🚨 Lewis-Skelly membawa data untuk menentukan value dirinya saat negosiasi kontrak di Arsenal.
Saat Lewis-Skelly menandatangani kontrak jangka panjang barunya pada awal Juli 2025, dia dan agen-nya (ibu kandungnya sendiri) menggunakan jasa Analytics FC untuk membantu menunjukkan seberapa besar value dirinya dalam negosiasi.
Analytics FC memang membantu pemain dan agen menggunakan data untuk memahami nilai, performa, hingga posisi mereka dibanding pemain lain. Jadi kalau biasanya klub menggunakan data untuk menilai pemain, kali ini pemain melakukan hal yg sama dari sisi mereka.
Dalam kasus Lewis-Skelly, Analytics FC menggunakan metode grouping untuk membandingkannya dgn pemain-pemain lain yg mengalami perkembangan serupa di lima liga top Eropa.
Salah satu kelompok yg mereka gunakan adalah pemain yg melakukan debut di tim utama lalu bermain lebih dari 600 menit pada musim debutnya.
Sejak 2017/18, hanya 69 pemain yg masuk kategori tersebut. Lewis-Skelly adalah salah satunya, jadi daripada cuma mengatakan:
“Lewis-Skelly menjalani musim debut yg luar biasa.”
Mereka bisa mengatakan:
“Dari ribuan pemain yg bermain di lima liga top Eropa sejak 2017/18, hanya 69 yg melakukan apa yg dilakukan Lewis-Skelly.”
Intinya memang sama, tapi yg satu merupakan penilaian, sementara yang lainnya adalah observasi yg didukung data. Dan dalam negosiasi kontrak, argumen seperti ini tentu jauh lebih kuat.
Analytics FC juga memperbarui penelitian soal “loyalty penalty” yg sebelumnya dibuat untuk laporan Mason Mount. Penelitian tersebut kemudian digunakan untuk salary benchmarking Lewis-Skelly, dgn membandingkan nilai kontraknya dgn pemain lain.
Laporan mereka sendiri bisa mencapai 40–80 halaman, dgn analisis soal kualitas pemain, kontribusi di lapangan, tactical fit, proyeksi perkembangan, salary benchmarking, hingga berbagai konteks lain yg relevan.
Dan Lewis-Skelly bukan satu-satunya pemain yg menggunakan jasa mereka. Kevin De Bruyne, Ben White, Mason Mount, Alex Greenwood dan beberapa pemain lainnya juga pernah melakukannya.
Ynag menarik dari sini adalah perubahan cara pemain melihat data.
Dulu klub yg membawa data untuk menentukan value seorang pemain. Sekarang pemain juga bisa membawa data untuk menjelaskan value mereka kepada klub.
Jadi saat Lewis-Skelly duduk di meja negosiasi, dia bukan cuma membawa performa satu musim dan agennya.
Dia membawa data yg bisa menjelaskan kenapa performa tersebut langka, bagaimana value-nya dibanding pemain lain, dan pada akhirnya kenapa dirinya layak dihargai sebesar itu.
Bahkan yang terbaik pun tidak bisa menulis ulang takdir.
Cristiano Ronaldo akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya memang tidak pernah ditakdirkan untuk memenangkan Piala Dunia. Meski telah menjaga fisik di level tertinggi hingga usia 41 tahun demi memimpin Portugal di enam edisi berbeda, ambisi besarnya selalu kandas jauh sebelum menyentuh partai puncak.
Kegagalan ini membuktikan bahwa kerja keras luar biasa sekalipun kadang tidak berdaya melawan garis takdir, menyisakan satu ruang kosong yang selamanya tidak akan pernah bisa ia isi.
This is the end. The Final Dance is over. The King leaves without his crown 💔
Kalau mundur satu dekade, atau 8, 5 tahun terakhir, Diego Simeone mungkin dikenal sebagai pelatih “defensif” terbaik (atau salah satu yang terbaik).
Namun, titel itu sudah pindah ke Mikel Arteta. Dan Arteta menyeimbangkan dengan kemampuan menyerang yang oke juga. KOMPLET.
Timber, Saliba, dan Kiwior jadi 3 pemain yang tampil oke sepanjang babak pertama. Mereka sukses lakuin job mereka dengan baik.
Martinelli dan Odegaard tolong berbenah di babak kedua, jangan sampai aing ngetik: “I’ve seen enough, Sterling IN”, kasian nanti Madrid.