udah ada yang bahas ini belum yak, ini NGERI banget dan kalian harus tau:
> banyak yg panik liat SMS penipuan phising tapi nama pengirimnya resmi 'BCA' dan otomatis nyatu di satu room chat yg sama persis kayak SMS asli bank
> faktanya sistem BCA sama sekali gk diretas, ini murni modus kejahatan siber pake pemancar sinyal seluler portabel bernama Fake BTS atau SMS Blaster
> pelaku biasanya muter bawa alat ini di mobil atau ransel motor di titik ramai, mancarin sinyal radio kuat buat maksa jaringan HP korban turun (downgrade) ke sinyal 2G/Edge
> protokol 2G punya celah keamanan fatal tanpa autentikasi ganda, alhasil pelaku bisa leluasa nyuntik SMS dan malsuin Sender ID persis atas nama bank
> sistem aplikasi SMS di HP otomatis ngebaca namanya sama sehingga langsung digabungin ke riwayat obrolan resmi, tujuannya ngejebak korban ngeklik link phising pencuri rekening
> langkah pencegahan wajib: jangan pernah klik domain selain situs resmi https://t.co/bQWx5vheVG, dan segera matikan opsi 'Enable 2G' di pengaturan jaringan seluler HP lu biar kebal dari sambungan pemancar palsu
Tadi lagi di daerah Satrio Kuningan yang lagi macet parah, tiba-tiba sinyal HP turun jadi EDGE. Nggak lama kemudian langsung masuk SMS yang ngatasnamain BCA.
Untungnya aku langsung nyalain mode pesawat sekitar 10 menit. Setelah itu sinyal balik normal ke 5G lagi.
Pas baca-baca di Threads, ternyata banyak yang bilang ini diduga modus phishing baru. Katanya sinyal 4G/5G sengaja diturunin ke 2G supaya fake BTS lebih gampang mengirim SMS yang terlihat seperti dari bank.
Ngeri banget sih. Jadi makin harus hati-hati, jangan asal klik link apa pun meskipun SMS-nya kelihatan dikirim atas nama BCA. 😥
Ada rumor BI akan ditarik ke kabinet, agar langsung dibawah presiden. Independensi BI hilang. Dampaknya fatal bagi rupiah jika ini terjadi.
China dan Vietnam punya Bank Sentral dibawah presiden, tidak independen. Relatif berhasil.
Turki dan Zimbabwe gagal total; bank sentral mrka tidak independen.
Politisi selalu ingin suku bunga rendah, agar ekonomi tumbuh. Tapi bahayanya : nilai mata uang bisa kolaps, dan inflasi naik tajam.
Ekonomi Turki x Zimbabwe relatif hancur krn bank sentral hanya jadi kaki tangan presiden.
Kenapa China x Vietnam berhasil meski bank sentral kurang independen? Sebab mereka punya disiplin ekonomi jangka panjang; dan amat terpadu garis kebijakannya. Mereka juga punya kebijakan industri yg solid, serta orientasi ekspor.
RI maybe akan bernasib sama dengan Turki jika BI tidak independen.
Erdogan pecat gubernur bank sentral berkali2, karena menolak menurukan suku bunga (mirip di Ri). Dampaknya : kepercayaan pasar hancur, dan inflasi Turki naik 70%, dan lira kolaps. Gila kan dampaknya.
RI1 amat bernafsu naikkan pertumbuhan ekonomi RI. Tampaknya beliau kurang sreg dengan kebijakan BI yg terlalu lama pertahankan suku bunga tinggi.
Tapi nafsu ini bisa fatal dampaknya. Jika suku bunga BI dipaksa diturunkan, maka dampaknya :
- rupiah bisa kolaps ke 20 ribu
- inflasi melambung
- modal asing akan lari keluar
- bunga utang RI dalam dollar akan makin berat dibayar krn rupiah hancur
- bunga utang RI jug akan naik tajam karena tidak ada lagi kepercayaan pasar atas masa depan ekonomi RI
RI1 maybe mirip sekali Erdogan. Hanya karena kepentingan politik jangka pendek, kebijakan ekonomi jangka panjang diabaikan. Ujungnya malah ambless.
Apa mitigasinya jika BI benar2 dihapus independensinya?
- adopsi gaya kebijakan bank sentral China yg tetap disiplin jaga nilai mata uang (meski dibawah kuasa Xi Jinping). Artinya bank sentral China tetap rasional krna Xi juga lumayan rasional (krn didampingi teknokrat ulung).
Bukan kayak Erdogan yg sok2an atur ekonomi Turki, tapi malah bikin hancur. RI1 mau tiru Erdogan atau Xi?
- perbanyak ekspor agar makin melimpah surplus devisa (amat penting untuk jaga kekuatan fiskal). China amat berhasil dalam hal ini, juga Vietnam.
****
Gaya kebijakan RI1 ini makin susah ditebak, dan berasa makin sentralistik. Inilah yg sebenarnya jadi penyebab utama kenapa rupiah anjlok amat tajam semenjak beliau dilantik.
Gila, ketimpangan kita separah ini!
Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Dr. Media Wahyudi Askar, menjelaskan hasil studi terbaru mereka:
1. Studi CELIOS mengungkap ketimpangan ekstrim: di saat pejabat/orang super kaya merayakan ultah mewah di Paris, anak-anak miskin berjuang keras hanya untuk bisa makan hari itu jg.
2. Indonesia kini punya 2 wajah ekstrem. Wajah pertama diisi oleh 1.700 orang super kaya, dimana kekayaan 50 orang terkaya di antaranya sudah setara dg total kekayaan 55 juta penduduk.
3. Oligarki ini menyetir harga pasar (ojol, LPG, properti) dan "membeli" demokrasi lewat pendanaan parpol. Sebaliknya, rakyat biasa harus berdesakan di transportasi publik yang buruk meski taat bayar pajak.
4. CELIOS mendorong Pajak Kekayaan (Wealth Tax) sebesar 2% untuk aset di atas Rp84 M. Didukung 89% rakyat, pajak ini bisa menghasilkan Rp142 T/tahun untuk menggratiskan layanan kesehatan, KRL, hingga beasiswa sampai bangun rumah layak warga rentan.
Nonton full di youtube nya Watchdoc Dokumentary nya disini 👇
https://t.co/cSzAPhXCd8
Presiden kasih perintah TVRI tayangkan Piala Dunia (dgn narasi hadiah presiden untuk rakyat) —> TVRI beli hak siar 1,3 triliun (300 milarnya pajak) pakai duit pajak kita (dana BABUN) —> TVRI gandeng holding agency —> holding agency gandeng Folago yg juga belum punya streaming 🥲—> Folago baru bikin layanan streaming Folaplay H-beberapa minggu sebelum Pildun 😐 dan kerja sama dgn Surge/Internet Rakyat (salah satu pemiliknya Hashim) —> masyarakat yg mau nonton Pildun lewat streaming bayar ke Folaplay atau yg langganan Surge bisa akses Folaplay.
https://t.co/szEZSkucUf
Wawancara terhadap seorang investor: ia jelaskan alasan investor luar enggan berinvestasi ke Indonesia. Dia bercerita pengalamannya 5 tahun lalu saat di Indonesia. 😯
> Di Bürgenstock, Swiss ada summit. Tadi malam
> Summit pingin bisa bikin MoU untuk perdamaian IRAN-US
> Summit super panjang. Marathon negosiasi. Somehow berjalan lancar, semua optimis
> Tiba2 Trump (yang ga hadir) post mau invasi iran lagi minggu depan. Kecuali Iran 'lepas' Lebanon
> Delegasi Iran cabut, protes. Semua kaget
> Perdana Menteri Pakistan, sangat aktif di upaya perdamaian. Kaget:
Patriot Bond dan Merah Putih Bond ini bentuk Premanomics sesungguhnya.
Tata kelola absurd dan semua dibikin tabrak2 masuk.
Beberapa pertanyaan yang harus diajukan sambil nunggu PP turunan terbit
1) Kenapa beli surat utang khusus termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond bisa dapet perlindungan khusus?
2) Kenapa beli SBN ga dapet perlakuan yang sama? Danantara lebih powerful dari negara?
3) Kenapa surat utang terbitan Danantara bisa kasih perlakuan khusus dapet perlindungan dan jaminan bidang dari penuntutan pidana umum, pidana perpajakan, dan gugatan perdata?
4) Danantara itu apa? siapa? kok bisa kasih jaminan itu semua? Kejaksaan, DJP udah dikunci harus setuju dan tutup mata?
5) Danantara mau ngutang tapi kok ga ada laporan keuangan?
6) Apa ini bentuk dari off-budgeting? Ngutang tapi ga mau bikin debt ratio, debt service ratio, dan defisit di APBN keliatan jelek dan melampaui threshold yg diatur UU, makanya surat utangnya via Danantara?
7) Tau kan potensi moral hazardnya di mana? atau sengaja tutup mata, halal haram hantam semua uang diterima dan negara via danatara siap jadi mesin laundry-nya?
8) Mau pake argumen : selama ini uang haramnya di Singapura, "if you can't beat them, be them", makanya kita fasilitasi via Danantara
9) silahkan netizen melanjutkan pertanyaan berikutnya....
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
★☆☆☆☆
"i love you"
★★★★★★★★★★
"because of you, i can't think straight at all. whoever you are, wherever you came from... i believe it all. yeah, i believe whatever you say, so just keep your eyes on me. forget all those other bastards and just look at me. please."
Presiden terdahulu klo market ancur, rupiah melemah, dan rakyat udah berisik bakal cepet ditangani problemnya.
2013 parah banget rupiahnya tapi pak SBY take action jg saat itu jadi bisa ternetralisir
2015 budget berantakan parah, trus Pak Jokowi take action jg dengan manggil balik bu SMI.
2018 berantakan karena tariff Trump dan BI berani pre-emptive rate hike dan pemerintah adjust anggaran juga
Baru kali ini market ancur hampir 40% dan rupiah melemah terus tapi gak ada respon serius. Masih nyalahin BI, masih glorifikasi MBG, masih anti kritik tentang plesir ke LN, dll.
Problemnya itu. Global economy gk lagi baik2 aja. Spekulasi pasar saham gila2an dan credit issue mulai muncul. Kalau gaya kerjanya masih kayak gini.
Gw gak paham lagi mau seberapa hancur rupiah dan IHSG ketika nanti kejadian.
Kisah Yi Heon sm Danshim beneran sedih bgt krn Yi Heon ga bs mengutarakan cintanya sm danshim makanya danshim taunya yi heon benci sm dia. Baru tau pas seori lihat lukisannya yi heon & semua itu udh terlambat (yi heon keburu mati)
When conglomerates or market operators can repeatedly drive share prices higher through wash trading and the regulator does nothing, it is genuinely mind-blowing.
The regulator already has the concentration data. It already knows which stocks are controlled by a small number of accounts and where trading activity is heavily concentrated. The next step should be straightforward: identify the beneficial owners behind those accounts and determine whether the trading is occurring between related parties, nominee accounts, or entities under common control.
If ownership concentration is already established, then the investigation should not stop there. The real question is whether the apparent liquidity and price discovery are genuine or simply the result of the same economic interests trading shares back and forth to manufacture volume, momentum, and higher valuations.
This is not a complicated forensic exercise. Modern regulators have access to account-level data, broker records, beneficial ownership information, and transaction histories. If they genuinely want to know whether wash trading exists, the evidence should be relatively easy to trace.
What is difficult to understand is how stocks can rise hundreds or even thousands of percent while concentration remains extremely high, yet no meaningful enforcement action follows.
The contrast with most major global markets is striking. In the United States, South Korea, Taiwan, Japan, or Europe, the largest wealth creation stories are generally driven by companies delivering earnings growth, technological leadership, productivity gains, and improving fundamentals. Investors debate revenue growth, margins, market share, and future cash flows.
In Indonesia, too much attention is often diverted toward highly concentrated conglomerate-linked stocks that experience extraordinary price appreciation despite limited fundamental improvement. Instead of capital flowing toward businesses that consistently grow earnings, improve returns on capital, and create long-term shareholder value, market narratives become dominated by a handful of names whose valuations appear increasingly disconnected from underlying business performance.
A functioning capital market depends on trust that prices are formed through genuine buying and selling activity. If market participants increasingly believe prices can be engineered through coordinated trading among concentrated groups without consequence, confidence in the market itself becomes the casualty.
The issue is no longer whether the regulator has the tools. The issue is whether it has the willingness to use them.
Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. https://t.co/sFoBm6AbMx