Hampir tiga milenium, The Odyssey udah menjelma jadi salah satu fondasi paling berpengaruh dalam sastra barat. Berawal sebagai epos lisan yang dilantunin sama penyair Yunani, kisah perjalanan pulang Odysseus terus bereinkarnasi dalam macam-macam bentuk; dari drama panggung, opera, film, serial televisi, hingga video game. Dari yang paling setia seperti versi film 1997, sampai reinterpretasi modern seperti O Brother, Where Art Thou?-nya Joel dan Ethan Coen, hingga kemunculan Odysseus di video game roguelike populer: Hades II, jejak epos Homer ini emang gak ada matinya.
Kenapa The Odyssey mampu bertahan selama hampir 2.800 tahun adalah karena kisahnya. Bukan cuman karena ada monster-monster mitologi, para dewa sombong yang bermain sama takdir manusia, perang legendaris yang melibatkan kuda kayu raksasa, sampai petualangan fantastis ngebelah lautan di dalamnya, tapi juga karena The Odyssey sendiri dasarnya adalah kisah kerinduan seseorang untuk bisa pulang ke rumah lagi. Sebuah kesederhanaan yang personal dan related yang coba dibuat ulang sama seorang Christopher Nolan dalam sebuah opus fantasi kolosal sinema modern yang luar biasa epik! Ini jadi salah satu adaptasi terbaik atas karya Homer.