BREAKING: Seorang siswa SMK di Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo, menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta anggaran tersebut (sekitar Rp6,75 juta untuk 1,5 tahun) dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru yang kesejahteraannya masih memprihatinkan.
Ia berargumen bahwa guru jauh lebih berperan membentuk generasi muda daripada program makan gratis, dan suratnya yang diunggah di Instagram menjadi viral.
Terakhir, untuk yang menagih tuntutan 17+8. Benar, yang menyusun ringkasan tuntutan adalah sekelompok orang, dan lo nggak merasa memiliki. Ya gapapa juga, tiap individu berhak mikir sendiri.
Tapi paham kan itu dokumen ringkasan TUNTUTAN. Artinya kalau dia nggak terpenuhi, ya TANGGUNG JAWAB pemerintahnya gak sih??? Menuntut penguasa itu adalah HAK setiap warga, kalian juga boleh lho menuntut kapan aja.
Misal lu menuntut orang tua lu sesuatu, terus mereka gak kasih, lah ya terus salah lo (?) Lo berhak menuntut, yang tanggung jawab memenuhi adalah pihak yang punya kuasa dan sumber daya.
Lagian kita lanjut memantau/mengamplifikasi kesararan masyarakat di tiap topiknya kok lewat IG. Sekali lagi, hanya karena lu gak lihat, bukan berarti sesuatu gak terjadi.
Penasaran gimana rasanya kalau kalian juga cobain ambil tanggung jawab dikit, alih-alih lempar horizontal mulu. We’re all just doing our best, man, am just as frustrated (iya pake bahasa Inggris juga hak gue, mau apa lu).
Masukan mah hayu, gue gak antikritik, siap aja belajar tanya orang yang kenal gue. Tapi yang lu lakuin itu bullying norak and I’m standing up to my bullies.
Betul nutrisi itu fondasi siswa bisa belajar optimal, tapi ya fondasinya gak hanya satu. Usul anggaran BPJS, pertanian, bansos juga masuk anggaran pendidikan. Siswa hrs sehat, keluarganya punya uang yg cukup buat dukung kebutuhan lain agar bs belajar optimal. Sekalian klaim pak
Posisi anggaran MBG memiliki landasan yuridis kuat sebagai bagian integral dari strategi pembangunan sumber daya manusia (SDM) nasional. Pos Anggaran MBG dalam anggaran pendidikan adalah langkah konstitusional strategis. Secara regulasi, UU No. 20/2003 dan UU Keuangan Negara melegitimasi gizi sebagai penunjang operasional pendidikan.
Nutrisi merupakan fondasi kognitif; bagi kesiapan fisik siswa. Investasi pedagogis akan sia-sia tanpa ditopang pemenuhan gizi siswa. Jadi jika pengalokasian anggaran MBG dituding "memotong" anggaran pendidikan merupakan pemikiran sesat. Karena justru alokasi pendidikan untuk pembangunan fisik, guru dll bertambah.
Tulisan ini mengambil perspektif yang berbeda dari kejadian di Ngada...
Kami diajarkan bahwa Gereja berdiri di pihak yang miskin,
bahwa para suster, frater, dan romo meninggalkan kenyamanan dunia
demi melayani manusia, terutama mereka yang kecil dan tersisih.
Namun hari ini, iman terasa semakin mahal,
dan pendidikan justru menjadi barang mewah.
Sekolah-sekolah Katolik yang dibangun di bawah naungan susteran dan frater
berlomba berdiri megah,
namun uang SPP-nya menjulang tinggi,
tak terjangkau oleh anak-anak dari keluarga miskin.
Di mana letak keberpihakan itu?
Di mana suara Injil yang berkata:
“Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku”?
Kami bertanya dengan sedih, bukan dengan kebencian:
apakah para biarawan sungguh masih peduli pada kemiskinan
yang nyata di depan mata?
Ataukah misi kemanusiaan kini kalah oleh kebutuhan lembaga
dan kenyamanan hidup?
Ada anak di Ngada yang memilih mengakhiri hidupnya
karena orang tuanya tak sanggup membeli buku tulis dan pulpen.
Setiap hari ia makan umbi dan pisang,
sementara sekolah—yang seharusnya menjadi jalan harapan—
justru menjadi tembok yang tak bisa ia lewati.
Peristiwa ini bukan sekadar angka,
ini adalah luka kemanusiaan yang dalam.
Di saat yang sama,
kami melihat sebagian suster, romo, dan frater hidup berkecukupan:
makan enak, tidur nyaman, bepergian dengan mobil.
Kami tahu mereka juga manusia,
mereka juga butuh hidup.
Namun apakah wajar bila kenyamanan itu dibayar
dengan tertutupnya pintu pendidikan bagi yang miskin?
BAHKAN ADA DRAMA YG LAGI TREND... REAL BENAR TERJADI DI SD/SMP KATOLIK FAFORIT
KALAU TIDAK LUNASI UANG Sekolah TIDAK BOLEH IKUT UJIAN....!!! ANAK YG TDK LUNAS TERPAKSA GIGIT JARI !!KASIHAN......😭😭
Kritik ini lahir dari cinta,
dari harapan agar Gereja kembali pada wajah aslinya:
wajah yang sederhana,
wajah yang berpihak,
wajah yang berani menggratiskan pendidikan
demi masa depan anak-anak kecil.
Jika Gereja kehilangan kepekaan pada tangisan orang miskin,
maka bangunan sekolah semegah apa pun
akan terasa kosong.
Karena iman tanpa kemanusiaan
hanyalah simbol tanpa jiwa.
Miris, sungguh miris.
RIP (Yohanes Bastian Roja)
Bahagia bersama para kudus di Surga
Pertama gak perlu jadi aktivis lingkungan untuk mengecam statemen anda. Cukup dgn common sense sudah bisa menilai, argumen ttng Wahabi lingkungan.
Kedua, gak semua orang orang itu NU apalagi berkubu seperti fitnah anda. Anda dan 'kubu" itu bukanlah tokoh utama dlm kehidupan kami
Apakah faktor lingkungan bisa dilihat sebagai faktor pengali (80x20) bukan penambah (80+20)? Jika saja kondisi lingkungan baik, mungkin akan tetap ada bencana karena cuaca extreme tapi dampaknya jauh lebih kecil dibandingkan terjadi pada lingkungan yang rusak?
Agree, but in this case still dominated from extreme weather. I assumed percent of contribution from rainfall:environment = 80:20 because of this data. Total rainfall around 1300 mm during latest 2 weeks recorded in Agam, west Sumatra. Just one sample. Others could received more.
AI Mengalahkan Kita?
Saya melihat sebuah grafik minggu ini. Tentang siapa yang lebih banyak menulis di internet. Manusia atau mesin.
Source https://t.co/1u7KHZ1Gyo (Jan 2015 – May 2025, 65,000 articles), supplemented with 5,200+ articles (Jun 2025 – Oct 2025). Articles classified using AI detection; AI-generated if >60% AI content.
Hasilnya?
Sejak bulan ini, Oktober 2025, mesin resmi menang. Artikel yang dibuat AI kini sudah 53,5 persen. Manusia tersisa 46,5 persen. Sejarah mencatat, untuk pertama kalinya, mayoritas isi dunia maya bukan lagi buatan tangan manusia.
Ingat masa ketika robot pertama kali masuk ke pabrik. Orang-orang panik. “Kita akan kehilangan pekerjaan.” Tapi tetap saja robot itu dibiarkan, karena lebih cepat, lebih murah, lebih presisi.
Kini yang kehilangan pekerjaan bukan buruh pabrik, tapi penulis, jurnalis, bahkan blogger. Ironinya, musuh mereka bukan redaktur galak atau pembaca rewel.
Musuhnya mesin.
Apa artinya ini?
Kita akan banjir tulisan. Semua berita bisa disulap dalam hitungan detik. Semua laporan keuangan bisa berubah jadi artikel panjang dalam semenit. Semua gosip selebriti bisa keluar dari mesin tanpa perlu wartawan infotainment.
Tapi kualitas?
Siapa peduli. Yang penting ada konten, banyak konten, dan terus bertambah konten.
Saya menduga setahun lagi angka itu bisa 70:30. Bahkan mungkin 85:15. Manusia tinggal tersisa di ceruk kecil. Tulisan investigasi, opini pribadi, atau cerita yang benar-benar punya rasa.
Tulisan yang tidak bisa dipalsukan oleh mesin, karena di dalamnya ada luka, ada air mata, ada pengalaman hidup. Sesuatu yang algoritma tidak pernah alami.
Maka, masa depan jurnalisme bukan lagi soal siapa paling cepat menulis. Mesin pasti menang.
Masa depan jurnalisme adalah siapa paling bisa dipercaya. Di tengah banjir konten AI, pembaca akan kembali mencari yang otentik. Bukan sekadar teks.
Tapi suara hati.
Suara manusia.
*Tulisan ini pun dibuat secara hibrid.
IMHO, pls jangan dibully.
Kalau permintaannya adalah #ResetIndonesia, maka practical solution-nya itu butuh seseorang yg punya (( power )) dan (( dapat dipercaya )) untuk diberikan (( AUTHORITY )) memencet tombol Reset tsb.
Punya power tapi tidak dapat dipercaya, maka akan lahir otoritarian.
Dapat dipercaya tapi gak punya power, maka tombol Reset cuma bikin hancur berantakan.
Kalau gak ada sosok yang punya 2 kriteria tsb. lalu tetap minta Reset, maka saya lebih memilih dia yang punya power, setidaknya Indonesia tidak hancur jadi bancakan raja-raja lokal dan internasional.
Jadi apakah kita siap mau Reset Indonesia? Silahkan dicerna sendiri. 🙏
PS: dapat dipercaya dapat dimaknai sbg. amanah.
Kamu pernah curhat ke AI kah pas lagi kesepian atau ada pemikiran bunuh diri? Kalau iya, boleh dong pilih yang mana yang paling sering kamu pakai.
Kalau ga ada di pilihan, boleh reply yah.
Gila, Indonesia jual apa lagi buat lebih turun lagi tarifnya. Berharap paling rendah tarif Asean eh, apes juga. Tinggal tunggu aja Vietnam negosiasi, kalau sana 19% atau bahkan dibawah ambyar sudah. Kedaulatan sudah dijual, expor kita jg gak laku
🚨HUGE WIN FOR TRUMP. MASSIVE BLOW TO CHINA.
Trump just struck a zero-tariff trade + military deal with the Philippines.
🇺🇸 0% tariffs on U.S. exports
🇵🇭 19% tariffs on theirs
And U.S. missiles on China’s doorstep.🔥
50 T wooyy
Yups kalian gak salah dengar. 50T
Kalau 50T itu dpake buat Sejahterakan Para Guru Honorer, kira2 brp Banyak ya Guru Honorer yg bisa Hidup Lebih Sejahtera..??
@savicali Algoritma X sejak dibeli Musk ga memungkinkan mereka farming & monetize engagement sebanyak dulu
Lalu udh ga eco-chamber, jadi twit viral mereka bisa muncul di timeline orang2 yang 100% anti ama stance mereka
Elon Musk emg ngubah Twitter jd tempat baku hantam, “kandang manusia”