@LokaPadmi ᅠᅠ
Segaris senyum merentang begitu saja pada wajahku.
Aku merasa terserang.
“Iya,” balasku sembari membuang muka. Mana sanggup kupandang @LokaPadmi dengan jawaban itu? “Soalnya saya belum sanggup nanggung capek yang lain.
“Capek nanggung kecencian Ibu, misalnya.”
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
Aku bahkan belum sembuh dari fakta kepergian kekasih yang simpan rapat-rapat sakitnya sendiri, dari fakta bahwa aku tidak miliki apa-apa kecuali ketidakberdayaan atas bahagia.
Dan dunia bergerak terlalu cepat untuk seseorang yang ditinggalkan.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
“Kalau capek sudah pasti. Memangnya di dunia ini ada yang gak bikin capek? Tidur aja butuh upaya.” Pandangan kubuang ke langit malam. “Hidup itu cuma soal milih capek kita masing-masing. Mau capek di mana, dan capek yang gimana.”
Soal teori, aku lulus. Pelaksanaannya?
ᅠᅠ
@EKFRASA ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
Aku mengangguk. Maklum. Aneh juga kalau dia tiba-tiba menangis begitu kutawarkan. Ini kan, bukan area casting aktor melodrama.
“Kalau sudah sedih dan mau menangis—yang semoga jangan, kabari aja. Nanti boleh menangis dengan aku.”
Kutemani.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Kamu keliru. Bukan merdekamu yang mengusikku.
ᅠᅠ
ᅠᅠ
Mengapa, ya, terlalu banyak sekat yang menghalangi hidup masing-masing kita, siapa pun identitasnya? Apa ini harga yang mesti dibayar untuk hidup sebagai manusia?
“Memangnya mau ke mana?”
Biar kuantar. @LokaPadmi
ᅠᅠ
ᅠᅠ
Mengapa, ya, terlalu banyak sekat yang menghalangi hidup masing-masing kita, siapa pun identitasnya? Apa ini harga yang mesti dibayar untuk hidup sebagai manusia?
“Memangnya mau ke mana?”
Biar kuantar. @LokaPadmi
ᅠᅠ
ᅠᅠ
Setahuku kedua orangtuanya masih di sini.
Kalau kutanya pasti akan dianggap terlalu mau tahu, kan?
“Ah …. begitu.” Pandanganku turun—bersamaan dengan sukacita yang sempat hadir di sini.
ᅠᅠ