ciri ciri orang sumbu pendek malas berfikir, di lingkungan TNI banyak aset rawan terbakar dari aset bergerak seperti kendaraan militer sampai aset tak bergerak seperti pangkalan
@TaliUdeng Terus kalo pangkalan tni kena rudal sampe kebakar apa harus telpon damkar dulu? Pangkalan tni itu banyak aset militer yang harus dijaga dan siap semua unit pendukung operasionalnya
Indonesia arrives on the scene
In the last 5 years alone, Indonesia has finalized the purchase of no less than 84 modern fighter jets: 42 Rafale and 42 J-10C.
However, nothing compares to the strides made by the Indonesian Navy.
The country acquired 8 modern frigates and 2 battery-powered electric submarines - with Tot- in a Naval Group configuration that allows for submergence periods of up to 80 days.
Indonesia, alongside Japan and Germany, now becomes one of the sole operators of this new generation of submarines. Including smaller vessels, the nation has closed deals for approximately 20 ships in these last 5 years alone.
To build the ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) capabilities of this fleet and support army operations, nearly 100 reconnaissance and combat drones were purchased, with a highlight on 60 Bayraktar units.
This is joined by the acquisition of Turkish ballistic missiles with technology transfer, as well as at least 2 to 3 models of Turkish and Chinese anti-ship missiles.
Fighters
- 42 Dassault Rafale (Air Force, contracts in tranches with France, 2022–2023).
- 42 Chengdu J-10C (Air Force, contract with China, October 2025).
Submarines
- 2 Scorpène Evolved-class submarines (Navy, contract with Naval Group/France and PT PAL, 2024–2025).
Frigates and Major Surface Combatants
- 2 PPA-class frigates (Thaon di Revel/Brawijaya) (Navy, contract with Fincantieri/Italy, 2024).
- 4 Arrowhead 140-class frigates (Balaputradewa) (Navy, licenses from Babcock/UK, local construction by PT PAL; 2 initial + 2 additional in January 2026).
- 2 İstif-class (I-class) frigates (Navy, contract with TAIS/Turkey, January 2026).
Smaller Vessels (OPVs, Patrol Boats, and FAC)
- 2 90-meter OPVs (Navy, local construction by PT Daya Radar Utama, started 2021).
- 2 additional KCR-60-class Fast Attack Craft-Missile (Navy, local construction by PT PAL, ~2024–2025).
- 2 18-meter patrol boats (Navy, donation from Japan via Official Security Assistance, 2025).
Mine Countermeasures Vessels
- 2 Pulau Fani-class MCMVs (Navy, built by Abeking & Rasmussen/Germany; delivered and commissioned 2023–2024).
- 4 Inspector 90 USVs + Seascan and K-Ster systems (ROVs) (Navy, contract with Exail/France, June 2025).
Helicopters
- 3 Bell 505 Jet Ranger X helicopters (Navy, delivered 2021–2022).
UAVs/Drones
- 60 Bayraktar TB3 + 9 Bayraktar Akinci (primarily Navy, joint contract with Baykar/Turkey, February 2025, with local production).
- 14 ScanEagle (Navy, contract with Boeing Insitu).
- 12 Anka (Air Force, contract with TAI/Turkey, 2023).
( Indonesia is also developing indigenous UVVs)
Anti-Ship Missiles
- 45 Atmaca (Navy, initial units under contract with Roketsan/Turkey, 2024; additional contracts in 2025 for more units and local production).
- Çakır (anti-ship cruise missile, Navy): Contract for local production with Roketsan/Turkey (July 2025), quantity not specified.
- YJ-12/CM-302 (coastal anti-ship, Army): Acquisition confirmed in 2025, no public unit number.
Ballistic Missiles
- KHAN system (export Bora) (Army, contract with Roketsan/Turkey ~2022–2025; number of units/batteries not publicly disclosed).
Other Confirmed Upgrades
- Upgrades to CN-235 MPA and C-130 Hercules (Air Force, contracts 2024–2025; number of affected units not detailed publicly, but applies to multiple existing aircraft).
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Full-scale military operations appear to be underway against Venezuela, with dozens of helicopters with the U.S. Army spotted over the capital of Caracas.