Lo baru sadar HPnya ilang, langsung buka Find My Device lewat laptop.
Last seen 5 jam lalu di Stasiun Gambir. Abis itu? Udah.
Nggak gerak lagi. Langsung offline.
Si maling langsung matiin internet biar ga ke trace. Itu cara jadul.
Dulu sampe situ doang.
Sekarang? Nggak lagi.
@lilaccountz Logika Gus Baha: Jangan putus asa dengan dosamu, karena Allah punya stok ampunan yang jauh lebih luas dari kesalahanmu. Tugas kita bukan jadi suci tanpa noda, tapi jadi hamba yang tahu jalan pulang setiap kali tersesat.
Guys, ada film dokumenter yang sedang viral dan sudah ditonton lebih dari 400 komunitas di seluruh Indonesia tapi di beberapa tempat dilarang ditayangkan oleh aparat.
Namanya Pesta Babi.
Dan justru karena dilarang semua orang jadi penasaran dan makin ramai menontonnya.
Apa isi filmnya dan kenapa ini sangat penting:
Film ini bercerita tentang Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan pembukaan 2,5 juta hektar lahan untuk bioenergi dan sawah.
2,5 juta hektar.
Itu hampir dua kali lipat luas seluruh kawasan Jabodetabek.
Dan di atas lahan itu hidup masyarakat adat Papua yang sudah tinggal turun-temurun selama ratusan tahun.
Yang paling mengejutkan dari temuan film ini:
Proyek ini diklaim sebagai lumbung pangan nasional.
Narasi resminya:
untuk ketahanan pangan rakyat Indonesia.
Tapi fakta di lapangan berbeda:
Dari 2,5 juta hektar itu 600.000 hektar untuk tebu.
Bukan untuk pangan.
Untuk bioetanol bahan bakar kendaraan.
Sisanya untuk sawit yang sebagian besar berakhir bukan di dapur rakyat, tapi di tangki kendaraan sebagai campuran bahan bakar.
"Narasinya pangan.
Tapi yang digarap serius tebu dan sawitnya."
Dan ini yang paling mengerikan:
10 perusahaan yang mendapat konsesi tebu di sana ternyata dimiliki oleh satu keluarga saja.
Nama keluarganya disebutkan dalam film:
Martias Fangiono.
Raja sawit Indonesia yang pernah divonis satu setengah tahun dalam kasus sawit ilegal tahun 2017.
Pernah divonis korupsi sawit.
Sekarang dapat konsesi sawit dan tebu di Papua seluas ratusan ribu hektar.
"Orang yang bermasalah justru dipelihara.
Storanya lebih gede dari yang bersih."
Dan kontraktor yang membuka hutannya siapa:
Haji Isam John L Group.
Pemesanan 2.000 unit ekskavator.
Pesanan ekskavator terbesar di dunia saat ini.
Nilainya Rp4 triliun.
Dan biayanya?
Ditagih ke pemerintah.
Uang negara. Uang rakyat.
Dan masyarakat Papua yang hidupnya di sana dapat apa:
107.000 orang mengungsi dari kampung halamannya. Itu angka tahun 2026.
Di media Indonesia tidak ada berita.
Tidak ada trending.
Tidak ada yang tahu.
Jalan Trans Papua yang dibangun di sana bukan menghubungkan jalur ekonomi tradisional masyarakat.
Tapi menghubungkan sentra-sentra investasi perusahaan besar.
Sementara petani nanas lokal yang punya nanas enak-enak di hutan tidak bisa jual karena tidak ada jalan kecil yang bisa dilalui motor untuk bawa hasil panen ke pasar.
Yang dibangun highway besar.
Yang dibutuhkan masyarakat jalan kecil sederhana agar motor bisa lewat.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh diskusi:
Novel Baswedan tanya:
"Ini untuk kepentingan negara atau segelintir orang?"
Dandi Laksono produser film jawab langsung: "600.000 hektar tebu dimiliki satu keluarga.
Wilmar yang pernah diminta kembalikan kerugian negara Rp11 triliun ngerjain lagi di sana.
Satu kontraktor dengan 2.000 ekskavator dapat proyek tanpa tender yang jelas."
Dan di tengah semua proyek jumbo ini KPK sedang dalam kondisi paling lemah.
Kejaksaan aktif tapi aktifnya aneh-aneh menuntut Nadiem 18 tahun, sementara proyek triliunan di Papua tidak disentuh.
"Justru di tengah negara spending gede-gedean penegakan korupsinya tidak kelihatan serius."
Dan kenapa film ini dilarang di beberapa tempat:
Pemerintah resmi bilang tidak melarang.
Menko Hukum Yusril bilang tidak ada pelarangan.
Tapi di lapangan ada aparat yang membubarkan nonton bareng di beberapa kota.
Mahfud MD langsung berkomentar:
"Siapapun yang melarang itu melanggar undang-undang.
Siapa yang menyuruh?
Atas otoritas apa?
Panggil dan periksa."
Dan efeknya justru kebalikan:
semakin dilarang semakin ramai yang mau nonton.
Dan ini konteks sejarah yang paling jarang diceritakan:
Dua tahun sebelum referendum Papua 1969 Freeport sudah diserahkan Indonesia ke Amerika.
Tahun 1967.
Artinya:
tanah Papua dijual ke perusahaan asing saat orang Papuanya sendiri belum ditanya apakah mau bergabung dengan Indonesia atau tidak.
"Indonesia menjual tanah orang.
Mengontrakkan rumah yang bukan miliknya."
Dan referendum 1969 yang harusnya satu orang satu suara dilaksanakan hanya oleh 1.025 perwakilan yang sudah diintimidasi dan dipilih secara tidak jelas. Bukan demokrasi langsung.
Papua punya emas, nikel, gas alam, kayu, dan sekarang lahan 2,5 juta hektar yang sedang dibuka.
Tapi 107.000 warganya mengungsi dari kampung halaman. Peradaban mereka perlahan dihancurkan. Kekayaan alam mereka dinikmati satu keluarga pengusaha dan satu kontraktor besar.
Dan film yang mencoba menceritakan semua ini — dilarang diputar.
Bukan karena isinya bohong. Tapi karena isinya terlalu jujur.
Dan Pak Bw menutup dengan kalimat yang paling tepat:
"Masa depan Indonesia ada di Papua.
Kalau kita melupakan Papua kita sedang melupakan masa depan kita sendiri."
Kamu tidak salah kalau memilih menjaga dirimu. 🤍
Dan kehilangan hubungan yang membuatmu lelah bukan berarti kamu jahat — itu berarti kamu sedang belajar menjaga batas.
Ini adalah kemampuan untuk tetap objektif, mengurangi kecemasan, dan tidak terpengaruh secara negatif oleh situasi, sering kali untuk kedamaian batin atau profesionalisme.
Detachment artinya keterpisahan, pelepasan, atau sikap tidak terikat, yang merujuk pada tindakan melepaskan diri secara emosional atau fisik dari orang, objek, atau situasi tertentu.
ternyata skill yang harus kita punya diusia sekarang ini:skill mengatur suasana hati & emosi
jgn apapun dibaperin, jgn berekspektasi lebih sama seseorang, orang bisa berubah kapan aja, hari ini bilang sayang, besoknya ngilang juga ada. semua bisa pergi kapan aja.