The power of
“La ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minadzolimin”
“Ya Allah Ya Jabbar, Wajburni”
“Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman Nasir”
WP patuh aja kalian kejar @DitjenPajakRI. Giliran ada ikan paus sebesar MBG ini kalian diam. Kalau mau kejar target, kejarlah SPPG. Haqul yakin kalian dapat banyak temuan.
SUMPAAAAH LO SEMUA PENGGEMAR BOLAAA COBA MAIN INI. DIJAMIN KETAGIHANNN WKWKW
INTINYA LU BIKIN SQUAD DRAFT GITU DAN KALO MAU MENANG LO HARUS 38 KALI WIN TANPA KALAH
LANGSUNG AJA BROO
Ada teori konspirasi yang bilang kalo final Piala Dunia sebenernya udah di-“spill” sebelum kompetisi mulai🤯
Menurut kalian kebetulan aja apa emang bener?~
2026 siapa lawan siapa itu?👀
Ribuan habibie lain dikriminalisasi pasca G30S, gabisa pulang ke Indonesia cuma karena mereka kuliah di negara blok timur. It was one of the biggest brain drain in Indonesian history.....
Catat baik-baik‼️
Banyak orang gak sadar, laki-laki sering dicintai dengan syarat yang gak pernah diucapkan langsung.
Selama dia kuat, berguna, punya uang, bisa jadi solusi, dia dianggap berharga.
Tapi saat hidupnya runtuh, isi rekening menipis, dan arah hidup mulai kabur, dunia perlahan berubah kepadanya.
Tatapan berubah, nada bicara berubah, penghargaan ikut hilang.
Makanya banyak cowok memilih menjauh ketika finansialnya hancur, bukan karena cintanya habis.
Tapi karena dia tau, versi dirinya yang gagal jarang benar-benar diterima.
Dan gak semua laki-laki sanggup melihat dirinya sendiri berubah jadi beban di mata orang yang paling dia sayang.
Karena bagi sebagian laki-laki, gagal terasa jauh lebih memalukan daripada kesepian.
Itu kan dulu waktu masih walkot, tapi perjanjian dia ga cuma di kawi tapi sudah masuk ke dalam ikatan perjanjian dgn entitas yg lebih kuat dari itu (dark angel)
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
Berat..
Justru kalau minta hentikan MBG, pasti kalah calonnya.
Pegawai SPPG itu jumlahnya jutaan orang, belum lagi keluarganya, belum lagi supply chainnya dari transportasi hingga bahan baku.
Menghentikan MBG itu hanya akan membuat kelas menengah di perkotaan senang.
Tapi akan bikin marah kelas bawah dan orang2 kampung yang pekerjaannya bergantung dari MBG.
Makanya itu, kita semua ini udah dijebak secara politik oleh MBG.
Tidak akan ada politisi yang akan membatalkan MBG. Dijamin itu.
Guys dividen 4 bank besar indonesia udah keluar
dengan yiled masing masingnya:
BBCA = 4.16 %
BBRI = 8.8 %
BMRI = 9.05 %
BBNI = 7.8%
kita simulasikan masing2 nya kita taro 100 juta
berarti dividen yang didapat:
BBCA = 4.160.000
BBRI = 8.800.000
BMRI = 9.050.000
BBNI = 7.800.000
Asumsi diratakan dari dividen tahunan (realitas: dibayar lump sum setahun sekali):
BBCA = 346.667
BBRI= 733.333
BMRI= 754.167
BBNI = 650.000
Untuk dapat dividen Rp6 juta per bulan (Rp72 juta per tahun), hitung modal yang dialokasikan berdasarkan yield masing-masing bank dari asumsi sebelumnya (BBCA 4.16%, BBRI 8.8%, BMRI 9.05%, BBNI 7.8%). Rumus sederhana: Modal = Target Dividen Tahunan ÷ Yield (dalam desimal).
BBCA = 1.730.769.231
BBRI = 818.181.818
BMRI = 795.582.872
BBNI = 923.076.923
jadi kalo mau ada passive income senilai 6 juta
cukup punya saham BMRI senilai 800 juta
sudah bisa tercapai tuhh
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
@bardanslm Tmn kampus gue ortunya jg kerja di Caltex, jaman kuliah 17thn yg lalu dia blg gada duit, di ATM dia tinggal 5juta katanya, 5jt itu uang jajan gue 5bln anyiiinnggg