Malaysian MP Kalam Salan speaks in Javanese as he calls on Prabowo Subianto to address Indonesia’s forest fires, which have caused haze affecting Malaysia’s health, education, and tourism sectors.
Delegasi Indonesia ikut walk out saat PM Israel Benjamin Netanyahu hendak berpidato di Sidang PBB pada Kamis (25/9).
Tampak delegasi Indonesia berdiri dan mengambil tas mereka lalu meninggalkan bangku.
Sebanyak delegasi dari 77 negara walk out dan absen saat Netanyahu mulai berpidato.
Melihat hal tersebut, Netanyahu merespons dengan sinis delegasi yang WO, bahkan menyebut mereka pengecut.
#cnnindonesia #cnnindonesiacom #UN
Tapi, masalah hunian yang ga terjangkau sama KRL ini bukan 100% masalah transportasi, melainkan tata ruang. Transportasi umum itu basically adalah prasarana, yang harus disediakan dan siap digunakan sebelum permukiman dihuni.
Masalahnya, developer dan pemerintah suka membangun kompleks perumahan secara 'ngasal' ceplok sana ceplok sini, yang dalan urban planning disebut sebagai leapfrog development atau pembangunan lompat katak–karena cirinya yang emang lompat lompat tanpa ada pola dan rencana yang jelas.
Prasarana (jalan, sanitasi, termasuk transportasi umum juga) itu memang yang seharusnya membentuk kota, baru persil-persil mengikuti pola jaringan yang ada. Bukan malah sebaliknya, bangun rumah di sana sini, prasarananya suruh ngikutin.
Ada berita bagus, tapi lebih banyak berita buruknya:
(+) Stasiun JIS tetap buka, tetap bisa keluar & masuk stasiun, tapi...
(-) Akses Stasiun hanya melalui pintu darurat ke arah Jl. R.E. Martadinata, yang mana.... (cont)
Apa gunanya ada fasilitas stasiun di JIS kalau akses stasiunnya aja malah ditutup saat ada event?
Promotor konser The Weeknd yang digelar di Jakarta International Stadium (JIS) pada 26-27 September 2026, mengumumkan kalau akses Stasiun JIS akan ditutup selama event berlangsung.
Padahal orang-orang udah pada happy ada stasiun di situ supaya bisa naik KRL kalau sewaktu-waktu ada event di JIS.
Sekarang malah jadi ada pembuktian kalau akses Stasiun JIS malah ditutup saat ada event.
Itulah kenapa masalah hunian ini gabisa dipandang sekadar menyediakan sekian juta unit = selesai. Masalahnya, itu mindset yang dipakai sama pemerintah sekarang ini.
Masalah hunian itu jauh lebih kompleks karena prasarananya juga harus dibangun. Masyarakat yang mengakses rumah subsidi juga harus disediakan prasarana jalan dan transportasi umum untuk mencapai kota.
Tapi, yang harusnya lebih didorong lagi adalah bagaimana memanfaatkan lahan dengan efisien di pusat kota sehingga rumah subsidi bisa dibangun di sana.
Banyak bangunan terbengkalai dan lahan tidur bahkan di sekitar Jl. Sudirman yang kalau dipakai bangun hunian vertikal terjangkau, berapa orang bisa tinggal di sana.
Di Lenggang Jakarta, Monas, ada dijual bermacam-macam kerajinan seni atau cendera mata khas Jakarta mulai dari miniatur, keychain, sampai pakaian.
Cuma sayangnya tempat penjualan cendera mata itu tidak senyaman dan seterkenal Central Market di Kuala Lumpur atau Bugis Street di Singapura.
Dari segi lokasi dan tempat, Lenggang Jakarta juga memang agak kurang.
Dulu berharap setelah Gedung Sarinah selesai direnovasi bakal jadi ala-ala Central Market diisi cendera mata UMKM, tetapi ternyata malah diisi barang-barang premium.
Ada satu hal lagi juga yang agak mengganggu admin soal bagaimana pemerintah seharusnya memaknai perayaan kemerdekaan ini lebih dari sekadar seremoni dan pertunjukan di Istana.
Coba turun ke kampung-kampung, ga usah daerah 3T, di Jakarta aja. Foto kiri diambil awal bulan Agustus 2026, di bantaran Kali Krukut Bendungan Hilir. Cuma 1-2 km dari Sudirman dan daerah gedung pencakar langit.
Di sana, terlihat ada gapura nuansa merah putih dan juga umbul-umbul merah putih--sebuah semangat perayaan HUT RI di akar rumput yang jauh dari sentuhan pemerintah dan ingar bingar di Istana.
Sangat miris, sudah 81 tahun merdeka, permukiman kumuh di bantaran kali di pusat kota Jakarta masih ditemui. Kalau saya berbohong dan bilang foto ini diambil 10-20 tahun yang lalu, orang mungkin akan percaya--saking tidak ada progressnya. Sayangnya, alih-alih dipandang dengan kritis, orang cenderung meromantisasi ini dengan bumbu patriotisme.
Sementara itu, foto di kanan adalah cover dari postingan @/theindigenousnarrative di Instagram, soal bagaimana balkon-balkon HDB memasang Bendera Singapura dan logo National Day.
Foto di kanan terasa sangat dalam, karena bagaimana pemerintah mampu merumahkan sebagian besar rakyatnya dalam flat HDB, mentransformasikan gaya bermukimnya, dan menjadi sebuah milestone keberhasilan yang patut dirayakan dalam hari kemerdekaan.
Stagnansi yang terlihat dari bagaimana warga negara kita bermukim sangat bertentangan dengan tujuan berdirinya Republik Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, tepatnya tujuan no 2 yaitu "memajukan kesejahteraan umum".
Pada akhirnya, negara memang terus menerus mempertahankan tradisi 17an yang dipersempit dalam bentuk lomba dan selebrasi, tanpa pernah melihat bahwa ini adalah sebuah masalah dan kegagalan negara memenuhi itu.
Malam-malam overthinking karena foto yang gue ambil beberapa hari yang lalu di sekitar Benhil. Permukiman informal begini ga nyampe 2 km dari Sudirman, dan jelas ada di tengah kota.
Kumuh, jarak antar bangunan hampir ga ada, rumahnya sempit, dan berbahaya.
Di sisi lain, dengan kondisi hunian yang jauh dari kata layak dan terlalu dipaksakan ini, masih banyak orang terutama kelas menengah yang sulit buat punya rumah di sekitar pusat kota.
Dibilang pelanggaran? Ga salah. Tapi 'pelanggaran' ini pun malah diakomodasi dalam rencana tata ruang, tanpa ada usaha untuk merumahkan kembali secara layak. Keliatan di gambar 3, kalau semuanya diakomodasi as it is kalau dibandingkan dengan citra udara eksisting (gambar 2).
Solusi yang paling possible untuk bisa menjadikan hunian lebih layak huni, efisien, dan meningkatkan angka kepemilikan hunian adalah dengan pembangunan hunian vertikal mid-rise.
Namun, karena ini menyangkut penghidupan banyak orang, proses bottom up penting supaya semua kebutuhan warga setempat bisa diakomodasi dalam model hunian yang baru.
Warga menyampaikan kebutuhan
Perencana/arsitek komunitas menerjemahkan
Warga kembali memberi masukan
Pemerintah meregulasi
Terlihat simpel tapi sebenernya engga. Banyak layer dan usaha yang harus dilakukan.
Ngomongin soal tiang di stasiun bertingkat, jujur Bang Sue Grand Station (Krung Thep Aphiwat Central Terminal), Bangkok desain konstruksi tiangnya lebih baik & efisien ketimbang Stasiun Manggarai, Jakarta.
Di Bang Sue Grand Station, penempatan struktur tiang dibuat di tengah peron. Namun, ukuran tiang dibuat lebih besar agar dapat menopang dua tingkat struktur jalur layang di atasnya & tahan terhadap gempa. Dengan begini area peron juga dapat lebih lapang & pergerakan penumpang menjadi lebih seamless.
Beda halnya dengan Stasiun Manggarai, di mana struktur tiang berukuran kecil dibuat pada sisi kanan kiri peron. Sehingga menciptakan celah sempit di pinggir/tepian peron tersebut. Tentu ini mengganggu pergerakan penumpang & sangat berbahaya untuk keselamatan apalagi saat kereta sedang melintas.
Gue bingung deh, stasiun manggarai kan stasiun Hub ya? Yang dimana expect crowded. Kenapa mereka bikin celah tiang di peron buat orang jalan tuh sesempit ini ya?
Mengintip proses pembangunan MRT antar negara Malaysia - Singapura yang sebentar lagi rampung
Jalur MRT dari Bukit Chagar (Johor) ke Woodlands North yang terhubung dengan MRT TEL langsung ke City dan nantinya ke Changi akan dibuka tahun depan
Rangkaian keretanya juga sudah siap di depo
Melihatnya kayak men kita ngurus bus kota ke luar provinsi aja ribetnya setengah mati ini lagi MRT internasional
Untuk sekelas stasiun transit sih enakny kt gue mah perbanyak aksesibilitas kayak eskalator sama lift gini. Gue gasuka ny sama MRT Jakarta tu pelit bgt sama eskalator njs