WA dari temen. Siang. Jam 12.
"Bro, ponakan lo sering mual di mobil gak?"
"Iya parah. Tiap perjalanan muntah."
"Coba buka Settings iPhone lo."
"Hah? Emang kenapa?"
"Accessibility → Motion → Vehicle Motion Cues."
"Aktifin."
"Ini ngapain?"
"Udah aktifin aja. Besok perjalanan gak muntah."
Aku aktifin.
Besoknya, ponakkanu gak muntah pertama kalinya.
inti dari film pesta babi:
"mungkin bagi papua, indonesia adalah israel-nya"
Hal ini tecermin dari realitas kolonialisme modern yang dipertontonkan dalam dokumenter ini, di mana negara secara sepihak merampas 2,5 juta hektare hutan adat untuk Proyek Strategis Nasional (PSN).
Proyek lumbung pangan dan energi ini beroperasi layaknya sebuah pendudukan paksa yang secara brutal menyingkirkan eksistensi, budaya, dan ruang hidup suku-suku asli Papua seperti Marin, Auyu, Muyu, dan Yinan.
Eksploitasi masif ini sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan oligarki yang berlindung di balik kebijakan dan kekuasaan negara.
Tokoh-tokoh konglomerat raksasa memonopoli konsesi lahan sawit dan tebu yang difasilitasi langsung oleh rezim dari era Jokowi hingga Prabowo.
Pada akhirnya, ambisi pemenuhan biodiesel (B50) dan bioetanol ini murni ditujukan untuk memperkaya segelintir elit di Jakarta, sementara penduduk asli Papua terasing di tanahnya sendiri.
Untuk memuluskan ambisi korporasi dan membungkam penolakan, proyek perampasan lahan ini dikawal secara represif oleh aparat militer.
Pembangunan markas-markas tentara (Koramil/Kodim) yang dipaksakan tepat di atas wilayah adat tidak hanya merampas hak kepemilikan warga.
Kehadiran serdadu yang berlebihan ini secara psikologis meneror warga sipil dan membangkitkan kembali memori kelam atas sejarah rentetan kekerasan operasi militer di masa lalu.
Narasi mulia "Food Estate" yang digaungkan pemerintah terbukti hanyalah manipulasi yang mengulang sejarah kegagalan ekologis dari era Orde Baru di Kalimantan hingga proyek SBY dan Jokowi.
Pemaksaan program cetak sawah justru menghancurkan sistem dan kedaulatan pangan lokal warga Papua. Masyarakat yang secara budaya hidup mandiri dari sagu dan umbi-umbian mendadak dimiskinkan karena hutan yang selama ini menjadi "supermarket" alami mereka telah digusur oleh ekskavator.
Dampak dari semua proyek ini bukanlah sekadar kerusakan lingkungan, melainkan sebuah bentuk pemusnahan peradaban dan genosida kultural.
Penghancuran dusun-dusun sagu yang disakralkan sama maknanya dengan membunuh identitas serta roh leluhur mereka.
Dokumenter ini secara tajam membandingkan nasib orang Papua dengan tragedi kepunahan penduduk asli di benua lain atau penderitaan sistematis yang sedang terjadi di Gaza Palestina hari ini.
Menghadapi ancaman kepunahan tersebut, masyarakat adat melakukan konsolidasi perlawanan cerdas melalui jalur kultural dan spiritualitas.
Suku Auyu melawan dengan menancapkan ribuan "Salib Merah" berpalang adat sebagai tanda larangan mutlak agar korporat tidak berani masuk.
Di sisi lain, Suku Muyu secara independen menggelar "Pesta Babi" (Awon Atatbon) dengan persiapan 10 tahun sebagai strategi menjaga kelestarian hutan sekaligus merapatkan barisan aliansi antarmarga dari ancaman penjajahan era baru ini.
Ayo tetap nonton film full-nya dibawah, sebagai bentuk dukungan dan gw yakin narasi filmnya jauh lebih dalam daripada paragraf ringkasan diatas.
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?
Normal speed kalo lewat stasiun kecil dari Kereta Bromo Anggrek
Jadi kalo masih ada yang bilang rem rem rem sbelum masuk ke stasiun stasiun tertentu, coba liat ini dulu 😭😭🙏