@KucengTerbanggg SD 6 Tahun (1990-1997)
Uang Saku Rp 100 - Rp 200
Naik Angkot pas berangkat:
Tarif Pelajar Rp 50,-
Tarif Umum Rp 100,-
Pulang : Jalan Kaki ๐
Jajan kripยฒ harga msh Rp 25,- spt dlm gambar ๐
Jangan Normalisasi Ciuman atas Nama Barokah
Belakangan ini viral video seorang Gus yang tampak terlalu akrab menciumi anak-anak kecil, bahkan yang masih berusia di bawah tiga tahun. Dalam salah satu rekaman, ia membujuk seorang anak yang menolak dicium agar mau dicium. Di video lain, ia menciumi pipi seorang balita dengan cara yang tampak seperti โsuckingโ.
Banyak yang menertawakannya, menyebutnya sebagai bentuk โgemasโ atau โbarokahโ. Namun perilaku seperti ini tidak boleh dinormalisasi โ ini justru menjadi contoh penting dalam pendidikan tentang perlindungan anak dari pelecehan dan pedofilia terselubung.
Untuk para orang tua dan pendidik, mari menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat: batas tubuh anak adalah suci dan harus dihormati. Tidak ada alasan religius, sosial, atau budaya yang membenarkan orang dewasa mencium, memeluk, atau menyentuh anak tanpa kepantasan, apalagi dengan intensitas yang mengganggu. Tugas kita bukan hanya melindungi, tapi juga mendidik anak agar berani berkata โtidakโ ketika merasa tidak nyamanโbahkan kepada figur yang dihormati.
Menjaga kehormatan anak adalah tanggung jawab setiap orang tua, yang kelak pasti akan diperhitungkan di akhirat
Kepada tokoh publik seperti Gus yang viral, inilah saatnya berhenti dan bercermin. Tindakan menciumi anak kecil berulang kali bukan bentuk kasih sayang, tapi pelanggaran etika, adab, dan potensi pelecehan.
Dalam kajian psikologi, perilaku semacam itu bisa dikategorikan sebagai grooming behaviourโyakni upaya membangun kedekatan dengan anak untuk menormalisasi kontak fisik yang tidak pantas. Ini berbahaya, baik bagi anak maupun bagi masyarakat yang menonton dan menirunya.
Rasulullah dikenal penuh kasih terhadap anak-anak, namun beliau tidak pernah melampaui batas kesopanan. Kasih sayang beliau diwujudkan lewat doa, perhatian, dan sentuhan hati.
Anak-anak bukan objek kegemasan; mereka amanah yang harus dilindungi. Pendidikan perlindungan anak dimulai dari kesadaran kita sendiriโbahwa setiap bentuk pelecehan, sekecil apa pun, tidak boleh diberi ruang di rumah, sekolah, ataupun panggung keagamaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
TRANS7 MENAMPAR WAJAH SANTRI MENJELANG HARI SANTRI NASIONAL
Menjelang Hari Santri Nasional, @TRANS7 justru memberi kado pahit bagi dunia pesantren. Tayangan mereka melecehkan para kiaiโkhususnya Romo Kiai kami, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Beliau adalah sosok sepuh yang setiap hari masih mengajar dengan penuh kasih dan ketulusan. Dan saya yakin, beliau tidak pernah menyinggung Trans7, apalagi pemiliknya, Bapak Chairul Tanjung.
Namun apa yang dilakukan Trans7 bukan sekadar โsalah tayang.โ Ini penghinaan. Narasinya ngawur, dibacakan dengan gaya yang merendahkan, disertai visual dan caption yang secara sistematis membangun framing jahat terhadap para kiai. Saya tidak bisa tinggal diam. Saya tumbuh dalam tradisi kritik dan kebebasan berpendapat ala akademik Barat, tetapi yang dilakukan Trans7 bukan kebebasan pers โ ini serangan terencana terhadap kehormatan pesantren.
Saya menuntut langkah tegas: Produser acara harus dipecat. Pembaca naskah dipecat. Trans7 wajib menayangkan program tandingan yang menampilkan konsep barokah, adab, disiplin, dan pendidikan karakter ala pesantren agar publik memperoleh gambaran yang berimbang.
Lihatlah, rumah KH Anwar Manshur begitu sederhanaโjauh dari kemewahan. Tapi Trans7 justru membingkai seolah beliau hidup dari amplop dan kemewahan. Itu fitnah! Itu penghinaan terhadap orang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Saya menangis menonton tayangan itu.
Bukan karena Kiai kami diserang, tapi karena media sebesar Trans7 tega memproduksi penghinaan semacam ini di bulan ketika bangsa ini semestinya menghormati para santri.
Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia jangan diam. Ini ujian bagi kredibilitas lembaga Anda. Pak Chairul Tanjung, benahi manajemen Trans7 Anda. Dan kepada para pengiklan, saya menyerukan: jangan pasang iklan di Trans7 sampai lembaga ini bertanggung jawab penuh.
Permintaan maaf atau sowan belaka tidak cukup. Luka yang mereka goreskan terlalu dalam. Ini bukan hanya soal satu Kiai โ ini soal kehormatan seluruh dunia pesantren.
Salam penuh duka dan amarah,
Nadirsyah Hosen
Palestina (InsyaAllah) Memasuki Era Baru
Saat ini sedang terjadi peristiwa peristiwa penting di Sharam al-Shaikh, Mesir. Yaitu, Konferensi Perdamaian (Qimmat al-Salam; Peace Summit) 2025 yg digagas dan difasilitasi oleh Presiden Trump dan beberapa negara Arab, Muslim, dan Eropa. Presiden Prabowo ikut dalam konferensi penting ini. Dalam press conference tiga hari lalu di Gedung Putih, Trump menyebut peran Indonesia secara khusus dalam negosiasi perdamaian yg berlangsung dg cepat dalam seminggu terakhir ini. Trump saat itu mengatakan, "Indonesia is doing great" dan ia ulang dia kali.
Beberapa jam sebelumnya, terjadi pertukaran tawanan antara Israel dan Hamas, suatu perkembangan penting yg disambut dg penuh kegembiraan oleh warga Gaza dan Israel sekaligus.
Dalam seminggu terakhir ini sejumlah perkembangan berlangsung begitu cepat: perang Gaza berhenti, tawanan perang dari dua belah pihak dibebaskan, sementara itu bantuan kemanusiaan akan segera diizinkan masuk ke Gaza. Perkembangan2 cepat ini berkat "diplomasi yg un-orthodox" dari Presiden Trump. Anda boleh tidak suka pada sosok satu ini. Tetapi dia telah menggerakkan perubahan penting di Palestina. Setelah dua terakhir ini prospek solusi dua negara seperti nampak mustahil karena "petualangan gila" dari Netanyahu, kini prospek itu hidup kembali. Harapan solusi dua negara akan berhasil mulai membayang kembali di ufuk Palestina.
Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat โsudah takdirโ, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya โmusibahโ, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
ุงููููููู ูู ุงุฑูููุนู ุฏูุฑูุฌูุงุชูููู ู ููู ุงููุฌููููุงููุ ููุงุฌูุนููู ุฏูู ูุงุกูููู ู ุดูููุงุฏูุฉู ุนูููู ุทูููุฑู ูููููุงุชูููู ูุ ููุนููููู ูููุง ุฃููู ููุจููููู ุจูุงููุนูููู ู ููุจููู ุฃููู ููุจููููู ุจูุงูุทูููุจู ููุงููุฅูุณูู ูุงููุชู.
ุฑูุจููููุงุ ููุง ุชูุฌูุนููู ุบูููููุชูููุง ุณูุจูุจูุง ููู ููููุงูู ุงููุฃูุจูุฑูุงุฑูุ ููููุง ุชูููุชูุจูููุง ู ููู ุงููู ูููุตููุฑูููู ุงูููุฐูููู ูููููููููู โููุฏูุฑู ุงููููููโ ูููููููุจูููู ู ุชูุนูููู ู ุฃููููููู ู ููุฑููุทููุง.
ุงููููููู ูู ุงุฌูุนููู ุฏูู ููุนู ุฃูู ููููุงุชูููู ู ู ูููุชูุงุญูุง ููุฑูุญูู ูุชูููุ ููุขููุงุชู ุขุจูุงุฆูููู ู ุณููููู ูุง ููุฑูุชูููููู ุจููู ุฅูููู ุฌููููุงุชู ุงููููุนููู ู.
โYa Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.โ
Tabik,
Nadirsyah Hosen
@MariaAlkaff_ โKetahuilah, bahwa kebencian dan dengki adalah penyakit hati yang paling berbahaya, karena ia menghapus amal kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.โ
(Ihyaโ Ulumiddin, Kitab Dzamm al-Hasad)
Gus Yahya berdialog dengan Iman Shadi, Presiden Australian National Imam Council.
ANIC adalah badan sentral yang mewakili para Imam, ulama, dan pemuka agama Muslim di Australia, dengan ratusan anggota dari seluruh negara bagian.
Pertemuan ini adalah ruang guna memperkuat harmoni umat dan membangun jembatan kerukunan lintas benua di tengah krisis kemanusiaan global.
Imam Al-Ghazali menawarkan tips bagi seseorang yang menyadari perbuatan maksiatnya. Ia memberikan jalan kepada orang sering kali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari maksiat sehingga ia terus mengulang perbuatan maksiatnya.
- A Thread
#NUOnline
Dakwah, Kitab Suci, dan Tantangan Adab di Era Konfrontasi
Oleh: Nadirsyah Hosen
Beberapa waktu lalu, saya menulis sebuah refleksi tentang metode dakwah Rasulullah yang mengedepankan kelembutan, hikmah, dan penghormatan dalam berdialog dengan umat lain. Tulisan tersebut menuai berbagai reaksi. Sebagian menganggap saya โmelembekkanโ perjuangan tauhid. Ada yang menyindir bahwa saya menggambarkan sosok seperti Buddha, bukan Nabi Muhammad yang revolusioner. Bahkan, sebagian merasa saya sedang menyudutkan gaya dakwah apologetik-konfrontatif seperti yang dipopulerkan oleh Dr. Zakir Naik.
Izinkan saya menjawab dengan jernih untuk meluruskan cara pandang kita dalam memahami warisan dakwah Nabi: warisan yang bukan hanya memuat isi kebenaran, tetapi juga cara dan adab menyampaikannya.
Konteks Sejarah: Ketika Polemik Lahir dari Ketegangan, Bukan Koeksistensi
Sebagian pembela gaya dakwah konfrontatif hari ini sering merujuk pada karya-karya ulama klasik yang menanggapi akidah agama lainโseperti al-Jawฤb al-แนขaแธฅฤซแธฅ karya Ibn Taymiyyah, al-Radd al-Jamฤซl yang dinisbatkan kepada al-Ghazฤlฤซ, Iแบhฤr al-แธคaqq oleh Rahmatullah al-Hindi, atau risalah al-Kindฤซ yang penuh daya pukau intelektual. Tapi mari kita tarik napas sejenak dan bertanya: dalam konteks seperti apa karya-karya besar itu ditulis?
Sebagian besar dari teks tersebut lahir bukan dalam suasana damai dan koeksistensi, tapi justru dalam kondisi ketegangan geopolitik dan pertempuran ideologis. Ibn Taymiyyah menulis al-Jawฤb al-แนขaแธฅฤซแธฅ sebagai respons terhadap provokasi misionaris Kristen di wilayah Syam pasca Perang Salibโsebuah zaman di mana agama menjadi bagian dari strategi ekspansi militer. Rahmatullah al-Hindi menyusun Iแบhฤr al-แธคaqq di tengah tekanan Kristenisasi kolonial Inggris di India, sebagai upaya membela aqidah umat Islam yang terjajah. Bahkan risalah al-Kindฤซ, yang sering dikutip sebagai contoh literatur interfaith, ditulis dalam konteks kekhalifahan Abbasiyah yang dominan secara politik dan militer terhadap komunitas Nasrani Timur.
Artinya: karya-karya itu adalah senjata peradaban dalam medan perang ideologiโbukan undangan berdialog di zaman damai. Maka ketika kita membaca dan mengutipnya hari ini, kita tidak bisa menyalinnya mentah-mentah tanpa menyadari bahwa kita hidup di era yang sangat berbeda.
Di masa sekarang, kita tidak sedang berhadapan dengan misi kolonial atau krusade global. Kita hidup dalam masyarakat majemuk yang menjunjung undang-undang kebebasan beragama, di mana gereja dan masjid berdiri berdampingan, dan warga negara dari berbagai iman bekerja, belajar, dan berkeluarga dalam sistem sipil yang sama.
Menggunakan gaya polemik dari era konflik untuk berdakwah di era damaiโtanpa pemilahan konteksโadalah seperti menggunakan bahasa pertempuran dalam ruang tamu silaturahim. Bukan hanya tak sopan, tapi juga bisa merusak ikatan yang selama ini dengan susah payah dibangun.
Tentang Scriptural Literalism dan Standar Ganda
Yang saya soroti adalah praktik scriptural literalismโyaitu mengambil potongan ayat dari kitab suci agama lain tanpa memahami konteks sejarah, bahasa asli, atau tradisi tafsirnya, lalu menyodorkannya sebagai โbukti kekeliruanโ di hadapan publik yang tidak memahami konteksnya. Ini bukan hujjah yang elegan, ini hanya retorika yang memburu efek.
Jika metode ini kita anggap sah, maka seharusnya kita juga siap jika kitab suci kita diperlakukan serupa. Tapi kenyataannya, ketika seorang non-Muslim mengutip satu ayat Al-Qurโan secara literal dan menyebutnya bertentangan, kita buru-buru menyebutnya penistaan agama. Padahal itu metode yang sama: potong teks, abaikan konteks, dan olah secara satu arah.
Ini adalah standar ganda yang merusak etika berdakwah. Kita bebas menafsirkan kitab mereka, tapi tak mengizinkan mereka menyoal ayat kita.