahan itu masuk akal.
Tapi yang paling gila bukan vonisnya.
Yang paling gila adalah September 2010, ketika Gayus sudah berstatus tahanan, publik dikejutkan oleh foto yang beredar di media.
Gayus dengan rambut palsu dan identitas palsu ketahuan nonton turnamen tenis internasional di Bali.
Sebagai tahanan.
Yang seharusnya ada di balik jeruji.
Dan ini bukan kebetulan.
Ini bukan kelalaian.
Gayus sendiri mengaku dia membayar oknum petugas rutan dan aparat agar bisa bebas bergerak.
Dia tidak kabur lewat tembok.
Dia jalan keluar lewat pintu yang sengaja dibuka.
Dan dari sini semuanya mulai terbongkar bukan karena sistem bekerja.
Tapi karena media bekerja.
Foto-foto itu tersebar.
Investigasi jurnalistik masuk.
Publik menekan.
Dan baru setelah tekanan itu mencapai titik didih negara mulai bergerak serius.
Ini yang kemudian dikenal sebagai asal-usul istilah yang kita kenal sekarang no viral, no justice.
Tanpa foto itu mungkin Gayus selesai dengan dakwaan kecil dan hukuman ringan.
Dan dunia tidak pernah tahu.
Akhirnya Gayus masuk pengadilan serius.
Januari 2011 vonis 7 tahun.
Publik marah, jauh dari tuntutan jaksa yang 20 tahun.
Banding naik jadi 8 tahun.
Masih dianggap tidak sebanding.
Kasasi ditolak Mahkamah Agung.
Tapi kasus tidak berhenti di satu perkara.
Satu per satu kasus lain disidangkan terpisah pencucian uang, pemalsuan paspor, penyuapan pejabat rutan, suap aparat.
Total akumulasi hukuman dari semua perkara sekitar 30 tahun penjara.
Tapi ini yang paling penting dan paling jarang dibahas.
Di ruang sidang, Gayus mulai bicara.
Dia mengaku tidak bekerja sendirian.
Dia sebut nama-nama.
Dia klaim ada oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim yang terlibat dalam jaringannya.
KPK memeriksa.
Media meliput.
Publik berharap.
Dan kemudian sunyi.
Sebagian besar nama yang disebut Gayus tidak pernah benar-benar sampai ke meja pengadilan. Pengakuannya berhenti jadi wacana.
Tidak berkembang jadi tersangka baru dalam skala besar.
Dan ini adalah pola yang selalu berulang di Indonesia.
Individu dihukum.
Sistem diselamatkan.
Gayus dipenjara 30 tahun.
Tapi struktur yang memungkinkan mafia pajak dan mafia hukum tumbuh tidak pernah sepenuhnya dibongkar.
Pertanyaan yang paling jujur dari kasus ini bukan berapa tahun Gayus dipenjara.
Tapi apa yang benar-benar berubah setelah Gayus?
Apakah sistem perpajakan lebih bersih sekarang?
Apakah posisi-posisi kunci di DJP sekarang punya pengawasan yang memadai?
Apakah masih ada Gayus-gayus lain yang belum ketahuan kamera?
Kalau jawabannya tidak pasti maka kasus Gayus Tambunan bukan sejarah yang sudah selesai.
Matematika Paling sulit:
Gaji 2.5 Jt
Nabung 2 jt
------------------- -
Sisa 500rb untuk hidup 30hari.
Beliau sepertinya mengamalkan QS. At-Talaq ayat 2-3 yg bermakna bahwa rezeki datang dari segala arah, seringkali tak terduga, bagi mereka yang bertakwa, bertawakal, dan berusaha maksimal ๐คฒ