Selama perjalanan, transit di stasiun Bekasi dan Jatinegara hingga mengakhiri tujuan di stasiun Gambir.
Dan akhirnya, sampai di stasiun Jatinegara jam 07.50.
Pelajarannya, dimana ada tiket murah, disitu pasti masyarakat menyerbu 😁
#KAI
Kalau berpatokan ke gmaps, kecepatan rata2 kereta di 100 km/jam bahkan bisa lebih. Bagi saya yg jarang naik kereta jarak jauh, ini sangat bisa diandalkan sih dalam hal konsistensi waktu.
After you get married, you’re going to meet ‘better’ people than your spouse. You’re going to meet more good-looking people; kinder and more romantic people; more intelligent and funny people. You will meet people who have in abundance what your partner lacks. The mushy and romanticized idea that your partner will be everything to you, and will satisfy all your needs and wants is idolatry. Contentment in marriage is a virtue not often spoken about.
You must wake up every day appreciating everything your partner is to you, everything they have, their beauty and the things that made you marry them because if you focus on everything they don’t do well, you’ll always meet better people. Protect your heart! See their best part, and always remember that your commitment to marry is more of a duty than it is of mushy feelings. You have to stay committed even on the days you feel your spouse is no longer the best fit for you…
-Buchi
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
menjaga pandangan berlaku untuk kedua gender
menutup aurat berlaku untuk kedua gender
kewajiban nafkah memenuhi kebutuhan keluarga ada di suami
kewajiban menjaga harta suami ada di istri
stop saling tunjuk dan nyalahin lawan jenis, sadar diri buat menuhin kewajiban masing2.
Kata Allah “janganlah kalian mendekati zin
Zina ini gacuma seks ya guys. Dari mulai nonton porno, liat2 lawan jenis seksi buka aurat, imajinasi 18+, masturb dgn sengaja sendirian, bahkan menjalin hub dgn lawan jenis apapun statusnya/namanya selama belum menikah walau cuma chat, telp, vc bahkan pegangan tangan itu jg termasuk zina.
⛔️Beware⛔️
Secara hukum, pulau yang luasnya kurang dari 2.000 km2, tak boleh ditambang.
Pulau Wawonii luasnya 800 km2. Ada tambang nikel PT Gema Kreasi Perdana (Harita Group). Warga ditangkap dan dikriminalisasi. Penduduk 5 desa kesulitan air bersih.
Rekaman dari Ekspedisi Indonesia Baru.
Ini cerita tentang Pak Andy dgn nomer lambung PT830 - driver @Bluebirdgroup yg taksinya saya naiki kemarin dari Bandara Soetta ke Hotel.
Cerita ttg rejeki + ikhtiar + keikhlasan + menjaga hati
- a short thread -
Selamat siang, Temankeu!
Minkeu akan jelaskan tentang dugaan transaksi mencurigakan sebesar Rp349 T yang dikaitkan dengan Kemenkeu yang ramai akhir-akhir ini.
Simak baik-baik ya.
Jangan tanya prestasinya, itu amat sangat luar biasa. Dan maka dia pernah didaulat menjadi Menteri Keuangan terbaik di dunia.
Dan lalu, atas satu peristiwa, tiba - tiba banyak sekali pihak ingin dia mundur. Tak hanya sekali tagar agar dia mundur dipaksakan terus dan terus muncul dalam landscape media sosial.
Bila sebab tak terkait akibat, bila nalar tak memberi ruang masuk akal bagi sebuah peristiwa dan namun itu tetap hadir, ini pasti settingan. Ini pasti politis.
Politik, pada satu wajah yang lain memang tak membutuhkan nalar tapi glorifikasi.
Bisa jadi, di balik mereka yang lantang berteriak ingin dia mundur, sudah dengar bisik - bisik menakutkan. Hanya mereka yang ketakutan yang punya urgensi menghabisi di tengah jalan sebelum mereka benar - benar habis.
#SayaBersamaSriMulyani