"Tapi Dok, istri saya ASI-nya sedikit. Makanya kami tambah sufor."
Dokter itu hela napas. "Pak, itu MITOS nomor 1 yg paling sering saya dengar."
"ASI bekerja dengan prinsip SUPPLY and DEMAND. Semakin sering disusui langsung,semakin banyak diproduksi."
"Kalau Bapak 'nambah sufor' supaya anak diem malam2, bayi nyusu dari botol, bukan dari payudara. Otak ibu baca: 'Oh, gak butuh ASI banyak.' Produksi TURUN."
"Jadi yg bikin ASI sedikit BUKAN ibunya. Tapi SUFOR yg Bapak masukin."
Susu formula premium per bulan: Rp 700.000 - 1.200.000
ASI per bulan: Rp 0
Susu formula: 0 sel imun hidup. 0 antibodi.
ASI: 1 juta sel imun per MILILITER.
Anak sufor, rata-rata sakit 6-8× per tahun (diare, ISPA).
Anak ASI eksklusif, rata-rata sakit 2-3× per tahun.
Biaya berobat per episode sakit: Rp 150.000 - 500.000 × 6 kali = Rp 900.000 - 3.000.000/tahun EKSTRA.
"Susu yang 'mahal' itu justru bikin Bapak KELUAR UANG LEBIH BANYAK buat dokter."
Apa "resep" utama Habibie dalam menjinakkan dolar AS dan menaikkan nilai tukar rupiah secara drastis? Selain reformasi kelembagaan yg jitu, Habibie menekan egonya. Ketika jadi Presiden, banyak pihak yg khawatir Habibie akan “menghidupkan” “baby”-nya, IPTN. Ia mengaku menangis melihat ribuan “anak-anak intelektual-“nya di-PHK dan N-250 dihentikan, tapi ia mengaku Ikhlas “baby” yg ia timang2 sejak lama “dikorbankan” agar--pake bahasa Habibie-- "Indonesia tidak terjatuh dalam krisis ekonomi yg lebih dalam, kelaparan massal dan perang saudara."
Ini gratis ya.
Ini namanya perpustakaan digital, gue naro berbagai topik di sini.
Gue ga akan minta balasan apa-apa, kalau mau donasi, mau balas dengan berbicara baik, dan lain-lain is up to you guys.
Ambil aja semua bentuk digital dan kontributor mostly gue sendiri, sisanya donasi dengan consent.
https://t.co/gya9i44Q9j
Penting nih buat mahasiswa kelas Hukum Internasional:
Posisi Hukum Iran terkait Selat Hormuz
(diringkas dari @RezaNasri1)
Posisi hukum Iran terkait Selat Hormuz dibangun di atas beberapa dasar kuat dalam hukum internasional.
Pertama, Iran tidak terikat pada rezim transit passage dalam UNCLOS karena tidak meratifikasinya dan secara konsisten menolak ketentuan tersebut. Bahkan jika dianggap sebagai hukum kebiasaan, Iran tetap tidak terikat karena sikap “penolak gigih”.
Kedua, karena tidak ada rezim universal yang mengikat, maka berlaku kembali prinsip lama seperti Konvensi Jenewa 1958. Dalam kerangka ini, hak lintas hanya berlaku jika bersifat “damai”, dan dapat dibatasi jika mengancam keamanan negara pantai, termasuk aktivitas militer atau intelijen.
Ketiga, secara geografis, Selat Hormuz berada dalam laut teritorial Iran dan Oman, sehingga tetap berada di bawah kedaulatan negara pantai, bukan wilayah bebas sepenuhnya.
Keempat, bahkan dalam kerangka UNCLOS, ada alternatif rezim “lintas damai” yang lebih ketat, yang memungkinkan negara pantai mencegah aktivitas yang tidak damai.
Kelima, dalam konteks konflik, hukum perang dan Piagam PBB memberi Iran hak membela diri. Karena itu, kapal atau pesawat yang terkait operasi militer tidak otomatis berhak atas kebebasan navigasi.
Kesimpulannya, Iran berargumen bahwa pembatasan pelayaran di Selat Hormuz adalah sah secara hukum, terutama untuk menjaga keamanan dan mencegah penggunaan wilayahnya untuk tindakan permusuhan. Selain itu, sikap negara lain—termasuk Amerika Serikat yang juga tidak meratifikasi UNCLOS—melemahkan klaim bahwa posisi Iran menyimpang.
Daftar omongan Trump selama sebulan lebih perang:
3 Mar: Kita udah menang, bosque
7 Mar: Iran udah lewat, kita bantai.
9 Mar: Eh, gaslah serang Iran terus
Perangnya dikit lagi kelar nih, mantap bener dah.
12 Mar: Ya sebenernya kita udah menang sih, tapi ya... belum menang banget juga.
13 Mar: Pokoknya kita menang titik
14 Mar: Tolongin kita dong, please...
15 Mar: Awas ya kalau nggak dibantuin, gue tandain lu pada
16 Mar: Halah, sebenernya nggak butuh bantuan juga sih.
Gue cuma ngetes doang siapa yang dengerin.
Tapi kalau NATO nggak gerak, bakal kena batunya lu
17 Mar: Gak butuh dan gak mau dibantuin NATO
Gue bisa kok cabut dari NATO tanpa izin DPR.
18 Mar: Woi sekutu, bantuin dong buka lagi Selat Hormuz.
19 Mar: Sekutu AS jangan lemes napa
Gerak dong, bantuin buka Selat Hormuz.
20 Mar: NATO mah penakut semua.
21 Mar: Bodo amat, kita nggak pake itu juga.
Nggak usah dibuka lah itu selat hormuz
22 Mar: Ini peringatan terakhir ya, gue kasih Iran 48 jam. Iran tamat
23 Mar: Yaudah deh, kita kasih mereka waktu tambahan.
24 Mar: Perang bentar lagi kelar kok.
25 Mar: Sabar, masih nego nih.
26 Mar: Iran lagi ngemis damai tuh. Mereka ngasih 'hadiah' ke kita.
Jadi yaudah, kita kasih waktu lagi.
27 Mar: Ngobrol sama Iran lancar jaya nih.
28 Mar: Bentar lagi kelar kok perangnya.
29 Mar: Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin juga nggak. Gimana ntar aja.
30 Mar: Buka selatnya sekarang! Kalau nggak, semua kilang minyak sama infrastruktur energi lu gue ratain
31 Mar: Gak butuh selatnya juga sih, minyak kita masih banyak. Urus aja sendiri sana, Inggris
1 Apr: Perang bakal beres dalam dua-tiga minggu lagi.
4 Apr: Iran punya waktu 48 jam, atau gue kirim neraka ke sana
5 Apr: Alhamdulillah
Buka woi selatnya, cepetan