Sebuah obituari mendalam dari ZenRS mengulas sisi lain dari Andie Peci, sosok pengorganisir sejati yang menghabiskan seluruh detak hidupnya demi buruh dan Bonek Persebaya.
Pertama kali ktemu Cak Andi itu di rumah dinas Menpora tahun 2018, kalau tak salah momen meninggalnya (alm) Haringga. Ngobrol sampai jam 4 pagi.
Sbg anak bawang, saya diam aja. Tapi dengar cerita2 nya membuat saya merasa “lebih kuat” utk berjuang perbaiki sepakbola Indonesia.
Selepas itu, paling hanya pernah 2-3x bertemu. Itu pun karena saya sangat beruntung AM dan ZRS temenan akrab dengan Cak Andi.
Tapi sejak pertemuan pertama itu, saya selalu merasa Cak Andi adalah salah satu sosok panutan di urusan bal2 an Indonesia.
Rest in Peace, Cak Andie Peci
Sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok paling tulus dan berani. Perjuangan panjang Cak Andie Peci tercatat abadi dalam sejarah berupa gerakan nyata melawan ketidakadilan demi marwah sebuah klub, sebuah kota, dan sebuah prinsip.
Memoriam perjuangannya, terutama momen mengembalikan Persebaya ke kancah nasional, adalah bukti sahih dedikasi tanpa tandingnya.
Pandangan kritis beliau adalah cermin jujur yang berani dia ungkapkan dari apa yang terjadi dalam dunia sepak bola khususnya di tanah air.
Warisan pemikirannya akan terus hidup, menjadi role model bagi siapa saja yang percaya bahwa sepak bola adalah milik rakyat.
Pandit Football mengagumi dan menghormatimu, Cak. Tenang di sana.🥀
Elah orang2 ini munafik banget tae. Semua pemain level elit pasti provokasi lawan, nyuri2 kesempatan buat nyikut atau injek kaki lawan. As long as it’s only 90 minutes dan “under control” of the law of the game, yauda sih.
Bener kata mas @firzieidris today’s X is the worst.
Messi memang jarang terdengar kontroversi soal pribadinya diluar lapangan hijau tapi faktanya pemain ini memang provokator jahat, seperti apa yang dikatakan oleh Helmi Yahya mengutip buku yang diterbitkan Jerzy Dudek dan kutipan Jose Mourinho bahwa Messi adalah pemain jahat paling munafik sedunia.
JUST IN
Puluhan anggota parlemen Eropa sedang menggalang dukungan utk meluncurkan penyelidikan di Parlemen Eropa terhadap bos FIFA Gianni Infantino atas keterlibatannya dlm keputusan yg mengizinkan penyerang AS Folarin Balogun utk bermain meskipun sebelumnya telah menerima kartu merah.
Anggota parlemen Parlemen Eropa Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang mengatakan keputusan FIFA tersebut untuk mengubah aturan tentang skorsing kartu merah di tengah turnamen adalah sebuah aib dan bentuk penyimpangan keadilan.
Para anggota parlemen meminta asosiasi sepak bola nasional dari negara-negara Uni Eropa untuk mendesak Komite Etik FIFA agar menyelidiki Infantino, serta memeriksa apakah tekanan dari pemerintahan Trump menjadi faktor dalam pencabutan skorsing tersebut, di samping "potensi pelanggaran netralitas politik lainnya" seperti penganugerahan Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Trump.
Para anggota parlemen tersebut mengatakan bahwa sejauh ini sudah ada 35 rekan sejawat yang menandatangani surat tersebut.
"Sekali lagi, kita melihat Infantino dan FIFA menyerah pada tuntutan pemerintahan Trump," bunyi pernyataan tersebut.
"Keindahan dari olahraga adalah karena ia didasarkan pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika Infantino membiarkan tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, rasa keadilan ini seketika hilang begitu saja."
Via: AP
FIFA strongly condemns racism, hate and discrimination in all forms. These actions have no place in football, at the FIFA World Cup, or anywhere in society.
FIFA was made aware of an incident involving a supporter and #IShowSpeed at Miami Stadium during the Argentina vs Cabo Verde match on 3 July 2026 and immediately initiated an investigation.
The FIFA World Cup is a celebration of unity, diversity and respect. It brings together people, cultures and communities from around the world, and anyone who acts in a manner that undermines these values is not welcome in our game.
@firzieidris Kalau hasil di atas lapangan aja bisa diubah lewat kekuatan politik, apalagi kemudian yang bisa dan akan dipermainkan FIFA dan Infantino ke depan?
@firzieidris However, saya nilai Infantino (dan Trump) udah kelewat gila sih soal Balogun. Keputusan di atas lapangan hijau itu satu2 nya pro-kontra yang bisa “diterima” publik krn sepakbola cuma 90 menit. Batas akhir ini diterabas.
Madness. Ni orang bahkan dengan bangga mengaku udah coba intervensi FIFA, 11-12 sama yang bangga Indonesia gak kena hukuman karena lobi abis Tragedi Kanjuruhan.
Trump on Balogun: "I saw the play, and I'm a person that loves sports ... that wasn't a foul. That wasn't even an infraction ... this referee, who is a little bit suspect if you check his past. He made a call that nobody could believe ... he's our best player, or one of our best players. And he gave him a red card. I didn't know what that meant ... yes, I asked for a review by FIFA."
Just a reminder that shortly after being appointed president in 2017 that Infantino was instrumental in a major FIFA overhaul that ousted the two independent co-chairmen of the Ethics Committee, Cornel Borbély and Hans-Joachim Eckert. At the time, the committee was actively investigating… Infantino