Karena terlanjur mewakilkan seseorg sbagai simbol oposisi murni, supremasi 'akal sehat', dan corong 'mendungukan' pemrentah; kecewalah kita begitu dia masuk lingkaran. Kita merasa: kehilangan tokoh konfrontatif (yg selalu menempatkan Pemrentah vs Kita), dia tidak konsisten, dan kita disakiti hatinya.
Air terasa menyejukkan apapun bentuknya. Padahal api tidak kalah pentingnya.
Ketika seorang Pemberani tetiba diam, kita kirim semua hujat dan serapah ke pada-nya. Lupa bhw kita adalah orang² yg sama, yg membaiat dia jadi si 'pemberani', dulu.
Tapi ketika seorang pendiam tetap diam, dimanapun dia ber-ada dan jadi apa; kita sungkan, kita gak enak, karena norma dan nilai tidak mengijinkan. Bahkan mungkin diam² kita pindahkan status 'pemberani' kepada mereka sang pendiam dan bijaksana.
Dari dulu Nahi Munkar lebih tidak populer dibandingkan Amar Ma'ruf. Padahal peran mereka sama. Satu tdk lebih unggul dari lainnya. Tapi amar ma'ruf terasa lebih bermartabat, dan aman berada di mana saja.
Bukan, ini bukan mempertanyakan. Saya tidak akan bertanya kenapa kita bebas menentukan status orang semau kita.
Tidak.
Karena saya paham betul kita ini tidak adil sejak dalam hati, hanya kakehan cocot, merasa paling, dan pengecut.