Kala itu, kejutan-kejutan berbondong-bondong menjamahku. Berbagai varian, di awali dengan yang tidak enak. Lalu, disertai juga yang enak. Tidak peduli akan persentase keduanya, karena ini juga merupakan kasih Tuhan teruntuk diriku.
“Maaf” dan “terima kasih” tak henti-hentinya bergumam di kepala.
Mewakili segala keluh,
kesah,
sedih,
marah,
senyum,
tangis. Namun,
Jujur dan tulus dalam setiap tuturmu
hadiahi nyaman yang tak teruraikan.
Hanya bisa dirasakan.
Dan tak akan kubagikan.
Kepada siapapun.
Mungkin saat ini masih dapat interaksi yang berlanjut, karena masih terdapat hal yang sama-sama berada di ujung penyelesaian pendidikan. Namun setelah itu, setidaknya aku ingin benar-benar siap jika kamu tidak lagi bisa interaksi denganku.
Bukannya mengeluh,
Namun sesial itu ya dari menuruti rasa malu? Dan kenapa juga kamu harus malu sih, gam?
Padahal ada kesempatan buat berbicara,
Padahal ada kesempatan buat bertanya,
Kenapa seberat itu?
Haha sialan. Menarik sekali.
Kamu benci ga sama aku yang seperti itu?
Ternyata belum seselesai itu ya.
Senyumnya terlalu menarik kembali rasa yang selalu kusembunyikan itu, Tuhan.
Terimakasih.
Meski tak langsung, senyummu kuterima.
Meski bukan untukku, aku ikut menikmatinya.
Selalu saja kau menerka-nerka tak akui keadaan,
padahal pahit juga bagian dari kenyataan.
Kenyataan bahwa kau hidup.
Kenyataan bahwa kau manusia.
Kenyataan bahwa Tuhan itu ada.
Hmmh...
Kasihan sekali kau gam.
Sejauh itu kamu dengan dirimu sendiri.
Kasihan sekali kau gam.
Sebegitu kerasnya mengupayakan pulih dari segala hal penyakit, sampai-sampai kau banyak menelantarkan dirimu dari keegoisanmu itu.
Selalu saja mencari-cari alasan untuk sembuh,
padahal sembuh itu tidak perlu kau cari.
Tapi yah begitupun harus kita rayakan dengan syukur. Bagaimana pun juga, at least kita ada pulangnya.
Itu hanyalah proses pembentukan dari setiap perjalanan, kan?
Heheee.
Ada sajian dari iid dan rasanya itu benar-benar terjadi dengan kejadian yang sering kita rasakan.
Begini katanya:
“Kita menatap Tuhan
dengan mata tertutup luka,
Sedang Tuhan menatap kita
dengan takdir yang terbuka.”
Benar katanya.
Kerap kita merasa ingat atau bahkan merasa dekat dengan Tuhan dengan keadaan luka dimana-mana.
Padahal itu hanyalah egositas dari bagian diri yang paling tidak sadar untuk menutupi keegoisan itu sendiri.