19 Juli 2003, Dirut PT Asaba Boedyharto Angsono ditembak mati saat akan olahraga pagi. Pengawalnya yang anggota Kopassus TNI AD juga tewas.
Pelakunya profesional: 4 anggota Marinir TNI AL. Mereka disewa oleh mantan menantu Boedyharto.
Pasukan elit TNI saling bunuh demi bayaran.
Serda Edy Siyep yang menjadi pengawal bos Asaba adalah anggota Sat-81/Gultor, unit penanggulangan teror Kopassus.
Pelakunya empat anggota Detasemen Intai Amfibi Marinir. Mereka adalah Letda Syam, Kopda Suud, Kopda Fidel, dan Pratu Subianto.
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto sampai ikut berkomentar terkait kasus yang melibatkan pasukan elit dari dua matra TNI tersebut.
"Itu betul-betul tak dapat kita toleransi, negara ini sudah mengeluarkan uang untuk mendidik, melatih mereka bukan untuk bekingi orang. Mereka dididik dan dilatih dengan uang rakyat untuk membela bangsa, jadi hal seperti ini sangat disesalkan dan saya tidak bisa diterima," kata Endriartono seperti dikutip Liputan6.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi TNI saat itu, bahwa anggotanya dapat disewa menjadi pengawal pribadi, bahkan menjadi pembunuh bayaran.
π· Tempo
Nangis baca kasus tapir dibunuh. Selama 10 thn kerja di konservasi, ga pernah aku nemu yg namanya konflik tapir.
Hewan ini ga ngerusak kebun orang. Ga makan ternak warga. Kalo ketemu manusia cenderung menghindar, gak agresif.
Tapirs are gentle & chill, but they killed him π